MUHAMAD BUSTHOMI, Gondangwetan, Radar Bromo
Muslimin, 52, lumayan akrab dengan dunia perkayuan. Sejak muda, dia bekerja di industri mebel Bukir di Kecamatan Gadingrejo, Kota Pasuruan. Namun, keahliannya cenderung membuat produk-produk mebel rumah tangga. Seperti meja, kursi, lemari, dan sebagainya. Bukan membuat miniatur barang yang belakangan sering dikerjakan.
Tapi setidaknya, pernah bekerja di industri mebel menjadi pengalaman tersendiri bagi Muslimin. Paling tidak, bapak tiga anak itu punya kemampuan dasar menggunakan peralatan mebel.
Dia sendiri memilih mundur dari industri mebel karena persaingan yang ketat dan pangsa pasar kian lesu. Kondisi itu membuatnya mau tak mau harus mencari pekerjaan lain.
Dia lalu berdagang kain dari kota ke kota. Sebagian pulau di negeri ini pernah ia sambangi. Hampir seluruh pulau Jawa, juga Kalimantan dan Sulawesi.
“Tapi, kemudian istri saya sakit dan ingin saya tidak kerja jauh-jauh,” kata Muslimin kepada Jawa Pos Radar Bromo yang berkunjung ke rumahnya di Desa Wonosari, Kecamatan Gondangwetan, Kabupaten Pasuruan, pekan lalu.
Sejak itulah, Muslimin pulang kampung dan kembali menggeluti usaha perkayuan. Tetapi, tidak seperti masa mudanya. Dia lebih banyak menerima pekerjaan by order atau barang pesanan. Tidak memproduksi barang secara masal.
“Biasanya ada pesanan-pesanan membuat kusen, lemari, atau gebyok,” katanya.
Pada medio 2018, Muslimin harus bolak-balik Gondangwetan-Prigen untuk menggarap kusen di rumah seorang warga. Tak disangka, pekerjaannya saat itu membuka pintu rezekinya lebih mudah.
Di sela-sela kesibukannya membuat kusen, dia bertemu pemuda asal Korea Selatan. Pemuda itu agak lama tinggal di Indonesia. Karena itu, dia sudah lancar berbahasa Indonesia. Mereka pun ngobrol. “Ketemunya juga kebetulan waktu sama-sama ngopi di Pintu Langit,” katanya.
Lalu tiba-tiba, lelaki asal Korea Selatan itu menawarinya untuk mengerjakan peralatan dapur berbahan kayu. Dia sedikit gugup mendapat tawaran itu.
Sebenarnya, dia sudah tidak asing dengan alat-alat yang dipesan. Sebagian juga ada di dapur rumahnya. Seperti sutil, centong, sendok pengoles selai. “Tapi, bagaimana membuatnya. Kan saya belum pernah,” kata dia.
Sedikit nekat, Muslimin menerima langsung tawaran itu. Ada lima jenis barang yang ia buat. Masing-masing berjumlah 200 biji. Jadi pesanan pertama yang ia garap berjumlah seribu biji.
Kedua kalinya, dia mendapat pesanan papan cuci pakaian. Juga sebanyak 200 biji. Ukurannya mini. Muslimin juga sempat bertanya mengapa papan mencuci pakaian berukuran kecil.
“Katanya kalau di Korea itu anak-anak sudah dibiasakan mandiri. Makanya ada alat cuci baju untuk anak kecil,” ungkapnya.
Pesanan demi pesanan terus berdatangan. Masih dari orang yang sama di Korea Selatan. Lama-lama produk yang dipesan makin beragam. Seperti meja kursi, rak bunga, hingga miniatur rumah kayu. Muslimin hampir tak pernah menolak tawaran itu. Meski ia tak sepenuhnya paham dengan semua barang yang dipesan.
“Karena ketika pesan kadang hanya kirim gambarnya ke WA. Sebagian saja yang dilengkapi dengan dimensi ukuran,” bebernya.
Itu juga yang terjadi saat kemudian dia menerima orderan 200 biji miniatur rumah. Sekalipun Muslimin tak pernah melihat barang yang dipesan itu sebelumnya.
“Saya cuma dikasih gambar, diberi tahu ukurang tinggi dan lebarnya. Kalau detailnya nggak ada,” katanya.
Karena itu, menggarap miniatur rumah kayu itu sempat membuatnya sedikit pusing. Dia harus mengeksplorasi imajinasinya sedalam mungkin untuk mendapatkan bentuk yang detail.
“Untuk membuat sampel saja hampir 10 hari. Karena sampai lima kali revisi sebelum akhirnya deal,” bebernya.
Muslimin memang selalu membuat sampel lebih dulu produk-produk yang akan digarap. Wajar saja. Sebab, semua produknya memang digarap by order. Maka dia harus memastikan semua produk sesuai dengan yang diinginkan pemesan. Dia tak ingin pelanggannya justru kecewa dengan produk garapannya.
Belum lama ini, dia juga mendapat orderan berupa rak lemari berukuran kecil. Dan selama ini, Muslimin melayani pelanggan asal Korea Selatan itu tanpa meminta DP sama sekali. Semua modal ia keluarkan dari kantongnya sendiri. Ongkos produksi dan nilai produk baru dibayar setelah barang jadi.
Terlebih, modal yang ia keluarkan untuk membelanjakan bahan baku juga tak banyak. Meski pesanan berjubel, Muslimin membatasi modalnya di bawah Rp 5 juta.
Sebab, pesanan yang selama ini diterima tak butuh bahan baku berukuran besar. Paling-paling dia harus memborong limbah kayu dari industri mebel.
“Jadi bahannya limbah, kayu-kayu kecil kan sudah tidak masuk buat bahan mebel. Tapi, saya selalu pakai yang bagus. Saya pilih mahoni atau jati,” katanya.
Kecuali untuk membuat miniatur rumah kayu, Muslimin enggan mengambil risiko. Karena pembuatannya lumayan rumit, harus dibuat dengan kayu yang berkualitas. Kayu harus dioven lebih dulu agar benar-benar kering dan kokoh. Karenanya, Muslimin meminta pelanggannya menyiapkan bahan baku sendiri.
“Jadi bahannya dari orangnya. Saya hanya memberikan jasa pembuatan saja,” katanya.
Dari 200 biji pesanan, masing-masing miniatur rumah yang dibuat diberi ongkos Rp 200 ribu. Dan semuanya juga dibayarkan setelah barangnya jadi.
Kini terhitung hampir empat tahun dia mengerjakan pesanan pelangganya itu. Dan selama itu, dia tak pernah meminta pembayaran di muka atau di tengah proses penggarapan.
Sebab, Muslimin percaya, bahwa pelanggannya itu orang baik-baik. Tak mungkin berbuat curang. Bahkan, kepercayaan itu sudah datang sejak mereka kali pertama bertemu.
“Saya lihat dari sorot matanya, dia memang pekerja keras,” katanya.
Makanya, dia membuang-buang jauh-jauh rasa khawatir akan dicurangi dan segala macam. “Prinsip saya yang penting niat kerja itu untuk ibadah. Insyaallah hasilnya juga baik,” ujarnya. (*) Editor : Jawanto Arifin