Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Mustofa, Nelayan sekaligus Seniman Kriya asal Pasuruan

Jawanto Arifin • Selasa, 1 Februari 2022 | 23:46 WIB
MINIATUR: Mustofa, 39, membuat miniatur perahu semirip mungkin dengan aslinya. Profesinya yang juga sebagai nelayan membuat dia hafal bagian detail perahu. (Foto: M. Busthomi/Jawa Pos Radar Bromo)
MINIATUR: Mustofa, 39, membuat miniatur perahu semirip mungkin dengan aslinya. Profesinya yang juga sebagai nelayan membuat dia hafal bagian detail perahu. (Foto: M. Busthomi/Jawa Pos Radar Bromo)
Hidup Mustofa benar-benar tak bisa jauh dari perahu. Di lautan ataupun di daratan, sama saja. Alat transportasi air itu menjadi jalannya mencari penghidupan.

MUHAMAD BUSTHOMI, Panggungrejo, Radar Bromo

ANGIN laut bertiup. Perahu-perahu nelayan mulai berlabuh di dermaga Pelabuhan Pasuruan. Sebagian di antaranya terdampar beberapa kilometer dari bibir pantai utara. Tepatnya di lantai lima Rusunawa Tambaan. Tempat Mustofa, 39 dan keluarga kecilnya tinggal.

Sebagai keluarga nelayan, sejak kecil Mustofa akrab dengan perahu. Bahkan, sejak usia 10 tahun dia sudah ikut mencari ikan bersama nelayan lain. Dan, aktivitas itu dilakukannya hingga saat ini. Malam melaut, siang dia pulang membawa hasil.

Di luar aktivitasnya sebagai nelayan, Mustofa adalah perajin kriya. Kerajinannya pun tidak jauh dari kehidupan nelayan. Yaitu, membuat perahu.

Di ruang tamu rumahnya, sudah tak terhitung jumlah perahu yang dibuat Mustofa. Memang bukan dalam bentuk yang sebenarnya. Perahu-perahu buatan Mustofa berukuran lebih kecil. Hanya miniatur.

Tapi, semua bagian dibuat semirip mungkin dengan aslinya. Ada anjungan, haluan, kemudi, geladak, hingga tempat penyimpanan ikan di bawahnya.

Lelaki kelahiran 1983 itu sudah cukup lama menggeluti kerajinan miniatur perahu. “Sejak masih bujangan,” katanya kepada Jawa Pos Radar Bromo, Minggu (30/1) siang.

Jauh sebelum bertemu dengan Titis, istrinya yang sudah memberikan dua buah hati, Mustofa sudah gandrung dengan seni kriya. Bedanya dulu dan sekarang, hanya pada bahan baku yang digunakan.



“Kalau dulu saya pakai karet bekas sandal. Karena kan buat mainan sendiri waktu kecil,” ujar pria yang akrab disapa Tatto tersebut.

Semakin lama, dia makin terbiasa membuat miniatur perahu. Di kampungnya di Ngemplakrejo dulu, tidak sedikit temannya yang meminta dibuatkan mainan yang sama. “Lama-lama akhirnya dijual. Dulu dijual Rp 25 ribuan,” katanya.

Sekarang, bahannya pun sama-sama dari limbah. Namun, kini semua miniatur perahu buatan Tatto berbahan limbah kayu. Dia mengais sisa-sisa potongan kayu yang terbuang di industri mebeler.

Namanya saja limbah. Ukurannya pun tak menentu. Terkadang ada yang lumayan panjang. Tapi, lebih sering hanya berupa serpihan-serpihan kecil.

“Kalaupun harus beli, sekarung itu harganya Rp 10 ribu. Tapi kebanyakan langsung dikasih sama orang mebel,” kata Tatto.

Dari limbah kayu itulah Tatto membentuknya menjadi miniatur perahu. Potongan kayu yang ukurannya tidak sama, lebih dulu dipotong dalam bentuk yang seragam. Sesuai dengan bagian perahu yang akan dikerjakan.

Yang pasti, Tatto harus sering menyambung potongan-potongan kayu tersebut dengan lem. Setidaknya, supaya bisa mendapatkan bentuk yang lebih lebar.

Biasanya, dia menyiapkan bahan miniatur dalam jumlah yang banyak sekaligus. Misalnya untuk bahan awak kapal, dalam sekali kerja dia bisa mengumpulkan 50 bahan.



