Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Pabrik Gula Kandang Djati, Jejak Jaya Pabrik Gula di Kraksaan

Jawanto Arifin • Sabtu, 25 Desember 2021 | 18:19 WIB
MASIH KOKOH: Bekas bangunan PG Kandang Djati di Kraksaan yang sampai saat ini masih berdiri. (Foto: Agus Faiz Musleh/Jawa Pos Radar Bromo)
MASIH KOKOH: Bekas bangunan PG Kandang Djati di Kraksaan yang sampai saat ini masih berdiri. (Foto: Agus Faiz Musleh/Jawa Pos Radar Bromo)
PROBOLINGGO zaman dulu memiliki sejumlah pabrik gula (PG). Hampir sebagian besar terletak di wilayah Kabupaten Probolinggo saat ini. Salah satunya, PG Kandang Djati di Kecamatan Kraksaan yang sudah lama tutup.

PG Kandang Djati (SF Kandang Djatie) terletak di Kelurahan Kandangjati Kulon, Kecamatan Kraksaan. Tepatnya di belakang Perumahan Argopuro Permai. Gedung ini dibangun pada masa Hindia Belanda.

Pabrik gula ini terhubung langsung dengan Stasiun Kraksaan di Kelurahan Sidomukti. Stasiun ini diresmikan pada 1 Mei 1897 dan dibangun oleh perusahaan trem swasta, Probolinggo Stoomtram Maatschappij (PbSM) yang berkantor pusat di Den haag, Belanda.

Photo
Photo
DEKAT PERMUKIMAN: Permukiman yang ada di sekitar Kelurahan Kandangjati Kulon, Kecamatan Kraksaan. Di sekitar perumahan inilah PG Kandang Djati berdiri. (Foto: Agus Faiz Musleh/Jawa Pos Radar Bromo)

Pembangunan trem itu sendiri dilakukan secara bertahap. Salah satu tujuannya untuk mengangkut hasil pabrik di wilayah Kabupaten Probolinggo. Utamanya hasil pabrik gula.

Saat itu ada beberapa pabrik gula yang beroperasi dan masuk grup Probolinggo. Antara lain, PG Phaiton, PG Kandangdjatie, PG Bagoe, PG Padjarakan, PG Maron, PG Gending, PG Djatiroto. Lalu, PG Soekodono, PG Wonoaseh, PG Wonolangan, PG Oembnol, dan PG Soemberkerang. Dari pabrik-pabrik itu, produk gula dikirim ke Eropa.

Manager Humas KAI Daop 9 Jember Radhitya Mardika mengatakan, keberadaan Stasiun Kraksaan dulu bertujuan mengangkut barang hasil tani masyarakat. Termasuk gula dari Pabrik Gula Kandang Djati serta beberapa produk pertanian dan kebun setempat.



“Termasuk untuk pengangkutan barang dari Pabrik Gula Kandang Djati,” ujarnya.

Baru pada tahun 1943, trem mulai tidak beroperasi. Saat itu, beberapa trem dibongkar oleh tentara Jepang. Rel yang dibongkar digunakan Jepang untuk pembangunan jalur kereta sebagai mobilisasi bahan bakar keperluan perang saat itu.

Selama PG Kandang Djati beroperasi, geliat ekonomi masyarakat di Kraksaan pun terangkat. Terutama masyarakat di sekitar pabrik gula itu.

Setelah pabrik gula itu tutup, gedungnya beralih fungsi beberapa kali. Pernah menjadi pabrik penggilingan padi, disewakan untuk tempat pernikahan, dan kini jadi gudang tembakau.

Dan setelah puluhan tahun, sampai saat ini bekas gedung pabrik gula itu masih kokoh berdiri. Sejumlah kondisi bangunan berubah. Namun, ada juga yang masih asli. Seperti bagian atap bangunan.

Di sekitar bekas pabrik gula itu, kini berdiri permukiman padat pendudukan. Gedung itu bahkan ada tengah-tengah perumahan sekarang. Dulunya, lahan perumahan itu juga termasuk wilayah milik PG Kandang Djati.

Mul Sugiantoro, 59, salah satu tokoh masyarakat Kandangjati Kulon mengatakan, kondisi bangunan PG Kandang Djati saat ini masih banyak yang asli. Namun, sudah beralih fungsi beberapa kali.

“Kami tahun bahwa bangunan ini dulu pabrik gula. Saat ini ada bagian bangunan yang menjadi sarang burung. Sementara bangunan utama yang berada di tengah menjadi gudang tembakau,” katanya.



Menurutnya, tidak banyak warga yang tahu tentang sejarah pabrik gula itu. Hanya saja, saat dirinya masih kecil kondisi bangunan masih asli. Khas pabrik gula.

“Sekitar tahun 1972 saat keluarga kami baru pindah ke sini, masih ada satu cerobong di pabrik gula itu. Sekarang cerobong itu sudah tidak ada. Tempatnya di perumahan yang ada di selatan bangunan utama yang saat ini jadi gudang,” katanya.

Sebelum menjadi gudang seperti sekarang, bekas pabrik gula itu pernah jadi tempat penggilingan padi. Pada tahun 1972, masih ada warga yang menjemur gabahnya di selatan gedung utama.

“Setelah pabrik gula tutup, gedungnya berganti menjadi pabrik giling padi. Tempat gilingnya dulu ada di gendung utama itu,” ujarnya.

Kemudian, bangunan utama pernah disewakan untuk acara pernikahan. Saat ini di areal bekas pabgrik gula itu masih ada sejumlah rel trem yang terpasang. (agus faiz musleh/hn) Editor : Jawanto Arifin
#pabrik gula kandang djati #pabrik gula #pg kandang djati