Belasan pertokoan berdiri di Jalan Raya Gusdur, Sidomukti, Kraksaan, Kabupaten Probolinggo. Memang saat ini berupa pertokoan. Namun, dulu tempat itu merupakan tempat pengiriman barang dan warga yang hendak melakukan perjalanan.
Ya, di pertokoan itu dulu berdiri Stasiun Trem. Stasiun itu dipakai untuk mengirim hasil rempah, maupun tanaman warga setempat. Selain itu, dijadikan tempat pemberhentian untuk warga dari Kota Probolinggo atau yang hendak ke Kota Probolinggo.
Dari catatan PT Kereta Api Indonesia (KAI), Stasiun Kraksaan diresmikan bersamaan dengan pembukaan jalur trem Gending-Jabung sepanjang 19 km pada 1 Mei 1897. Modal awal yang dikeluarkan oleh PbSM sebesar 900.000 gulden. Kalau dikurskan ke rupiah saat ini sekitar Rp 7 miliar.
Saham tersebut terbagi menjadi 900 saham dengan masing-masing 1.000 gulden. Perusahaan yang membangun adalah perusahaan trem swasta, Probolinggo Stoomtram Maatschappij (PbSM).
“Pendiri trem saat itu berharap keberadaan trem dapat memenuhi kebutuhan transportasi yang murah, cepat, dan aman antarkota. Rutenya dari Paiton hingga pelabuhan Probolinggo,” Kata Humas KAI Daop 9 Jember Tohari.
Kala itu, pembangunan trem dilakukan bertahap. Stasiun trem itu juga diharapkan dapat mengangkut hasil pabrik di wilayah Kabupaten Probolinggo. Utamanya hasil pabrik gula (PG). Mengingat di wilayah Probolinggo ada beberapa pabrik gula. Di antaranya PG Wonolangan, PG Gending, PG Pajarakan, PG Kandangjati, PG Jabung, PG Bago, dan PG Paiton.
Stasiun Kraksaan melayani 12 kali perjalanan kereta api saat itu. Yakni, satu kali perjalanan pulang pergi (PP) Kraksaan-Paiton, satu kali PP Probolinggo-Kraksaan, dan empat kali PP perjalanan trem dari Probolinggo ke Paiton.
“Saat itu, letak Stasiun Kraksaan yang telah diresmikan dinilai cukup strategis. Di sisi barat stasiun terdapat beberapa fasilitas. Seperti rumah asisten residen, rumah kepala distrik, Pegadaian, rumah sakit, sekolah sropa, sekolah pribumi, dan kantor pos,” ujarnya.
Penumpang trem PbSM terbagi menjadi dua kelas. Yakni, Kelas 1 dan Kelas 2. Penumpang Kelas 1 untuk pegawai sipil Eropa, pegawai pribumi dengan jabatan tinggi, serta orang kaya golongan Eropa dan Tiongkok. Sedang Kelas 2 digunakan untuk orang Eropa dan Tiongkok yang kurang mampu serta khusus pribumi.
Kelas penumpang berpengaruh pada harga tiket. Pada tahun 1900, penumpang Kelas 2 harus membayar 30 sen untuk perjalanan trem Probolinggo-Kraksaan, 40 sen perjalanan sampai ke Paiton. Sedang dari Kraksaan ke Paiton cukup membayar 15 sen.
Sementara lama perjalanan dari Kraksaan ke Paiton sekitar satu jam. Lalu dari Probolinggo ke Kraksaan waktu tempuh yang dibutuhkan kurang lebih 1 jam lebih 10 menit. Kecepatan rata-rata trem saat itu 5 km/jam.
Barang yang diangkut utamanya adalah gula dari Pabrik Gula Kandangjati serta beberapa produk pertanian dan kebun setempat. Bahkan, pada Agustus 1924, wilayah Kraksaan merupakan salah satu penghasil padi. Hasil tersebut juga menjadi hasil bagi wilayah di Pasuruan.
“Untuk hasil kebun yang banyak diusahakan adalah kapuk randu yang juga diangkut menggunakan trem. Barang yang diangkut selanjutnya dibawa ke Pelabuhan Probolinggo. Sebaliknya, barang-barang kebutuhan masyarakat atau Pabrik Gula Kandangjati dibawa dari pelabuhan dan didistribusikan menggunakan trem,” ujarnya.
Namun, sejak 1943 trem tidak lagi beroperasi. Saat itu, beberapa trem dibongkar oleh Jepang. Rel yang dibongkar digunakan Jepang untuk pembangunan jalur kereta sebagai mobilisasi bahan bakar keperluan perang saat itu.
“Semasa pendudukan Jepang jalur trem Jabung-Paiton sepanjang 5 km dibongkar oleh tentara Jepang. Bahkan, beberapa rel dibawa ke Thailand dan Myanmar. “ ujarnya. (agus faiz musleh/hn) Editor : Jawanto Arifin