Cara seperti itu diakuinya bisa lebih cepat dalam mengerjakan miniatur. Setelah semua bahan tersedia, barulah dimulai penggarapannya.

“Kalau bahannya disiapkan untuk satu miniatur saja, akan lebih lama. Jadi, lebih cepat digarap sekalian setelah bahannya lengkap,” kata Tatto.

Tatto bilang, membuat miniatur perahu itu gampang-gampang sulit. Jelas tidak semua orang bisa melakukannya. Tapi, sebagai orang yang lahir dan besar di kawasan pesisir, Tatto cukup hafal beragam bentuk perahu nelayan. Di samping dia sendiri terkadang juga bekerja mencari ikan di lautan.

Kan sudah sering lihat bongkar pasang perahu waktu ngedok. Jadi sudah paham bagian-bagiannya secara detail,” kata Tatto yang juga penikmat musik cadas itu.

Menurutnya, membuat perahu asli, maupun miniatur sama-sama perlu telaten. Apalagi saat proses pembakaran untuk membentuk lengkungan papan-papan kayu yang akan dijadikan badan perahu. Harus benar-benar jeli. Supaya garis lengkungannya tetap presisi.

Yang membedakan hanya caranya saja. Kayu untuk perahu asli dilengkungkan dengan memanaskan di atas tungku selama dua jam. Sedangkan kayu untuk miniatur perahu dipanaskan di atas api lilin. Tidak butuh dua jam, hanya dua menit saja, lengkungan kayu sudah mudah diatur.

Papan-papan lengkung itu kemudian dirangkai menjadi badan perahu. Sebelum dicat, Tatto biasanya mendempulnya lebih dulu. Selayaknya membuat perahu asli. Agar tidak ada celah lubang di sela sambungan papan lengkung itu. Sehingga miniatur perahu itu bisa memiliki daya apung di atas air.

“Jadi meski bentuknya mini, tetap bisa ngambang. Nggak sampai karam ketika ditaruh di air,” cetusnya.



Bahkan, miniatur perahu buatan Tatto bukan sekadar buat pajangan atau koleksi. Tetapi, juga mainan perahu dengan remote control. Tatto bilang, tidak sedikit pemesan yang minta dilengkapi tempat dinamo dan aki di badan perahu miniatur buatannya.

Biasanya, dia menjual miniatur perahu senilai Rp 200 ribu hingga Rp 500 ribu. Namun, semakin besar ukuran miniatur yang dipesan juga semakin mahal harganya. Seperti yang baru dibuat Tatto dengan panjang 1,5 meter. Dia menjualnya dengan harga Rp 800 ribu.

“Itu juga dilengkapi dengan tempat mesinnya. Jadi bisa di-remote,” katanya.

Tidak hanya mahir membuat miniatur perahu. Ayah dua anak itu juga beberapa kali menerima pesanan kentrung, pigura, hingga hiasan kaligrafi. Semuanya dibuat dengan bahan limbah. Kalau bukan kayu limbah mebel, dia kadang menggunakan bekas stik es krim hingga kertas koaran bekas.

Bagi Tatto, derasnya perkembangan media sosial membuka lebar peluang usahanya menembus pangsa pasar yang lebih luas. Dengan media sosial, dia bisa memasarkan karyanya dengan jangkauan lebih luas.

Sejauh ini, hasil keterampilan tangannya sudah menyebar ke berbagai daerah di Pulau Jawa. Sebab, pemesannya rata-rata ialah kolektor. Mulai dari Sidoarjo, Lamongan, Wonosobo, hingga Cirebon.

“Cuma yang saya harapkan di Pasuruan ini supaya ada semacam wadah bagi orang-orang yang menggeluti kerajinan tangan,” tuturnya.

Karena selama ini, Tatto dan beberapa temannya sesama perajin seolah masih mencari jalan sendiri-sendiri. Dia sering berangan-angan, para perajin di Kota Pasuruan berkumpul dalam satu komunitas. Setidaknya mereka bisa bertukar pikiran, saling memberi masukan dan ide untuk mengembangkan usahanya.

“Termasuk memikirkan pola pemasaran yang pas supaya bisa maju bareng. Lalu, hasil karyanya lebih dikenal luas,” harapnya. (hn) Editor : Jawanto Arifin
#miniatur perahu #nelayan perajin