Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Puding Art, Teknik Menggambar dalam Puding

Jawanto Arifin • Senin, 14 Maret 2022 | 20:34 WIB
KREATIF: Yulia Dewi Surya Jaya menunjukkan puding art hasil karyanya. Ia hanya butuh waktu 15 menit untuk menggambar dalam puding dengan beragam motif. (Yulia Dewi Surya Jaya for Radar Bromo)
KREATIF: Yulia Dewi Surya Jaya menunjukkan puding art hasil karyanya. Ia hanya butuh waktu 15 menit untuk menggambar dalam puding dengan beragam motif. (Yulia Dewi Surya Jaya for Radar Bromo)
MENGGAMBAR dan memasak atau membuat kue, merupakan dua hal yang berbeda. Namun, Yulia Dewi Surya Jaya, dapat memadukan keduanya dengan apik. Lahirlah puding art dan puding lukis yang menarik.

Kemampuan Yulia Dewi Surya Jaya dalam menggambar tidak bisa diragukan. Bukan hanya di kanvas. Ia mampu menjadikan puding sebagai media menggambar atau melukis layaknya kanvas.

Yuli, begitu Yulia Dewi Surya Jaya biasa disapa-, berkreasi membuat lukisan atau gambar dengan media puding sejak 2015. Dengan keahliannya ini, ia mampu menarik perhatian kosumen. Pesanan pun terus berdatangan.

Photo
Photo
Sejumlah karya Yulia Dewi Surya Jaya, yang pernah dipesan konsumen. (Yulia Dewi Surya Jaya for Radar Bromo)

Ibu seorang anak ini mengaku suka menggambar sejak masih kecil. Bahkan, ketika lulus SMA berkeinginan melanjutkan ke jurusan seni. Namun, tidak mendapatkan restu dari orang tuanya.

Kala itu kedua orang tuanya menginginkan dirinya bekerja di kantor. Karenanya, Yuli kuliah di Universitas Surabaya (Ubaya) mengambil D-III Manajemen. Ternyata, selulus kuliah juga tidak ditakdirkan untuk menjadi orang kantoran.

Yuli memilih membuka usaha sendiri. Berjualan di salah satu Ruko Pahlawan di Kelurahan Kebonsari Wetan, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo. Perempuan yang kini berusia 48 tahun ini berdagang peralatan pancing dan layang-layang. “Karena saya suka menggambar, tak sedikit layangan yang saya gambar sendiri,” jelasnya.



Seiring berkembangnya teknologi, anak-anak banyak yang sudak tidak main layangan. Di antara mereka tak sedikit yang memilih bermain gadget. Karenanya, pada 2015, Yuli banting stir. Mencoba keberuntungan mengubah tokonya menjadi toko makanan dan kue.

Ternyata, Yuli tidak bisa meninggalkan keahlian menggambar. Dicarilah referensi untuk memadukan skill-nya menggambar dengan bisnis yang dijalankan. Kemudian, muncul ide untuk mempelajari puding art dan puding lukis.

“Di luar sana (luar negeri) puding art dan lukis sudah booming. Tapi, di Indonesia, khusunya di Kota Probolinggo, belum. Lantaran sejalan dengan kegemaran saya, saya rela merogoh kocek lebih dalam untuk belajar menggambar dengan kanvas puding atau jeli,” jelasnya.

Karena keahliannya, Yuli ketiban berkah. Ia sering diundang menjadi pemateri dengan membuka kelas masak. Puding art dan puding lukis hasil karyanya juga laris manis. Termasuk saat awal-awal muncul pandemi Covid-19 pada 2019-2020.

“Saat pandemi puding art dan lukis saya laris manis. Soalnya kan unik juga. Sehari bisa sampai 30 pesanan. Kewalahan sih, tapi karena senang, jadi lembur pun tak terasa,” ujarnya. Sebelumnya, hanya berkisar antara 10-15 pesanan per hari.

Motif yang digambar beragam. Mulai dari bunga, karakter animasi, dan gambar lainnya sesuai pesanan konsumen. “Motifnya diserahkan kepada saya, yang penting cantik. Tapi, mayoritas memilih motif bunga,” jelasnya.

Harganya beragam. Berkisar antara Rp 150 ribu sampai Rp 300 ribu. Tergantung tingkat kesulitannya.



Beragam Motif Hanya Butuh 15 Menit

Sabar dan telaten menjadi kunci dalam menggambar. Terlebih menggambar dengan media puding yang sangat mudah pecah. Namun, Yulia Dewi Surya Jaya, tak butuh waktu lama untuk membuat puding art atau puding lukis.

Dalam proses menggambar pada puding, Yuli mengaku hanya membutuhkan waktu 15 menit. Hal ini karena kebiasaan yang selama ini dijalani. “Sudah biasa menggambar dari kecil. Hanya menyesuaikan alat yang digunakan saja,” bebernya.

Yang membutuhkan cukup waktu lama justru pembuatan puding sebagai media menggambar. Butuh waktu antara 2-3 jam. Menunggu puding benar-benar padat. Jika tidak padat, saat dilukis atau disuntik, akan mudah pecah. “Puding yang sudah dibuat untuk kanvas dimasukkan kulkas biar padat. Antara 2-3 jam baru bisa digambar,” ujarnya.

Ada dua metode dalam menggambar dengan media puding. Puding art menggunakan metode suntik. Sedangkan, puding lukis digunakan metode lukis seperti lukisan umumnya. Bahan dan pewarna yang digunakan dipastikan aman untuk dikonsumsi. Karena, semuanya memang berasal dari bahan makanan.

“Untuk membuat jelly art (puding art) dibutuhkan alat-alat khusus. Seperti alat suntik dan pisau khusus jelly art,” katanya.

Alat-alat tersebut dapat membentuk berbagai motif yang diinginkan. Setiap pisau dapat memberikan motif yang berbeda. Begitu juga dengan alat suntik. “Ketika menyuntikkan dengan cara dan arah yang berbeda, akan menghasilkan motif yang berbeda-beda pula,” jelasnya.

Alat suntik yang digunakan dalam jelly art ada dua jenis. Alat suntik 10 mililiter dan 5 mililiter. Alat suntik 10 mililiter biasa digunakan untuk membuat kelopak bunga dengan beragam bentuk.



Tanpa bantuan pisau, kelopak bunga dapat dibentuk dengan cara menggeser jarumnya di titik yang sama. Lalu, cairan disemprotkan untuk mengisi ruang kelopak. Berbeda dengan alat suntik 5 mililter yang volumenya lebih kecil. Biasanya digunakan untuk membuat putik atau rerumputan.

Pisau atau jelly art tools berjumlah delapan buah. Masing-masing pisau memiliki dua mata pisau yang kegunaannya berbeda. Ada yang digunakan untuk membuat sayap kupu-kupu, kelopak bunga lili, kelopak bunga dahlia, sampai pisau khusus untuk membuat daun. Sehingga, mudah dikreasikan sesusia selera. (rpd/rud) Editor : Jawanto Arifin
#hobi #puding art