MUKHAMAD ROSYIDI, Gondangwetan, Radar Bromo
"Saya sudah jatuh cinta pada buah ini. Rasanya manis dan di Pasuruan kabarnya belum ada yang budi daya selain saya," terang Sudiadi menceritakan kecintaannya pada jambu kristal.
Sudiadi memulai budi daya jambu kristal itu pada 2016. Awalnya, dia menyiapkan bisnis pertanian sebelum tiba masa pensiun dari perkebunan sawit yang ia geluti selama puluhan tahun. Siapa sangka, bisnis tersebut membawanya ke arah kesuksesan.
Saat ini, setiap bulannya dia mampu menghasilkan omzet puluhan juta rupiah. Bahkan, pernah dalam sebulan Sudiadi mendapat omzet Rp 100 juta lebih.
Maklum, harga jual buah dengan warna hijau segar itu memang tinggi dibanding buah lain. Per kilogram mencapai Rp 20 ribu–Rp 25 ribu.
"Satu kilogram itu laku Rp 20 ribu sampai Rp 25 ribu. Memang harganya cukup mahal dibanding jambu yang lain," katanya saat berbincang dengan Jawa Pos Radar Bromo.
Mulanya lahan yang ditanami jambu kristal hanya 0,7 hektare. Ayah tiga anak itu tidak menanam benih dari biji. Tetapi, langsung membeli bibit hasil stek. Sehingga tanaman jambunya tidak membutuhkan waktu lama berbuah.
Benar saja, pada akhir 2017, jambu yang ditanam mulai bisa dipanen. Saat itu, kebunnya menghasilkan cuan Rp 30 juta - Rp 40 juta sekali panen atau sebulan.
Mulai saat itu, setiap bulan Sudiadi terus mendapat omzet tetap. Angkanya tidak luput dari Rp 30 juta – Rp 40 juta sebulan.
Hingga empat bulan berlalu, pendapatannya dari hasil panen bertambah. Mencapai Rp 40 juta - Rp 52 juta dalam satu bulan. Dalam sebulan itu, hasil panennya mencapai 10 ton.
"Kalau ditotal ada 940 pohon jambu kristal. Awalnya 640 pohon. Kemudian saya tambah lagi 300 pohon" terangnya.
Rata-rata, satu pohon bisa menghasilkan 100-150 buah. Per hari, dia harus mengirim rata-rata 2-3 kuintal jambu ke Sidoarjo, Malang, dan Pasuruan.
Menurutnya, jambu kristal miliknya memiliki keistimewaan tersendiri. Sebab, sangat manis dan krispi alias renyah. Hal itu disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya, tekstur tanah yang sangat cocok hingga faktor pemupukan.
"Kebetulan di Kersikan ini tekstur tanahnya berpasir. Jadi membuat jambunya krispi dan manis. Selain itu, saya juga menjaga pemupukan teratur. Kalau hujan begini, dua minggu sekali. Kalau kemarau, minimal sebulan sekali," ucapnya.
Untuk menjaga istimewaan jambu kristal miliknya, dia menjaga cara pembungkusan buah itu. Total ada sembilan warga sekitar yang ia berdayakan khusus untuk membungkus jambu dengan kertas dan plastik.
Kedua bahan tersebut sangat penting. Apabila hanya dibungkus plastik tanpa kertas, maka warna jambu bisa berubah menjadi kecokelatan.
"Kalau dibungkus kertas dulu, maka buahnya tetap berwarna hijau segar. Tapi, kalau hanya diplastikin saja, warna buahnya bisa jadi cokelat. Efeknya ya pembeli gak mau," katanya sembari menunjukan buah yang sudah matang dan siap dipetik.
Meski demikian, pandemi Covid-19 sempat memengaruhi pendapatannya. Jika sebulan biasanya keuntungan bersih mencapai Rp 50 juta, kini hanya Rp 10 juta. Penyebabnya, pandemi membuat segalanya menurun. Terutama daya beli masyarakat. Juga harga jual jambu kristal.
"Alhamdulillah semua konsumen saya percaya bahwa jambu saya masih yang terbaik. Buktinya di saat harganya ancur-ancuran sampai Rp 6 ribu, saya masih Rp 15 ribu per kilogram," ucapnya
Meskipun begitu, dari hasil budi daya jambu tersebut, ia sudah bisa membangun lokasi pertanian. Yang mana, nantinya bakal dijadikan tempat wisata edukasi. Juga ia mampu membeli lahan tambahan seluas setengah hektare untuk kembali ditanami jambu kristal.
"Ada lagi satu di Kejayan. Ini saya baru mulai. Semoga nanti bisa lancar," terangnya. (hn) Editor : Jawanto Arifin