MUHAMAD BUSTHOMI, Gadingrejo, Radar Bromo
BUTUH waktu sepekan bagi Mutiara Sholawati untuk mengenali dasar bahasa isyarat. Sebelumnya, belia yang akrab disapa Ola tersebut sama sekali tak paham sarana komunikasi bagi kalangan tuna rungu wicara. Namun ia memang harus mulai mempelajarinya.
Bagaimana dia bisa merancang aplikasi bagi anak berkebutuhan khusus, bila dia sendiri tak mengenali bahasa yang mereka gunakan. Karena itu, Ola mempelajari satu per satu huruf abjad yang diperagakan menggunakan jari jemari.
Ia mulai mengumpulkan referensi. Termasuk guru-guru yang berlatar pendidikan luar biasa, juga banyak membantunya. Setelah benar-benar paham, Ola mulai mengumpulkan data-data. Sebuah laptop di depannya, berisi hampir 500 data. Semua berupa data citra.
“Data citra yang saya kumpulkan ini menunjukkan bagaimana memperagakan huruf-huruf abjad bagi anak berkebutuhan khusus,” kata Ola saat ditemui di rumahnya, Kelurahan Sebani, Kecamatan Gadingrejo, Kota Pasuruan, Senin (21/3).
Pengambilan citra melibatkan lima orang. Selain Ola sendiri, ada tiga anak berkebutuhan khusus serta guru di sekolah luar biasa. Semuanya memperagakan 26 huruf abjad. Karena data citra memang sangat diperlukan dalam aplikasi buatannya. Semakin banyak data citra, maka semakin tinggi tingkat akurasi aplikasi tersebut.
“Karena sekecil apapun, setiap orang kan pasti ada perbedaan dalam memperagakan bahasa isyarat,” kata perempuan kelahiran 19 Mei itu.
Kendati demikian, peragaan huruf abjad bagi anak berkebutuhan khusus sebenarnya sudah ada standarnya oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Yakni Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) yang biasa dipakai untuk berkomunikasi sehari-hari. Serta Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI) yang lebih banyak diterapkan untuk pembelajaran di sekolah luar biasa.
“Karena aplikasi ini khusus pembelajaran, saya pakai standar SIBI,” ungkap Ola.
Menurutnya, pengenalan huruf abjad di sekolah luar biasa selama ini masih menerapkan metode konvensional. Anak-anak belajar dengan melihat bagaimana gurunya memperagakan huruf-huruf abjad. Lantaran itu, Ola berinisiatif membuat pola pembelajaran di sekolah luar biasa lebih mudah.
“Terutama bagi anak-anak usia dini yang memang baru diperkenalkan dengan huruf-huruf abjad,” kata alumni ITN Malang tersebut.
Dalam aplikasi berbasis website itu, Ola menggunakan algoritma Convolutional Neural Network (CNN). Karena itu, ia memerlukan kumpulan data berupa citra. Karena dengan teknologi kecerdasan buatan, kumpulan data itu yang dipakai untuk mengenali inputan data-data baru melalui aplikasi.
“Karena aplikasi ini memang khusus pembelajaran. Jadi bisa terhubung dengan webcam untuk proses mengenai peragaan huruf abjad,” katanya.
Setiap pengguna lebih dulu mendapat bekal berupa contoh-contoh peragaan huruf abjad. Mereka bisa mempelajari bagaimana huruf-huruf abjad diperagakan dalam bahasa isyarat. Baru setelah itu pengguna bisa langsung memperagakannya di depan kamera.
Data yang masuk melalui tangkapan kamera akan diklasifikasi secepat mungkin. Sistem yang akan bekerja untuk membedakan peragaan huruf abjad satu sama lain. Nah, gerakan yang diperagakan menjadi inputan ke sistem. Lalu disandingkan dengan kumpulan data yang ada. Layar kamera juga akan langsung menampilkan notifikasi berupa huruf yang diperagakan. Termasuk seberapa tepat pengguna memperagakannya.
“Jadi ada tingkat akurasinya, ini yang menjadi poin penilaian selama pembelajaran,” kata anak kedua dari pasangan Bima Sukatim dan Nur Hariyani tersebut.
“Namun karena berbasis website memang masih perlu resource tinggi, termasuk kebutuhan device juga banyak. Sekarang saya tengah kembangkan supaya lebih kompatibel di device lain seperti android,” kata Ola.
Namun Ola mengklaim pembelajaran dengan aplikasi tersebut lebih efektif. Murid berkebutuhan khusus bisa lebih cepat mengenali peragaan huruf abjad dalam bahasa isyarat. Biasanya, dengan pembelajaran konvensional, perlu waktu sekitar sepekan. “Paling tidak dengan teknologi bisa dua hari lebih cepat,” ujarnya.
Sementara itu, Bima memang sejak awal memotivasi Ola agar bisa memberi manfaat kepada banyak orang. Dia menekankan ketiga anaknya untuk belajar sungguh-sungguh. “Kalau memang niatnya untuk belajar, sejauh mana pun pendidikannya saya jamin. Tapi kalau sekedar kuliah buat gaya-gayaan, mending kerja pabrik. Itu yang selalu saya tekankan agar anak-anak termotivasi,” ungkapnya. (fun) Editor : Jawanto Arifin