AGUS FAIZ MUSLEH, Gading, Radar Bromo
HAMPIR sepekan lalu, Pilkades Serentak Tahap II di 250 desa di Kabupaten Probolinggo usai digelar. Namun, rumah di bawah lereng gunung Argopuro itu ramai tamu setiap hari. Itulah rumah Timbul Sujuatmoko, kades Sentul terpilih.
Tamu yang datang pun dari berbagai pihak. Mulai pihak kecamatan, seperti camat, koramil, polsek, dan pihak tenaga kesehatan (nakes). Mereka datang untuk memberi ucapan selamat kepada Timbul yang juga perintis Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Sentul Adventure tersebut.
Timbul sendiri terpilih menjadi kepala desa untuk kali kedua usai menumbangkan istrinya dengan suara 1.121 banding 216. Timbul mengaku sejatinya pencalonan istrinya tidak diniatkan sebagai pemecah suara atau calon bayangan. Istrinya mencalonkan diri sebagai langkah antisipasi saja saat dirinya tidak lolos pendaftaran.
"Awalnya hanya untuk jaga-jaga. Takut saya tidak lolos di fase pendaftaran. Jadi, bisa istri yang maju. Namun, ternyata tidak ada calon lain yang lanjut pada tahapan berikutnya," kata Timbul saat menemui sejumlah tamu di rumahnya.
Timbul sendiri mendaftar bersama istrinya, Musrifatun, 41. Kala itu, belum ada calon lain mendaftar. Musrifatun sendiri sebetulnya tidak mau mendaftar.
"Tidak mau awalnya istri saya mendaftar. Sebab, saat itu ada isu di masyarakat bahwa ada yang mau mencalonkan diri. Jadi buat apa istri mendaftar. Memang, benar ada Pak Aziz waktu itu yang mendaftar. Tapi beliau gugur karena faktor persyaratan," lanjutnya.
Bersyukur, kata Timbul, istrinya mau mendaftar setelah diberi pemahaman. Dan keputusan Musrifatun mendaftar terbukti benar. Sebab, ternyata tidak ada calon lain yang mendaftar selain keduanya.
Artinya, saat Musrifatun tidak mau mendaftar, tentu suaminya akan jadi calon tunggal. Dan dengan calon tunggal, maka pilkades tidak akan bisa digelar.
Saat masa kampanye, keduanya pun kampanye bareng. Lucunya, Musrifatun calon nomor dua ini meminta kepada masyarakat untuk mencoblos nomor urut satu atau suaminya.
"Kami lakukan kampanye door to door ke rumah masyarakat. Ya bersama. Istri bilang, jangan pilih dirinya. Pilih mas saja," katanya sembari tertawa.
Sebelum pencoblosan, tanggapan masyarakat tentang calon dari suami istri ini beragam. Bahkan, ada yang sampai tanya kenapa harus nyoblos. Kalau sudah suami istri, ya langsung jadi saja.
"Saya jelaskan pelan-pelan bahwa walaupun yang nyalon itu suami istri, pemilihan tetap harus dilakukan. Jadi, warga tetap harus nyoblos. Sebab, ini sudah peraturannya," kata Sarjana Ekonomi Universitas Muhammadiyah Jember tersebut.
Namun, dibanding tanggapan yang aneh-aneh itu, menurutnya, lebih banyak tanggapan yang baik. Itu tampak setelah pemilihan tidak ada gejolak di masyarakat.
"Buktinya berjalan lancar, tidak ada gejolak. Ditambah lagi tingkat partisipasi masyarakat sangat tinggi. Dari total DPT yang ada, yang tidak hadir hanya 125 orang. Saat saya cek mereka rata-rata tidak di desa. Ada yang mondok dan kerja keluar daerah," tutur lelaki yang dulu aktivis HMI Cabang Jember itu.
Setelah penghitungan suara, Timbul memang terpilih. Dia pun mengaku bersyukur. Bukan karena semata-mata terpilih. Namun, juga karena relatif tidak ada gejolak dan masalah selama pilkades. Bahkan, pemilihan di desa ini selesai pukul 11.00.
"Pukul 11.00 itu sudah selesai semua. Tapi penghitungan ya tetap ikut peraturan dari pemkab. Pukul 12.00 perhitungan dimulai," lanjutnya.
Walau menang, Timbul mengaku tidak menyangka istrinya akan mendapat cukup banyak suara. Namun. sejatinya memang banyak masyarakat yang menyampaikan keinginan memilih istrinya.
"Banyak masyarakat yang bilang, ayo jadi Buk Tenggi (ibu kepala desa) saja yo. Suaranya cukup banyak saat pemilihan," katanya membuat tawa Musrifatun.
Suara yang didapat istrinya memang hasil kedekatannya dengan warga. Selama ini, banyak warga yang cukup dekat dengan istrinya. Bahkan, ada yang terang-terangan bilang mencoblos Musrifatun.
“Ada yang bilang mau nyoblos istri memang. Sebab, anaknya yang sekolah sering diberi uang saku sama istri saya. Jadi merasa sudah sangat dekat," tuturnya.
Tidak adanya calon lain selain istrinya, menurut Timbul, dikarenakan banyak yang enggan menjadi rivalnya. Sebab, masyarakat menilai banyak yang sudah dilakukan olehnya pada periode pertama menjadi kades. Seperti pembangunan dan pengayoman kepada masyarakat.
"Begitu pun pengayoman tentang kepemudaan. Pemuda sini dulunya terkenal tukang mabuk dan keketan (berkelahi). Setelah saya menjabat, saya buat Komunitas Pemuda Sentul Beraksi. Banyak kegiatan, pengajian, dan sebagainya. Sedikit-sedikit kebiasaan pemuda mulai beralih," ujarnya.
Timbul sendiri tidak bisa menilai kinerjanya sendiri. Namun, selama periode pertamanya ia berhasil mengubah status Desa Sentul sebagai desa berkembang menjadi desa maju.
"Awal menjabat masih desa berkembang, kemudian naik menjadi desa maju. Ya dari sejumlah program yang saya realisasikan. Seperti BUMDes dan lainnya," lanjutnya.
Musrifatun sendiri mengaku resah saat malam sebelum pencoblosan. Dia takut terpilih menjadi kepala desa.
"Kalau jadi saya dak mau. Karena saya tidak ingin jadi kepala desa. Pokoknya saya nggak mau,” ujarnya.
Timbul sendiri tidak hanya berpengalaman menjabat kades selama periode sebelumya. Dia juga memiliki trah kepala desa. Buyut-buyutnya dulu ada yang mejadi kepala desa. Namun, di Desa Pakel, Kecamatan Sukapura. (hn) Editor : Jawanto Arifin