Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Ifat Bari, Merakit Drone FPV karena Buatan Pabrik Mahal

Jawanto Arifin • Sabtu, 15 Januari 2022 | 21:37 WIB
WARGA BANGIL: Ifat saat merakit drone di bengkel usahanya. (Foto: Iwan Andrik/Jawa Pos Radar Bromo)
WARGA BANGIL: Ifat saat merakit drone di bengkel usahanya. (Foto: Iwan Andrik/Jawa Pos Radar Bromo)
DRONE merupakan pesawat tanpa awak yang kini makin banyak diminati. Sayangnya, harga produk pabrikan drone relatif mahal. Mahalnya harga drone inilah yang menginspirasi Ifat Bari, 47, merakit drone sendiri. Kini rakitan warga Kauman, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan, itu banyak dilirik pembeli.

Sebuah remote control digenggam Ifat Bari dengan erat. Sementara kedua bola matanya ditutup dengan kacamata FPV (First Person View). Tangannya mengendalikan pesawat tanpa awak mini miliknya itu dengan lihai. Meski terbang jauh, tak ada rasa khawatir drone tersebut hilang dari pandangannya.

Maklum, pergerakan drone tersebut bisa terpantau. Karena, ada kamera yang terpasang pada drone dan terhubung pada kacamata FPV yang dikenakannya.

Photo
Photo
LEBIH MURAH: Ifat menunjukkan drone kreasinya. (Foto: Iwan Andrik/Jawa Pos Radar Bromo)

Aksi tersebut dipamerkan Ifat di Alun-alun Bangil, beberapa waktu lalu. Beberapa orang pun mengelilinginya, melihat aksinya dari dekat. Ada juga yang sambil bertanya tentang harga drone rakitannya.

“Kalau drone sebenarnya murah. Hanya kisaran Rp 500 ribuan. Yang mahal adalah kacamata FPV serta remotenya. Karena dijual terpisah,” kata Ifat.



Lelaki kelahiran 18 Oktober 1974 itu mengaku, drone yang diterbangkannya merupakan salah satu dari karyanya. Selain itu, masih ada beberapa drone lain miliknya. Semuanya dirakitnya sendiri.

Ifat menceritakan, ketertarikannya merakit drone dimulai sejak pertengahan 2021. Saat itu, dia ingin membeli drone. Tapi, tak kesampaian lantaran harga pabrikan drone FPV cenderung mahal. Bisa bernilai jutaan rupiah.

Ia lantas coba-coba merakit drone sendiri. Uji coba itu dilakukan setelah ia mendapatkan video tutorial dari temannya.

“Saya baru tahu kalau bisa merakit sendiri. Dari situ saya pun mencoba-coba merakit sendiri,” kenangnya.

Peralatan drone pun diborongnya. Seperti flight control, motor atau dinamo, baling-baling, frame, dan yang lain. Sekitar Rp 400 ribu hingga Rp 500 ribu dihabiskannya.

Semua itu, dibelinya di toko-toko online. Mulanya, ia mengalami kesulitan merakit drone. Maklum, pemilik toko perlengkapan bayi itu harus berhadapan dengan peralatan yang tak pernah dipegang sebelumnya. Seperti solder untuk alat patri timah dan tembaga.

Namun, dengan telaten ia merakit drone tersebut. Tutorial dari YouTube dimanfaatkannya untuk belajar. Dan upayanya pun tidak sia-sia. Ia akhirnya berhasil merakit drone sendiri.



Uji coba terbang lantas dimulai. Baterai drone berkapasitas 300 mAh dipasang. Drone buatannya bisa terbang. Ia pun senang. Tapi, ternyata tak lama. Drone kemudian terbawa angin dan menabrak. Drone rakitan pertama itu pun sempat rusak.

Ifat kemudian memperbaiki drone itu. Namun, tiba-tiba mesin drone meletup. “Ternyata salah saat menyolder. Mesinnya meledak,” ungkapnya.

Bukan hanya sekali. Kejadian tersebut menimpanya berulangkali. Benar-benar tak mudah. Tapi, ia tak menyerah. Buktinya, beberapa drone berhasil dirakitnya saat ini.

“Saya terus menambah jumlah drone yang saya rakit. Dari yang kecil, sampai yang besar ukuran 3 inchi,” imbuhnya.

Saat ini, beberapa orang memang tertarik dengan drone buatannya. Tapi, rata-rata mundur setelah tahu biaya membeli drone tersebut tidaklah murah. Karena, selain membeli drone, butuh pula kacamata khusus dan remotenya.

Harganya, bisa sampai Rp 1,8 juta untuk remote saja. Belum termasuk kacamata FPV yang mencapai lebih dari Rp 1 juta. Perawatannya pun tidak murah. Untuk baterai saja Rp 80 ribu. Itu pun hanya bertahan beberapa jam.



“Kalau drone-nya memang lebih murah dibanding harga pabrikan. Kalau pabrikan misalnya bisa sampai Rp 1,5 juta, bahkan lebih. Sementara kreasi saya hanya sekitar Rp 500 ribu,” sambungnya.

Sejauh ini, drone tersebut baru dipakainya sendiri. Salah satunya untuk menunjang hobi videografi yang ditekuninya. (one/hn) Editor : Jawanto Arifin
#merakit drone #drone