MUKHAMAD ROSYIDI, Pohjentrek, Radar Bromo
LANGIT begitu gelap. Dan sesaat kemudian, hujan deras turun Selasa (8/3). Waktu menunjukkan pukul 14.00. Masih siang sebenarnya. Namun, suasana di Kota Pasuruan seperti sudah petang. Gelap.
Jarak pandang pun pendek, saking derasnya guyuran hujan. Guntur menggelegar, angin pun berembus kencang. Memperkuat kesan bahwa hujan tak akan cepat usai.
Pukul 16.30, hujan sedikit reda. Namun, jalanan kota sepi. Hanya beberapa pengendara motor melintas dengan menggunakan jas hujan untuk menutupi badannya agar tidak basah.
Di grup WhatsApp beredar informasi, aliran sungai mulai membesar. Air hampir mencapai paravet yang dibangun untuk membendung aliran air agar tidak meluap ke pemukiman.
Dan benar saja, pukul 17.00, beberapa daerah mulai kebanjiran. Baik di Kota Pasuruan, juga Kabupaten Pasuruan.
Di Kecamatan Kraton yang menjadi langganan banjir misalnya, air di permukiman naik dengan cepat. Setengah jam saja, ketinggian air mencapai satu meter.
Lalu di Desa Sukorejo, Kecamatan Pohjentrek, yang juga langganan banjir, air mencapai satu meter di Dusun Suko RT 2/RW 1.
"Sudah biasa banjir. Saya bertahan di rumah bersama keluarga selama banjir," kata Khoirul Anwar, salah satu warga Dusun Suko, Desa Sukorejo.
Baginya banjir bukanlah hal yang luar biasa. Sehingga ia tidak begitu memedulikan. Ia bersama Latifah, 28, istrinya dan kedua anaknya santai saja. Pikirnya banjir akan sama seperti biasanya.
Begitu banjir surut, Khoirul pun sudah berencana membersihkannya seperti biasa. Lalu, mereka semua akan tidur dengan tenang.
"Ada tempat yang lebih tinggi di rumah. Jadi kami di situ semuanya," ujarnya sembari menatap separo rumahnya yang ambrol terdampak banjir. Mulai dapur, kamar mandi, dan tempat salat.
Rabu (9/3), lelaki 38 tahun itu hanya termenung di depan rumahnya. Tatapannya menunjukan kesedihan mendalam. Hanya bekerja serabutan, bagaimana caranya memperbaiki rumah? Belum lagi, barang berharganya seperti sertifikat tanah, surat-surat motor, dan yang lain belum ditemukan.
Istrinya, Latifah berdiri di depannya. Bersandar pada tembok rumah tetangganya. Raut mukanya lesuh. Menahan tangis yang tidak keluar. "Mau bagaimana lagi. Sudah ambrol," ujarnya lirih menahan isak.
Latifah dan suaminya mengira, banjir malam itu akan terjadi seperti biasanya. Air meninggi, lalu beberapa jam kemudian surut.
Namun, ternyata kondisi malam itu berbeda. Banjir yang sudah mencapai satu meter, mendadak makin tinggi saat tiba-tiba air bah datang sekitar pukul 23.00.
Bersamaan dengan itu, suara aliran air terdengar sangat jelas. Jauh lebih keras dari biasanya. Bahkan, tanah sempat seperti bergetar. Bersamaan dengan itu, bunyi gemeretak terdengar sangat keras. Krak...
"Rumah saya kan dekat sungai. Jadi, suara air terdengar sangat keras. Tapi malam itu suaranya sangat keras di permukiman. Saya langsung lari ke rumah tetangga," kata Khoirul.
Dia bersama istri dan dua anaknya bahkan tak sempat menyelamatkan barang berharga di rumahnya. Ia berusaha menyelamatkan keluarga dengan mencari tempat yang lebih tinggi dari rumahnya. Di rumah itu ada Mbah Kamil, orang tua dari pemilik rumah.
"Yang penting selamat dulu. Urusan barang-barang saya pikir nanti," ungkapnya menceritakan kejadian itu.
Kamil, 70, merupakan tetangga yang rumahnya terpaut satu rumah dengan Khoirul. Rumah yang dihuni dengan istrinya, Hulaila itu tidak berbekas. Semuanya hanyut terbawa arus sungai.
"Rumah saya tidak ada. Itu lihat tinggal lantainya saja," kata Hulaila menunjukan rumahnya.
Hulailai yang masih shock tidak bisa bercerita banyak. Kemarin, ia banyak menerima bantuan dan kunjungan dari tetangga dan sanak saudaranya. Beberapa terlihat membawakan makanan, baju, dan keperluan lainnya. Sementara Hulaila bersama Mbah Kamil menginap di rumah anaknya yang letaknya persis di sebelahnya.
Selain harta benda, warga juga kehilangan ternak. Khoirul kehilangan empat kambing. Satu hilang dan tiga tewas. Hanya satu kambing yang tersisa.
Para korban itu sendiri, berharap ada perhatian khusus dari pemerintah. Utamanya untuk perbaikan rumah. Warga juga minta daerahnya tidak kebanjiran lagi.
Wakil Bupati Pasuruan Abdul Mujib Imron yang mengunjungi lokasi banjir mengatakan, pemkab akan berupaya membantu perbaikan rumah. Tetapi, tentunya dengan kemampuan anggaran dan sesuai dengan kerusakan.
"Biar nanti dihitung oleh OPD terkait. Saat ini, kami upayakan bantuan kedaruratan terlebih dulu," ungkapnya setelah melihat lokasi terdampak banjir. (hn) Editor : Jawanto Arifin