Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Produksi Busana Muslim Warga Pasuruan Ini Tembus hingga Amerika

Jawanto Arifin • Selasa, 15 Maret 2022 | 21:17 WIB
PANTANG MENYERAH: Gustiono Cahyani menunjukkan salah satu busana muslim buatannya. (M Busthomi/Jawa Pos Radar Bromo)
PANTANG MENYERAH: Gustiono Cahyani menunjukkan salah satu busana muslim buatannya. (M Busthomi/Jawa Pos Radar Bromo)
Dulu, kita pasti sering mendengar adagium ‘banyak anak banyak rezeki.’ Tapi, jangan salah. Ternyata, banyak teman juga banyak rezeki. Gustiono Cahyani Awali sudah membuktikannya dengan menembus pasar Amerika melalui busana muslim yang diproduksinya.

MUHAMAD BUSTHOMI, Bugul Kidul, Radar Bromo

SEHARI-harinya, pria kelahiran 24 Maret itu lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah. Meski begitu, dia tak berdiam diri. Semua pekerjaannya memang dijalani di rumah.

Sesekali dia membuka laptop untuk menyelesaikan pekerjaannya. Di saat yang sama, dia juga mengontrol sejumlah karyawan yang tengah bekerja di bagian belakang rumahnya di Perumnas Bugul Kidul, Kota Pasuruan.

“Karena memang kerjaan saya sekarang bisa di-remote dari rumah. Jadi masih bisa di-handle di mana saja dan kapan saja,” kata Gusti yang kini bekerja di bagian bussiness development salah satu perusahaan asing tersebut.

Sembari bekerja untuk perusahaan, lelaki 40 tahun itu juga bisa mengawasi belasan karyawan yang sedang bekerja untuk usaha pribadinya. Apalagi di hari-hari menjelang Ramadan seperti sekarang. Produksi busana muslim digenjot untuk menyiapkan permintaan pasar saat Lebaran tiba.

Sejak awal tahun, aktivitas produksi mulai dikebut. Selama Ramadan tahun ini, dia harus menyiapkan sedikitnya enam ribu pieces busana muslim. Karena permintaan busana muslim memang meroket tajam ketika menjelang hari raya.

Di antara ribuan busana yang diproduksi, sekitar 70 persen dipasok untuk toko-toko busana. Kurang lebih ada 10 toko busana skala besar yang rutin dipasok dari rumah produksi milik Gusti. Semua tersebar di berbagai daerah di Indonesia.



“Sedangkan 30 persennya buat stok di toko kami sendiri, sebagian dijual online. Sekarang tinggal sedikit untuk menyiapkan stok Lebaran. Mungkin dua minggu lagi sudah selesai,” kata Gusti.

Sudah empat tahun terakhir Gusti membuka usaha produksi busana muslim. Dia merintis usaha tersebut sejak 2018. Dia merasa perlu menyiapkan hari tuanya agar tetap bisa hidup dengan nyaman.

“Karena kan beda dengan PNS ya. Sebagai karyawan, saya tentu nggak dapat pensiunan,” ungkap Gusti.

Tentu, usaha yang dilakoni mulai nol itu berkembang pelan-pelan. Tidak serta-merta bisa seperti sekarang. Gusti sendiri menyadari semua pekerjaan memerlukan proses panjang. Dan tentu menghabiskan waktu dan tenaga. Ia bercerita, usahanya dimulai dari menerima pesanan baju koko dari pondok-pondok pesantren.

“Kemudian saya belikan kain. Untuk penggarapannya dilempar ke penjahit,” kata alumni Politeknik Elektronika Negeri Surabaya itu.

Seiring berjalannya waktu, ia lalu mengembangkan usaha tersebut. Hingga saat ini, dia bisa mempekerjakan belasan karyawan. Semuanya dari kalangan milenial. Baik yang bekerja di bidang desain grafis, penjahit, hingga sablon.

“Tetapi, memang base on project ya. Seperti sekarang memang butuh banyak karena persiapan hari raya,” katanya.



Hingga saat ini dia memiliki dua unit usaha. Selain memproduksi busana muslim, ia juga mengembangkan usaha kaus custom. Termasuk dengan tema tentang Pasuruan.

Sebab, Gusti ingin mempromosikan kota tempat tinggalnya ke daerah lain. Makanya, kaus yang diproduksinya juga memuat gambar, maupun tulisan yang ikonik tentang Pasuruan.

“Nah, kalau kaus ini kan pasarnya lebih fleksibel, artinya bisa diproduksi kapan saja,” katanya.

Apalagi dia juga sudah punya jaringan toko baju di beberapa daerah. Sehingga pangsa pasarnya sudah pasti.

Gusti mengakui, keberhasilannya mencari pangsa pasar juga ditopang banyaknya teman. Banyak teman, banyak rezeki. Kalimat itulah yang pas bagi sosok Gusti dalam mengembangkan usahanya tersebut.

“Karena memang saya banyak dibantu oleh teman-teman dalam membuka pangsa pasar di daerah lain,” tuturnya.

Tak terkecuali untuk bisa menembus pangsa pasar mancanegara. Sebab, selama ini, Gusti juga mengirimkan busana muslim yang diproduksi hingga ke beberapa negara luar. Yang terdekat seperti Malaysia. Ada juga yang sampai dikirim ke Amerika.



“Semua juga berkat jaringan teman. Seperti yang di Amerika, kebetulan ada teman yang bekerja di sana,” kata Gusti.

Meski dia mengakui, pangsa pasar di negara Paman Sam itu tidak begitu tinggi. Namun, tetap ada saja warga muslim yang tinggal di sana. Mereka juga punya tradisi membeli busana baru ketika momen hari-hari besar. Seperti Maulid Nabi dan Hari Raya Idul Fitri.

“Jadi kan ada perkumpulan sesama warga muslim di sana. Mereka biasanya pesan juga ketika mau ada event seperti Maulid maupun hari raya,” katanya.

Tidak banyak memang. Karena busana yang dibeli hanya dipakai untuk segelintir warga muslim yang tinggal di sana. Biasanya, pesanan yang datang dari Amerika sekitar dua hingga tiga kodi. Namun, cukup rutin ketika menjelang hari-hari besar keagamaan.

“Pesanannya ya base on event saja, karena memang baju koko ini kan bukan daily ware,” ujarnya.

Kendati demikian, Gusti tetap bangga produk buatannya bisa sampai ke pasar mancanegara. Dari usahanya itu, omzet yang dikumpulkan bisa mencapai puluhan juta rupiah per bulan. Sedangkan keuntungan setelah dipangkas untuk membeli bahan dan membayar karyawan, sekitar Rp 10 juta.

“Karena memang tujuan saya untuk persiapan masa tua, jadi harus dimulai dari sekarang,” tandas penghobi traveling itu. (hn) Editor : Jawanto Arifin
#pengusaha pasuruan #busana muslim pasuruan