Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Dari Ban Bekas, Pria di Gempol Tekuni Kerajinan dan Bertahan 31 Tahun

Jawanto Arifin • Selasa, 28 Desember 2021 | 20:15 WIB
MENGHASILKAN: Mulyadi membuat produk kerajinan dari ban bekas. (Foto: Rizal F. Syatori/Jawa Pos Radar Bromo)
MENGHASILKAN: Mulyadi membuat produk kerajinan dari ban bekas. (Foto: Rizal F. Syatori/Jawa Pos Radar Bromo)
Menjadi perajin dengan bahan dasar ban bekas bukanlah sebuah kebetulan bagi Nurhadi Mulyono, 55. Dia menekuni keterampilan ini sejak SMP. Dan puluhan tahun kemudian, Nurhadi tetap eksis. Bahkan, usahanya tidak terpengaruh pandemi. Normal seperti biasa.

---------------

BAN bekas memang bisa dikreasikan menjadi berbagai produk. Mulai sandal, bak sampah, dan pot bunga. Namun, selama 31 tahun bertahan membuat beragam produk dari ban bekas, tidak banyak yang bisa.

Salah satu orang yang bertahan itu adalah Nurhadi Mulyono, 55, warga Dusun Keboireng, Desa Ngerong, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan. Sejak tahun 1987 sampai sekarang, bapak tiga anak itu ulet menjadi perajin beragam produk dari ban bekas.

Photo
Photo
BANYAK ORDER: Mulyadi paling banyak mendapat pesanan dari Madura. (Foto: Rizal F. Syatori/Jawa Pos Radar Bromo)

Alat yang digunakan untuk membuat beragam produk pun terbilang sederhana. Hanya pisau dan cutter. Namun, dari sana beragam produknya dijual ke sejumlah daerah di Jawa Timur dan luar Jawa. Seperti Kalimantan dan Sumbawa.

Nurhadi sendiri menjadi perajin ban bekas sejak SMP. Lelaki asal Tulungagung itu awalnya belajar otodidak. Hanya ikut-ikutan tetangganya di Tulungagung yang saat itu banyak menjadi perajin ban bekas.

Namun, dari sini dia ternyata menemukan keasyikan tersendiri. Dia makin tertarik menekuni kerajinan ban bekas. Bahkan, selepas SMP pada tahun 1987, Nurhadi ikut saudaranya tinggal di Ngerong, Kecamatan Gempol.



Salah satu keingiannya, yaitu mengembangkan keterampilan membuat kerajinan dari ban bekas. Maka, di Ngerong dia lantas bekerja di sebuah tempat produksi kerajinan dari ban bekas.

Beberapa tahun kemudian, dia menikah dengan Umi Kulsum. Sejak menikah itu, Nurhadi pun memilih keluar dari tempat kerjanya. Dia lantas membuka usaha sendiri di rumahnya sekitar tahun 1990. Terhitung, sudah 31 tahun usaha itu dia jalani.

“Sejak saat itu saya membuka usaha sendiri di rumah sampai sekarang. Tiap pagi sampai sore, saya bekerja di teras. Sesekali dibantu istri dan anak,” katanya.

Nurhadi pun tidak terlalu kerepotan dengan usahanya itu. Untuk bahan baku, dia membelinya dari sekitaran Gempol dengan harga murah.

Semuanya lantas diproses dari bahan mentah menjadi beragam barang jadi. Mulai sandal jepit, pot bunga, dan bak sampah. Semuanya dilakukan sendiri oleh Nurhadi.

“Proses yang paling sulit yaitu mengupas hill ban atau bagian samping ban, karena ada kawatnya. Kalau proses yang lain relatif mudah,” cetusnya.

Dalam sehari ia mampu memproduksi puluhan produk. Untuk sandal jepit, rata-rata 30-40 pasang. Juga beberapa buah pot bunga dan bak sampah.

Semua dijual dengan harga berbeda. Sandal jepit per pasang Rp 10 ribu – Rp 20 ribu. Kemudian, bak sampah Rp 80 ribu dan pot bunga Rp 40 ribu.



Puluhan tahun menekuni kerajinan dari ban bekas, Nurhadi relatif terus berproduksi. Bahkan, selama pandemi Covid-19 pasar beragam produknya tidak terpengaruh. Permintaan terus datang. Karena itu, selama pandemi dia terus berproduksi.

“Sebelum dan saat pandemi permintaan normal saja. Lancar seperti baisa. Ada saja pembelinya,” ujar Nur, sapaan akrabnya.

Nur menjual aneka kerajinan produknya ke berbagai daerah di Jatim. Paling laku ke Pulau Madura. Selain itu, dia juga menjual ke Kalimantan dan Sumbawa.

“Pangsa pasarnya sudah ada. Kebanyakan orderan dari juragan atau pengepul, kemudian mereka jual lagi. Saya tinggal buat saja,” tuturnya.

Kini, meskipun usianya sudah tidak muda lagi, Nur tetap terus menekuni pekerjaan itu. Bahkan, dia ingin tetap bertahan selama masih sanggup.

“Selagi masih kuat, ya tetap produksi. Ini kan pekerjaan utama. Toh, saya ngerjakan santai. Tidak kejar setoran,” bebernya.

Kades Ngerong Jemik Sadiman menuturkan, kerajinan dari ban bekas buatan Nurhadi Mulyono adalah salah satu produk unggulan di desanya. Bahkan, Nur, menurutnya, adalah salah satu yang terus bertahan.

“Di desa ini dulu banyak perajin dari ban bekas. Kerajinan ini merupakan produk unggulan desa. Tapi, sekarang tinggal sedikit. Yang masih eksis salah satunya ya Pak Nur ini,” katanya. (zal/hn) Editor : Jawanto Arifin
#kerajinan ban bekas