AGUS FAIZ MUSLEH, Pajarakan, Radar Bromo
KOPIAH hitam bergaris putih menghilangkan kesan sangar Mardiono. Seseorang tak akan menyangka bahwa dia menekuni olahraga beladiri seperti kickboxing. Perawakannya sangar. Tetapi akan berbanding terbalik dengan tutur kata lembutnya saat mengobrol.
Begititupula saat Jawa Pos Radar Bromo menemui pria asal Desa Wajohgulu, Kecamatan Siantan, Kota Pontianak, Kalimantan Barat. Saat itu dia duduk di balkon rumah kiainya di PZH Genggong, Pajarakan. "Sejak kelas 5 SD, saya sudah mondok. Permintaan sendiri, bukan dari orang tua,” kata Ion, sapaan akrabnya.
Sejak mondok saat masih kecil, ia mengaku jarang sekali pulang. Hany ajika ada kesempatan tertentu, dia baru mau menyambangi orang tuanya yang berada di Kalimantan.
"Kadang dua tahun sekali pulang. Selama beberapa tahun belakangan bahkan tidak pernah pulang. Kalau pulang, kasihan orang tua. Khawatir mereka sangat rindu saat saya balik ke pondok," kata putra pasangan Ningrad dan Agustina tersebut.
Keinginannya mondok sejak kecil lantaran kehidupan di Kalimantan cukup keras. Bahkan saat itu tempat perjudian dan mabuk-mabukan kerap ditemui. "Sehingga sejak kecil langsung ingin mondok. Tanpa ada paksaan dari orang tua. Hanya melihat saudara yang mondok, juga ingin mondok akhrinya," kata pria pemilik kulit sawo matang tersebut.
Kiriman atau transferan uang pun jarang sekali di dapatkannya. Maklum, kondisi perekonomian yang tak cukup stabil membuatnya sadar dan legawa dengan keadaan tersebut.
Sedari kecil itu, ia pun mengabdikan diri di Ponpes Zainul Hasan Genggong. Sejumlah kesibukan di pondok mengisi kesehariannya. Sayang, Mardiono mengaku, pada umurnya yang 22 tahun ini, ia tak lanjut sekolah.
"Karena kesulitan ekonomi, sekolah tidak lanjut. MTS tidak lulus. Jadi ya mondok saja. Bantu-bantu dalem (pondok)," ujarnya.
Untungnya Mardiono menekuni dunia olahraga adu fisik seperti pancak silat dan kickboxing. Dia memutuskan berkarir pada 2017 silam. Mulanya dia coba-coba untuk ikut latihan kemudian diminta untuk mengikuti perlombaan.
"Karena diminta ikut lomba dan menang, akhirnya terus mendalami. Seperti Porkab dan Bupati Cup itu sering menang," bebernya.
Di bawah didikan Tiger Bar (Barokah) MMA Martial Art, pagar Nusa Komisariat Pesantren Zainul Hasan Genggong, ia mengembangkan teknik maupun skillnya. Sejak saat itu, prestasi demi prestasi cukup banyak diraihnya.
Di olahraga ini, dia juga pernah meraih kemenangan dan kekalahan. Seperti baru baru ini, dia mengikuti Kejurprov kickboxing di Surabaya tahun 2021. Dia mewakili Kabupaten Probolinggo, dan ia meraih medali emas. "Waktu itu saya turun di kelas 70 kilogram," katanya.
Atas prestasinya itu dan di usianya yang masih muda, Mardiono ingin semakin menggeluti kickboxing dengan serius. "Sata ingin menjadi atlet nasional. Agar dapat terus mengembangkan prestasi. Tetapi mengabdi terhadap pesantren menjadi prioritas. Sembari itu latihan terus dilakukan,” bebernya. (mu/fun) Editor : Jawanto Arifin