Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Gus Haris dan Hobi Koleksi Motor Tua; Komunitas sebagai Syiar Agama

Jawanto Arifin • Jumat, 24 Desember 2021 | 23:16 WIB
ANTIK: Gus Haris mengecek motor tua koleksinya. Melalui komunitas motor yang diikuti, dirinya merekatkan silaturahim sekaligus syiar agama. (Foto: Achmad Arianto/Jawa Pos Radar Bromo)
ANTIK: Gus Haris mengecek motor tua koleksinya. Melalui komunitas motor yang diikuti, dirinya merekatkan silaturahim sekaligus syiar agama. (Foto: Achmad Arianto/Jawa Pos Radar Bromo)
Hobi bagi kebanyakan orang hanya dijadikan sebagai media menyalurkan kesenangan dan mengisi waktu kosong. Namun, KH. Mohammad Haris Damanhuri melakukannya lebih dari itu. Hobi mengoleksi motor tua dijadikanya sebagai media untuk membangun silaturahim, sekaligus syiar Islam.

ACHMAD ARIANTO, Pajarakan, Radar Bromo

DI sebuah garasi di selatan rumahnya, KH. Mohammad Haris Damanhuri mengecek puluhan motor tua berbagai merk yang terparkir rapi. Garasi yang menyerupai showroom tersebut nyaris tidak terlihat. Sebab, rumahnya berada di kompleks Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong, Desa Karangbong, Kecamatan Pajarakan, Kabupaten Probolinggo.

Satu per satu motor dicek, mulai dari kondisi bodi, hingga mesin. Sesekali bodi motor yang kotor dilap agar tetap bersih. Mesin motor juga dicoba agar tetal layak dipakai.

Sejak lima tahun lalu, Gus Haris panggilannya mulai mengoleksi motor tua. “Kalau ada waktu senggang dan tidak ada aktivitas di pondok, merawat motor tua menjadi kesibukan saya,” ujarnya mengawali cerita.

Photo
Photo


Meski baru mengoleksi sejak lima tahun lalu, Gus Haris sebenarnya menyukai motor tua sejak masih mahasiswa. Saat itu, dirinya memiliki satu motor vespa Kongo.

Kongo pun segera menjadi motor kesayangannya dan tidak pernah lepas dari aktivitasnya sehari-hari. Baik kegiatan kuliah, maupun kegiatan pondok. Hingga akhirnya sekitar tahun 2016, dirinya baru bisa mengoleksi motor tua.

“Baru ada rezeki dan keturutan membeli motor tua sejak lima tahun lalu. Setelah ada orang yang ingin menjual motor tua Yamaha V50. Kondisinya masih bagus, tapi dijual murah,” katanya tersenyum.



Tak sekedar membeli, dirinya pun mempelajari sejarah motor tersebut. Menurut berbagai referensi yang didapatnya, V50 adalah motor bebek pertama pabrikan Yamaha yang masuk Indonesia.

Memiliki satu motor, kemudian Gus Haris bergabung dengan komunitas motor tua. Tujuannya untuk mendapatkan ilmu. Juga belajar cara memperbaiki dan memelihara motor agar tetap nyaman.

Namun, tidak disangka banyak motor tua yang ditawarkan padanya. Dia pun tertarik untuk membeli. Hingga akhirnya dirinya menjadi kolektor motor tua.

“Masuk komunitas tujuan utamanya memang untuk belajar. Tak disangka banyak motor memiliki sejarah dan kondisinya masih bagus. Akhirnya saya beli untuk koleksi sekaligus investasi. Sekarang jumlahnya sudah 40 an unit,” tuturnya.

Menurutnya, koleksi motornya semuanya merupakan pabrikan Jepang. Karena itu, walaupun sudah tua spare partnya mudah didapat. Selain itu, lebih mudah untuk merawat motor.

Agar motornya tetap dalam kondisi baik, dia rutin menghidupkan mesin motor paling lama seminggu sekali. Sementara untuk perawatan mesin dilakukan saat akan digunakan. Pola perawatan inilah yang membuat seluruh motor miliknya masih nyaman digunakan.

“Memang ada perawatan secara berkala. Itu dilakukan semata-mata agar kondisinya tetap layak jalan,” ungkapnya.



Sebagai salah satu pengasuh Ponpes Zainal Hasan Genggong Pajarakan, Gus Haris tidak hanya memanfaatkan motor tua sebagai media penyalur hobi. Komunitas yang diikutinya pun dijadikannya media syiar agama.

Hal ini sebenarnya tanpa sengaja terjadi. Sebab mayoritas anggota komunitas sudah mengetahui dirinya merupakan bagian dari keluarga besar Ponpes Zainul Hasan Genggong.

Saat kopdar, ada saja rekan komunitasnya yang meminta tausiah. Dirinya pun tanpa canggung memberikan tausiah berdasarkan ilmu yang dimilikinya.

“Dari penjelasan yang saya berikan biasanya membuat tenang hati teman-teman yang nanya. Sehingga kegiatan komunitas akhirnya tidak sekedar untuk senang-senang. Tapi juga untuk syiar agama,” tuturnya.

Bagi Gur Harise sendiri, komunitas adalah wadah untuk menjalin silaturahim. Semua bisa masuk tanpa dibatasi agama. Dari silaturahim yang kuat itulah kemudian hal-hal positif dapat dibangun.

“Bahkan saking kuatnya silaturahim ada anggota yang jadi mualaf. Murni tidak ada paksaan,” tandasnya. (hn) Editor : Jawanto Arifin
#koleksi motor tua #ponpes genggong #gus haris