ARIF MASHUDI, Tongas, Radar Bromo
Stasiun Kereta Api Bayeman (Stasiun Bayeman) terletak di tepi jalan raya Bayeman di Kecamatan Tongas, Kabupaten Probolinggo. Berhadapan dengan Pasar Bayeman.
Dari luar, Stasiun Bayeman tampak lengang. Hampir tidak ada orang lalu lalang. Sekitar pukul 11.00, sebuah kereta api dari arah timur ke barat melintasi Stasiun Bayeman. Kemudian, seorang petugas stasiun melambaikan rambu dengan tangan, begitu kereta api melintas.
Stasiun Bayeman memiliki luas lahan sekitar 20 ribu meter persegi. Namun, area stasiun sendiri hanya menempati lahan sekitar 159 meter persegi dengan luas bangunan 41 meter persegi. Lumayan kecil dibandingkan ukuran lahannya.
Di areal bangunan sendiri, tidak banyak ruang dan fasilitas yang ada. Di luar bangunan misalnya, tidak ada tempat parkir untuk kendaraan bermotor.
Lalu begitu masuk, bangunan itu hanya terdiri dari beberapa ruang. Yaitu, ruang pengoperasian jalur dan sinyal untuk perjalanan KA (PPKA), ruang pelayanan peralatan pintu perlintasan (PJL), ruang salat, kamar mandi, dan hall atau ruang tunggu.
”Ya begini adanya bangunan Stasiun Bayeman. Tidak ada tempat parkir. Kamar mandi pun hanya untuk petugas stasiun,” kata Kepala Stasiun Bayeman Hari Susanto.
Hari sendiri sudah 14 tahun berdinas di PT Kereta Api (PT KA). Dan sejak dua tahun lalu, dia menjabat kepala Stasiun Bayeman.
Selama itu juga, dirinya menjaga Stasiun Bayeman yang berfungsi sebagai persilangan kereta api. Bukan stasiun transit. Itulah mengapa, kondisi stasiun sepi.
”Stasiun ini fungsinya hanya untuk tempat perlintasan kereta api, Sewaktu-waktu digunakan untuk persilangan atau penyusulan antara dua kereta api jika ada salah satu kereta api yang terlambat,” terangnya.
Secara umum, Stasiun Bayeman memiliki dua jalur perlintasan. Dua jalur adalah jumlah minimal bagi sebuah stasiun untuk menjadi stasiun transit. Penggunaannya, satu jalur untuk kereta transit dan satu jalur lagi untuk kereta api lainnya melintas. Akan lebih baik, jika ada tambahan jalur kereta api.
”Untuk menjadi stasiun transit memang masih banyak fasilitas dan bangunan yang harus disiapkan dulu. Tapi, untuk jalur kereta api, dengan minimal memiliki dua jalur sudah bisa jadi stasiun transit,” lanjutnya.
Sementara sebagai transit, Stasiun Bayeman butuh area parkir umum, toilet umum, loket, ruang informasi penumpang. Lalu, tempat ibadah untuk penumpang dan ruang tambahan petugas stasiun lainnya. Saat ini, Stasiun Bayeman hanya punya dua petugas tiap harinya. Yakni, satu orang PPKA dan petugas PJL.
”Saya sendiri belum tahu sejauh mana perkembangan Stasiun Bayeman ini akan menjadi stasiun transit. Tapi, yang pasti, Stasiun Bayeman ini dijadikan stasiun transit untuk mendukung KSPN Bromo,” terangnya.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Probolinggo Taufik Alami menjelaskan, rencana pemkab menjadikan Stasiun Bayeman sebagai stasiun transit terus berjalan. Hanya saja, untuk rencana itu Dishub tidak dapat alokasi anggaran penanganan Stasiun Bayeman. Kemungkinan, anggarannya melekat di OPD lainnya.
”Nanti kami akan koordinasikan dengan Bappeda soal rencana Stasiun Bayeman menjadi stasiun transit. Dulu kajian itu dilakukan oleh Bappeda,” terangnya. (mas/hn) Editor : Jawanto Arifin