Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Jam’iyyah Ruqyah Bayuangga Probolinggo; Aktif Berdakwah Lewat Ruqyah

Jawanto Arifin • Rabu, 16 Maret 2022 | 19:42 WIB
RUTIN: Jam’iyyah Ruqyah Bayuangga Kota Probolinggo saat menggelar rukiah di Ponpes An Nur, Sumbertaman, Kecamatan Wonoasih, Kota Probolinggo, Minggu (14/3). (Foto: Fahrizal Firmani/Jawa Pos Radar Bromo)
RUTIN: Jam’iyyah Ruqyah Bayuangga Kota Probolinggo saat menggelar rukiah di Ponpes An Nur, Sumbertaman, Kecamatan Wonoasih, Kota Probolinggo, Minggu (14/3). (Foto: Fahrizal Firmani/Jawa Pos Radar Bromo)
Melakukan syiar Islam tidak melulu dilakukan melalui dakwah satu arah. Syiar bisa dilakukan dengan banyak cara. Salah satunya lewat rukiah seperti yang dilakukan Jam’iyyah Ruqyah Bayuangga Kota Probolinggo. Kelompok ini bahkan termasuk perintis praktisi rukiah di Nusantara.

FAHRIZAL FIRMANI, Wonoasih, Radar Bromo

BEBERAPA laki-laki dan perempuan bersila di atas tikar yang digelar di lapangan Ponpes An Nur, Jalan Sunan Giri, Kelurahan Sumber Taman, Kecamatan Wonoasih, Kota Probolinggo, Minggu (14/3). Dengan khusyuk, mereka mendengarkan arahan praktisi rukiah yang berdiri di atas panggung.

Mereka membaca sejumlat ayat dan surat dalam Alquran bersama-sama. Ayat dan surat itu ada yang dibaca sekali. Ada pula yang dibaca berulang kali. Usai membacanya, peserta rukiah lalu meniup gelas air mineral yang ada di tangan masing-masing sebelum meminumnya.

“Ini salah satu metode rukiah menggunakan air asma. Usai dibacakan ayat rukiah seperti ayat Kursi, maka minuman itu ditiup dan dihirup. Lalu baru diminum,” ungkap Ustad Husein, ketua Jam’iyyah Ruqyah Bayuangga.

Jam’iyyah Ruqyah Bayuangga termasuk perintis Jam’iyyah Ruqyah Aswaja di Indonesia, di bawah lembaga dakwah PB NU. Organisasi ini dibentuk pada 2018 bersamaan dengan pembentukan lembaga serupa di empat daerah lain. Yakni, Kabupaten Jombang, Sidoarjo, Pasuruan, dan Kabupaten Probolinggo.

“Kota Probolinggo termasuk yang pertama pembentukannya. Barulah pada 2019, dibentuk Jam’iyyah Ruqyah di seluruh Indonesia,” ungkapnya.

Di Kota Probolinggo sendiri, pihaknya tidak kesulitan mengenalkan Jam’iyyah Ruqyah Bayuangga. Sebab, struktur NU dari tingkat ranting sudah jalan. Kegiatan rukiah pun aktif dilakukan sejak 2018 dengan didahului perekrutan untuk praktisi rukiah.



Untuk bisa menjadi praktisi rukiah, mereka harus aktif sebagai warga NU yang ditunjukkan dengan kartu tanda anggota NU. Jika syarat ini terpenuhi, selanjutnya mereka harus mengikuti pelatihan yang berupa 70 persen praktik dan 30 persen materi.

Ada kriteria yang harus dipenuhi agar mereka bisa lulus. Mereka dinyatakan lulus jika mendapatkan nilai A yang dinilai Gus Alama Alauddin As Shidiqi sebagai pimpinan Aswaja Center Kota Probolinggo. Jika mereka mendapatkan nilai B, maka harus melakukan rukiah mandiri dengan mengamalkan amalan yang diberikan selama 7-21 hari.

“Rata-rata memang sudah punya dasar dan tinggal diasah saja. Kalau belum kategori A berarti dianggap benteng rohani yang dimiliki belum kuat,” jelasnya.

Saat awal dibentuk, Jam’iyyah Ruqyah Probolinggo ini hanya memiliki tujuh anggota. Bahkan, saat pertama kali mengadakan rukiah masal di Ponpes Nurul Yakin, pihaknya harus mengundang praktisi rukiah dari luar Kota Probolinggo.

Dari sini, jumlah anggota Jam’iyyah Ruqyah Bayuangga terus berkembang. Sekarang, jumlah anggotanya mencapai 105 orang dengan anggota aktif sekitar 55 orang. Bahkan, Jam’iyyah Ruqyah Bayuangga ini sempat diinstruksikan oleh lembaga dakwah NU untuk ikut kegiatan show off race force di Lampung Timur saat acara Muktamar PB NU.

Ada 7 tibu praktisi supranatural dari seluruh Kota/Kabupaten Indonesia yang dilibatkan dalam rukiah masal itu. Dan, Kota Probolinggo termasuk daerah yang terbanyak menyumbang praktisi, yaitu 30 orang. Banyaknya praktisi rukiah yang dilibatkan ini membuat Jam’iyyah Ruqyah sempat hendak mendapat rekor MURI.

“Namun sayangnya urung karena lokasi muktamar yang jauh dan pengurus ponpes tidak jadi ke lokasi karena waktunya yang sempit,” jelasnya.



Menurutnya, praktisi rukiah hanya melakukan dakwah lewat rukiah saja. Terkait kesembuhan sepenuhnya dari Allah. Namun, selama ini peserta yang diminta rukiah tidak hanya penyakit nonmedis. Namun, penyakit medis juga. Seperti kenakalan remaja, kecanduan game online, ketergantungan obat-obatan, hingga stroke.

Usai mengikuti kegiatan rukiah, peserta diminta untuk rutin melakukan rukiah mandiri dengan membuat air asma. Ini diminum sebanyak dua kali dalam sehari usai salat Subuh dan Asar. Namun, yang terpenting mereka yang ingin sembuh itu harus ikhlas dan menghilangkan pikiran buruk.

Pihaknya menargetkan bisa melakukan kegiatan rukiah di 94 masjid yang tersebar di Kota Probolinggo. Namun, sejauh ini baru 40 persen yang sudah terlibat kegiatan ini. Seluruhnya adalah permintaan dari takmir masjid setempat yang dilakukan setiap bulan.

“Harapannya, jamaah sebelum sakit, sebaiknya rutin membaca dan mengamalkan Alquran. Sebab, mencegah lebih mudah daripada mengobati,” terangnya saat ditemui di tengah kegiatan rukiah. (hn) Editor : Jawanto Arifin
#jamaah ruqyah #rukiah probolinggo