MUKHAMAD ROSYIDI, Rejoso, Radar Bromo
PERAWAKANNYA kurus dengan tinggi sekitar 1,4 meter. Ia berkaus hitam lengan pendek dan bercelana pendek di belakang rumahnya ketika Jawa Pos Radar Bromo mengunjunginya.
Hari itu, Dedy Yusuf Efendi, 24, baru saja selesai memandikan ular piton peliharaannya. Berusia 10 tahunan dengan panjang mencapai 4 meter. Layaknya anak sendiri, kulit ular itu dibersihkan hingga kering. Kemudian ular itu dilepas begitu saja.
"Kalau sudah merasa kepanasan, dia akan pulang sendiri. Ular ini jinak dan belum pernah menggigit siapapun," katanya membuka obrolan.
Tak tampak rasa takut atau geli terhadap ular itu. Biasa saja. Bahkan, Angga, keponakannya yang baru berusia 6 tahun juga tampak akrab dengan hewal peliharaan pamannya itu.
Yusuf memelihara ular piton itu sejak menetas dari telurnya. Dia memberinya nama Snaky.
Selain ular piton, di rumahnya juga ada ular weling. Salah satu jenis ular berbisa. Juga ada biawak.
Yusuf merupakan remaja yang hobi memelihara hewan. Selain dipelihara, hewan-hewan itu diperjualbelikan untuk tambahan uang jajan.
Kata Yusuf, sebelumnya banyak sekali spesies ular yang dipeliharanya. Mulai cobra, ular hijau ekor merah, dan ular hijau biasa. Semuanya dipelihara di sebelah barat rumahnya. Dekat sungai petung.
"Sudah laku semua. Nanti berburu lagi. Saya biasanya mencari ular itu ketika malam," tuturnya.
Sebagai pemelihara ular berbisa, sudah puluhan kali Yusuf digigit hewan peliharaannya. Bahkan, di tangannya ada beberapa bekas luka gigitan ular. Ada yang tampak jelas berupa bulatan hitam di lengan tangannya. Itu bekas gigitan king kobra.
"Ini bekas king kobra. Alhamdulillah saya tidak apa-apa," ujarnya tertawa.
Gigitan itu diperolehnya di Malang. Saat itu, dia menghadiri sebuah event yang digelar perkumpulan pencipta reptil di Malang. Ia datang bersama teman-temannya.
Pada event itu, Yusuf tampil dalam atraksi menjinakan king kobra. Namun, ia tidak fokus. Alhasil, raja ular itu mematoknya. Pusing dan mual seketika dia rasakan. Namun, Yusuf masih sadar.
Saat itu juga, dia dilarikan ke dokter di Malang. Maklum, gigitan king kobra memiliki bisa yang sangat mematikan. Jika tidak segera ditangani akan berakibat fatal bahkan kematian.
"Saat diperiksa dokter, katanya tidak apa-apa. Saya tidak diberi obat malahan," ungkapnya mengenang.
Meskipun kata dokter tidak apa-apa, lengan tangan kanannya sempat bengkak. Ia biarkan saja bengkak yang dialami. Hingga seminggu kemudian, bengkak itu pulih.
"Saya sudah yakin sembuh. Soalnya dulu-dulu digigit ular berbisa ya sembuh," terang putra pertama dari tiga bersaudara itu.
Gigitan King Kobra itu, menurutnya, adalah salah satu yang dialami. Selama memelihara ular, sudah 50 kali dia dipatok ular berbisa. Yang paling sering adalah kobra dan ular hijau. Tapi, anehnya, ular yang menggigitnya lantas mati. Dan Yusuf hanya mengalami demam dan mual kemudian sembuh.
Yusuf sendiri pertama kali digigit ular saat kelas 6 SD. Memang ia sedari kecil menyukai hewan jenis reptile itu. Rumahnya yang dekat dengan barongan dan sungai, membuatnya mudah menemukan hewan-hewan itu. Suatu ketika, seekor ular hijau ekor merah didapatinya. Sontak, ia langsung menangkap.
"Saat saya pegang langsung menggigit. Ya saya kaget dan langsung melepaskannya," kenangnya.
Waktu itu ia dilarikan ke dokter. Kata dokter yang merawatnya, ia tidak apa- apa dan orang tuanya tidak perlu khawatir. Meskipun begitu, untuk menyembuhkannya perku waktu dua minggu.
"Setelah sehat saya kembali nyari ular. Nemu, saya bawa pulang. Ibu hanya bilang, hati-hati ularnya berbisa," ujarnya.
Namun, Yusuf tak takut. Malah dia sengaja melakukan berbagai macam cara agar ular itu mematoknya. Sebab, ia penasaran kenapa dirinya hanya demam dan mual saat digigit ular berbisa.
Benar saja, ular itu kemudian menggigitnya. Sekitar satu menit kemudian, ular tersebut mati. Sejak itu dia sadar ada yang berbeda pada dirinya. Namun, Yusuf enggan mencari tahu lebih jauh.
Kini, dia biasa dipanggil tetangganya untuk menjinakkan ular yang masuk ke rumah. Mulai dari yang berbisa dan tidak, semuanya dia jinakkan.
"Iya untung. Setelah ular saya jinakkan, saya diberi uang. Kemudian ularnya juga saya bawa. Untung dua kali kan," katanya tersenyum. (hn) Editor : Jawanto Arifin