Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Cara Mereka Mencintai Kucing Tak Bertuan yang Telantar di Jalan

Jawanto Arifin • Rabu, 5 Januari 2022 | 17:41 WIB
STREET FEEDING: Eka Yanita bersama ibunya memberi makan kucing liar di TPS Purutrejo, Kecamatan Purworejo. (Foto: Fandi Armanto/Jawa Pos Radar Bromo)
STREET FEEDING: Eka Yanita bersama ibunya memberi makan kucing liar di TPS Purutrejo, Kecamatan Purworejo. (Foto: Fandi Armanto/Jawa Pos Radar Bromo)
BELAKANGAN kian banyak orang yang melakukan street feeding. Biasanya di tempat-tempat umum yang biasa menjadi lokasi pembuangan kucing. Bagi pecinta kucing, hanya cara ini yang bisa mereka lakukan terhadap kucing tak bertuan.

Suara toa masjid sudah saling bersahut-sahutan. Petanda sebentar lagi akan datang waktu maghrib. Suara lantunan puji-pujian juga terdengar di dekat jembatan Margo Utomo hingga di sekitar tempat pembuangan sementara (TPS) di Purutrejo, Kecamatan Purworejo.

Di TPS yang nampak sepi itu, terlihat Eka Yanita bersama ibunya membawa satu jeriken air ukuran 5 liter. Wanita asal Bugul Kidul tersebut juga membawa tas kresek berisikan dua bungkus makanan kucing dan beberapa bungkus nasi. Tanpa dikomando, puluhan kucing liar yang ada di TPS lalu mendatangi wanita berhijab tersebut.

Rupanya, kucing-kucing itu sudah akrab dengan Eka Yanita. Mereka tidak takut, bahkan nampak santai saat memakan pemberian Eka dan ibunya. “Saya memang menyempatkan waktu untuk datang dan memberi makan kucing-kucing ini. Kasihan mereka karena belum tentu dapat makan di TPS ini,” beber Eka.

Di TPS yang dekat dengan jembatan Margo Utomo ini memang sering menjadi lokasi pembuangan kucing. Saking banyaknya, pengelola TPS bahkan memberi papan imbauan larangan untuk membuang kucing.

Imbauan itu tidak hanya diberi tulisan. Tapi juga dipasang gambar wajah seram artis Suzanna saat memerankan hantu “Beranak Dalam Kubur” Ada juga tulisan: “Yang Buang Kucing Disini Hari Tuanya Dibuang Balik Sama Anak-anaknya. Amin...”

Tulisan-tulisan itu menjadi penanda bahwa jangan sampai di TPS selalu menjadi tempat pembuangan kucing. Tapi imbauan itu rupanya tak efektif. Sebab, kucing yang ditemukan di tempat ini semakin banyak. Apalagi jika masuk kemarau.



Kondisi itulah yang memantik Eka Yanita untuk memberi makan. Kebetulan dia juga pecinta kucing. “Di rumah ada kucing peliharaan. Kucing jelas butuh makan setiap hari. Sama seperti manusia. Jika tidak makan, bisa sakit,” kata wanita berkacamata tersebut.

Alasan itupula yang membuat Eka rela mengeluarkan rupiah untuk membelikan makanan kucing. Jikapun tidak ada, sisa makanan terutama lauk, bisa diberikan. Dan air di jeriken adalah air bersih layak konsumsi. Karena Eka yakin, kucing tidak akan bisa minum di sungai, meski lokasi TPS berada di tepi Sungai Gembong.

Apa yang dilakukan Eka adalah street feeding. Belakangan aktivitas ini banyak dilakukan bukan hanya dari komunitas pecinta kucing semata. Tapi juga orang-orang iba dengan hewan yang konon dicintai Nabi Muhammad SAW.

Selain Eka, ada Astriana. Wanita 47 tahun asal Kebonagung. Bukan hanya di TPS Purutrejo. Astriana juga sering mendatangi sejumlah pasar tradisional di Kota Pasuruan.

Bersama anaknya, Astriana biasanya mengendarai motor dan menyisiri sudut pasar. Jika menemukan kucing, dia membuka plastik berisi makanan kucing. “Buka satu, nanti kawan-kawannya akan muncul. Mereka makan bareng. Kalau kucing kurus, yang terlihat tulangnya atau masih kecil, saya sendirikan. Porsinya diberi lebih banyak,” kata Astriana.

Kebiasaan ini Astriana lakukan, sudah lebih dari lima tahun ini. Persisnya ketika dia pernah kehilangan kucing peliharaannya. “Saat itu yang hilang kucing anak saya. Karena sayang, kami berdua mencarinya. Ternyata saat menyisiri jalan, anak saya iba melihat dua kucing kampung yang telantar. Kami bawa pulang dan pelihara,” beber Astriana.

Sang anak, ternyata masih kepikiran. Semenjak itu, anaknya selalu mengajaknya untuk menyisiri jalan dan memberi makan. Karena tidak mungkin, kucing telantar yang mereka temukan, dibawa pulang untuk dipelihara. “Memelihara kucing itu kan juga perlu cost. Anak saya lalu menyadari dan hanya street feeding ini yang bisa kami lakukan,” beber Astriana.



Street feeding adalah cara yang paling murah, ketimbang memelihara di rumah. Satu bungkus makanan kucing, harganya kini bervariasi. Mulai Rp 10 ribu-50 ribu. “Meski ada yang harganya Rp 10 ribu, itu sudah cukup untuk mengenyangkan perut. Biasanya saya beli tiga bungkus. Anak saya selalu bersemangat selama menyisiri tempat-tempat yang jadi lokasi kucing telantar,” beber Astriana.

Aksi street feeding ini mendapat banyak dukungan. Menurut Panti Absari, street feeding timbul karena rasa sayang terhadap kucing.

“Kecintaannya terhadap kucing membuat mereka tergerak memberikan makan untuk kucing-kucing liar. Biasanya mereka adalah cat lover. Mereka sayang tapi mereka tidak mampu kucing-kucing itu dibawa pulang. Jadi, mereka melakukan yang mereka bisa. Hal ini menumbuhkan kepedulian terhadap salah satu mahluk ciptaan Tuhan, saya sangat mengapresiasi,” beber wanita yang juga Kasi Pelayanan Kesehatan Hewan Dinas Peternakan Kabupaten Pasuruan tersebut.

Persoalan populasi kucing yang semakin banyak, diakui Panti, memang menjadi persoalan. Apalagi jika keberadaan kucing-kucing liar, dianggap mengganggu manusia. Mencegah populasi kucing naik, adalah cara yang efektif. Agar, tak ada lagi kucing yang ditelantarkan. (fun) Editor : Jawanto Arifin
#populasi kucing #kucing liar #street feeding #sterilisasi kucing