Warga menyebut prasasti itu sebagai Prasasti Watu Tulis. Sebab, ada tulisan di batu itu. Tulisan yang diduga berbahasa Sansekerta.
“Batu ini disebut Prasasti Watu Tulis, karena ada tulisan pada permukaan batunya. Oleh warga diberi nama tersebut biar mudah penyebutannya,” terang Lamak, 48, warga Lingkungan Jeruk yang sering datang ke prasasti itu.
Prasasti Watu Tulis itu sendiri tidak terbuat dari batu biasa. Tapi, terbuat dari batu andesit, sama seperti batu-batu pada bangunan candi. Keberadaannya sudah lama diketahui warga. Namun, prasasti itu mulai terawat sejak 2011.
Di sekeliling prasasti ada bangunan semipermanen seperti pendapa. Pendapat itu pun dijadikan tempat istirahat bagi pengunjung yang datang ke Bukit Bendil.
Meski sudah lama ada, warga Lingkungan Jeruk tidak tahu pasti prasasti ini dibuat kapan. Andaipun peninggalan sebuah kerajaan, tidak diketahui dari kerajaan mana.
“Cerita leluhur kami, Prasasti Watu Tulis ini ada kaitannya dengan pertapaan Indrokilo di Desa Dayurejo, Prigen. Ini dulunya tempat bertapanya Senopati Joyo Amerto atau disebut juga Bambang Minto Resmi atau Raden Arjuno,” bebernya.
Untuk sampai ke lokasi, pengunjung bisa naik motor atau jalan kaki. Melewati jalan yang sebagian berpaving dan tanah. Jaraknya sekitar 750 meter dari jalan kabupaten Ledug–Dayurejo dan tempat wisata Pintu Langit.
Pengunjung yang datang pun berasal dari berbagai daerah di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Bisanya, pengunjung paling ramai datang di bulan Jawa, Selo dan Suro, juga Jumat Legi dan Kamis Kliwon.
“Prasasti ini jujukan orang untuk bertapa dan melakukan ritual. Tujuannya beragam. Kebanyakan untuk mendapat benda pusaka. Seperti batu akik dan permata, keris, dan lainnya,” ucap Lamak.
Tokoh masyarakat setempat, Abdul Karim, 54, menyebut Prasasti Watu Tulis merupakan benda cagar budaya. Warga di Lingkungan Jeruk pun merawat dengan baik prasasti itu.
“Pada 2017 pernah datang tim dari purbakala untuk survei dan melihat Prasasti Watu Tulis. Tapi, hasilnya seperti apa, hingga sekarang belum diketahui,” terang pria juga Ketua LPM Kelurahan Ledug.
Saat awal ditemukan, Prasasti Watu Tulis ada di sisi timur Bukit Bendil. Kemudian oleh warga dipindah ke puncak bukit. Dari sana, pengunjung bisa melihat panorama gunung yang bagus. Tampak jelas pegunungan Arjuno dan Ringgit. Termasuk dataran rendah wilayah Pasuruan dan Sidoarjo.
Sekitar 12 tahun lalu, prasasti ini pernah dicuri, tapi gagal. Warga menemukan posisi prasasti sudah pindah. Lantas oleh warga posisinya dikembalikan ke tempat awal di puncak bukit.
“Dugaan kami, di bukit ini dulunya ada bangunan candi. Bisa jadi posisinya terkubur material tanah, belum terkuak. Karena warga juga pernah menemukan batu lumpang berukuran kecil,” katanya. (rizal fahmi syatori/hn) Editor : Jawanto Arifin