MUKHAMAD ROSYIDI, Tosari, Radar Bromo
Kabut mulai menyelimuti wilayah Kecamatan Tosari, Rabu siang (2/3). Padahal, jam baru menunjukkan pukul 11.00. Suasana khas pegunungan sangat terasa. Udara segar, suhu dingin, dan angin sepoi-sepoi berembus.
Terlihat warga laki-laki di beberapa desa menggunakan baju hitam, bersarung, dan menggunakan udeng khas Tengger. Para perempuan menggunakan kebaya serta bersarung. Tidak hanya yang dewasa, anak-anak juga berpakaian serupa.
Dari kejauhan terdengar pembacaan doa-doa oleh dukun. Dibarengi oleh perempuan yang membacakan mantra-mantra pensucian. Pembacaan itu dilakukan di beberapa tempat, sesuai desa masing-masing.
Seperti di Desa Baledono, Kecamatan Tosari. Mereka berkumpul di halaman rumah salah seorang dukun yang tiga tahun terakhir digunakan untuk upacara ritual pranyepi. Seorang dukun duduk di atas panggung yang di depannya ada berbagai sesajen. Kemudian, di bawahnya seorang perempuan membacakan mantra.
"Ini untuk memanggil Betoro Kolo agar masuk ke dalam ogoh-ogoh. Jadi Betoro Kolo masuk dengan cara dikasih makan," kata Subur, seorang dukun di Desa Baledono.
Ogoh-ogoh di desa tersebut ada dua. Satu tingginya 3 meter dan satunya lagi tingginya 2 meter. Namun, hanya satu yang kemarin dibawa ke lapangan. Sedangkan yang lain, menunggu ritual utama. Ogoh-ogoh tersebut di letakkan di depan warga yang melakukan ritual.
"Setelah pembacaan ini, sembahyang. Kemudian dilakukan prosesi pemberangkatan sebelum nanti dilakukan pembakaran," ujar pria yang memakai baju putih dan udeng putih itu. Ya, warga biasa dan dukun memang berbeda dari caranya berpakaian.
Ogoh-ogoh berbentuk seram itu baru dibakar setelah diarak keliling desa. Pembakaran dilakukan menjelang petang. Tujuannya untuk membersihkan desa di hari berikutnya. Agar menjalankan kegiatan sehari-hari tanpa gangguan. Kata Subur, pembakar itu merupakan peleburan aura negatif atau kekuatan jahat.
Perayaan ini sendiri meskipun dilakukan secara sederhana, dilakukan secara hikmat. Masyarakat yang datang khusuk mengikuti segala prosesi.
"Ya mau bagaimana lagi. Kami berusaha mengikuti aturan dari pemerintah. Yang penting masih bisa menjalankan ritual," katanya sembari mengikuti prosesi yang sedang berlangsung.
Yono, yang juga ikut prosesi merasakan hal yang sangat berbeda tiga tahun terakhir. Sebelum pandemi, pawai ogoh-ogoh dilakukan dengan cara yang sangat meriah. Terpusat di satu titik, yaitu di lapangan sebelah kantor kecamatan.
Namun, sekarang perayaan hanya boleh dilakukan di masing-masing desa. Itupun harus menerapkan protokol dengan ketat.
"Sangat berbeda yang saya rasakan. Kalau dulu sangat rame. Warga penganut hindu dari tiga kecamatan (Puspo, Tosari dan Tutur) bercampur baur jadi satu. Jadi sangat meriah," ujarnya dengan wajah yang datar.
Ia bersama warga yang lain berusaha mengikhlaskan apa yang telah terjadi. Harapannya, pandemi Covid-19 ini segera berakhir. Dengan begitu, kegiatan keagamaan dan juga aktivitas harian berjalan dengan sedia kala. Tidak ada lagi pembatasan yang memisahkan antara satu dengan yang lainnya.
"Saya harapkan cepet selesai. Semuanya kembali normal," ungkapnya di tengah proses ritual.
Di Desa Tosari, pawai ogoh-ogoh dilakukan sekitar pukul 13.30. Ada empat ogoh-ogoh yang dibawa keliling. Diselimuti kabut tebal, warga semarak membawa perwujudan Buta Kala itu. Para laki - laki yang membawanya dan para perempuan mengikuti di belakangnya. Sedangkan dukun berada di barisan depan dengan tetap membaca doa - doa.
Nike, 34, salah seorang warga Desa Tosari mengatakan, dirinya sangat bersukur karena pawai ogoh-ogoh masih bisa dilakukan. Sementara selama pandemi, banyak kegiatan dibatasi dengan protokol kesehatan.
"Sebenarnya sedikit kecewa. Tapi masih bersyukur bisa terlaksana," terangnya seusai pawai.
Kemarin, ada puluhan ogoh-ogoh dalam Upacara Pecaruan Kesanga Hari Suci Nyepi 1944 Saka tersebut. Terdiri dari Desa Wonokitri ada dua, Desa Tosari lima buah, Desa Baledono dua, Desa Podokoyo sembilan, Desa Ngadiwono lima, Desa Sedaeng satu, Desa Mororejo empat. Semuanya berada di Kecamatan Tosari.
Lalu di Desa Keduwung ada lima. Ini di Kecamatan Puspo. Satu lagi Desa Ngadirejo, ada 25 buah ogoh-ogoh. Masuk Kecamatan Tutur.
Camat Tosari Edy Priyanto mengatakan, sebenarnya tahun ini ada rencana menggelar pawai ogoh-ogoh jadi satu di kecamatan. Mengingat, Kabupaten Pasuruan sudah masuk PPKM level 2.
Tetapi, rencana itu kemudian gagal. Sebab, beberapa waktu lalu Kabupaten Pasuruan berada di PPKM level 3. Tak ayal, kegiatannya kembali seperti tahun sebelumnya.
"Iya kan level PPKM naik lagi. Jadi ada pembatasan. Karena itu, kami lakukan lagi seperti tahun sebelumnya," tutur camat yang sekarang berjuluk Kecamatan Bineka Tunggal Ika tersebut.
Dalam setiap perayaan hari besar, semua elemen masyarakat turut membantu. Sehingga, kerukunan umat beragama tercipta.
"Ada Banser, ada linmas dan muspika ikut juga. Di sini kami hidup berdampingan dan rukun," terangnya. (hn) Editor : Jawanto Arifin