RIZAL FAHMI SYATORI, Prigen, Radar Bromo
Berada di dataran tinggi, membuat Kecamatan Prigen di Kabupaten Pasuruan memiliki udara yang sejuk. Dengan tanah subur dan sumber air yang melimpah.
Kondisi ini membuat warga Prigen banyak yang berkecimpung dalam bidang pertanian, selain pelaku wisata. Salah satunya, budi daya tanaman hias seperti di Kelurahan Ledug.
Di luar itu, sejumlah petani fokus membudidayakan anggrek sebagai salah satu tanaman hias primadona. Juga tanaman hias unggulan di Prigen.
Di Prigen, budi daya anggrek banyak dilakukan di Dusun Jagil, Desa Gambiran. Kini bahkan makin banyak petani yang membudidayakan anggrek di Dusun Jagil. Hasilnya, budi daya anggrek di Jagil makin dikenal. Bahkan, terus berkembang selama beberapa tahun terakhir.
“Di tempat kami sekarang ada sekitar 20 petani anggrek. Mereka ini sekaligus penjual. Jadi, semua dilakukan sendiri. Mulai pembibitan, budi daya, hingga memasarkan atau menjual,” terang Mulyani, 38, salah satu petani Anggrek di Dusun Jagil.
Mereka yang fokus membudidayakan anggrek ini, rata-rata punya pengalaman berkerja di kebun anggrek milik sejumlah pengusaha. Kemudian, mereka memutuskan menjadi petani anggrek di rumah masing-masing.
Biasanya, mereka memanfaatkan lahan seadanya. Seperti, pekarangan dan teras, juga lahan tegalan. Di tegalan, beberapa petani membuat green house khusus anggrek.
Geliat para petani anggrek ini, menurut Mulyani, dimulai sejak 2015. Kala itu, lima petani memelopori budi daya anggrek. Mereka juga tergabung dengan Perhimpunan Anggrek Indonesia (PAI) Cabang Pasuruan Raya.
“Selain sudah punya pengalaman, para petani anggrek di daerah kami biasanya memang menekuni karena hobi. Hobi ini akhirnya jadi pekerjaan utama mereka,” tuturnya.
Salah satu keuntungan budi daya anggrek saat ini, yaitu pasarnya selalu ramai dan stabil. Didukung agroclimate di Prigen yang pas, seperti kelembapan air, suhu, dan lainnya.
“Selain itu, anggrek punya nilai jual tinggi. Harganya mulai puluhan ribu, hingga puluhan juta,” ucap Mul, sapaan akrabnya.
Cara penanamannya pun fleksibel. Bisa hanya ditempel, juga bisa ditanam. Dengan media penanaman yang mudah didapat. Seperti, arang, pakis, sabut kelapa, kayu pinus, dan lain-lain.
Namun, kekurangannya proses budi daya dari bibit hingga dewasa dan berbunga, butuh waktu lumayan lama. Bisa mencapai 2 sampai 3 tahun.
“Tapi, anggrek tidak perlu disiram tiap hari. Yang penting harus menjaga dan memperhatikan kelembapannya. Serta, harus telaten,” tutur Saiful, 40, petani anggrek lainnya.
Sebagai penyeimbang dan penyubur tanaman, dibutuhkan pupuk khusus selama budi daya. Baik itu pupuk kimia, maupun organik.
Dari sekian proses budi daya, proses penyilangan bibit adalah yang butuh ketelatenan tinggi. Petani harus sabar sampai bibit menghasilkan buah, untuk kemudian dijadikan bibit baru.
Sementara itu, jenis anggrek yang dibudidayakan petani di Prigen beragam. Di antaranya, dendrobium, anggrek bulan, vanda, bulbophylum, grammaphylum. Juga cymbidium, oncidium, dan lain-lain.
Bahkan, dalam enam tahun terakhir petani Anggrek di Prigen, menurut Mul, mampu menghasilkan puluhan varietas baru dari hasil kawin silang. Semua varietas pun telah didaftarkan pada lembaga internasional, Royal Holticultural Society.
Kini, masing-masing petani anggrek sudah memiliki konsumen atau pelanggan sendiri-sendiri. Kebutuhan konsumen mereka pun beragam. Ada pembeli yang butuh bibit, anggrek remaja, anggrek dewasa, hingga yang sudah berbunga.
“Intinya, anggrek semua usia itu laku dijual. Mulai bibit, sampai dewasa. Tergantung keinginan dan permintaan pembeli,” lanjutnya.
Pemasarannya sendiri dilakukan offline atau langsung di lokasi. Ada juga yang dilakukan secara online atau melalui medsos.
Pembelinya pun berasal dari hampir semua daerah di Indonesia. Bahkan, ada pembeli yang berasal dari luar negeri. Seperti dari Singapura, Malaysia, dan Filipina.
Basir, 35, petani anggrek lainnya dari Dusun Jagil menuturkan, para petani di Dusun Jagir dan dusun sekitar tidak hanya fokus budi daya anggrek. Secara sosial, mereka menjalin hubungan yang baik.
Sebulan sekali misalnya, ada kegiatan arisan. Lalu, minimal empat bulan sekali mereka menggelar pertemuan untuk saling tukar infomasi.
“Kami juga aktif ikut pameran. Biasanya pameran bergabung dengan PAI, ada juga yang pameran secara individu. Pernah ke Jakarta, Malang, Surabaya, Jogjakarta, dan Kalimantan. November kemarin di Batu, juara satu untuk display,” katanya penuh semangat.
Meskipun terus berkembang, sejumlah kendala dialami petani anggrek di lapangan. Sehingga membuat budi daya anggrek dinilai belum maksimal 100 persen.
“Kendala yang kami rasakan di sini sama. Yaitu, lahan, modal, dan support dari Pemkab Pasuruan yang masih minim,” tegasnya.
Ke depan, para petani berkeinginan menjadikan Prigen dan Kabupaten Pasuruan sebagai salah satu sentra anggrek nasional. Sementara ini, gelar itu masih disandang Kota Batu.
Sekretaris PAI Cabang Pasuruan Raya Ekaning Benawi pun memberikan apresiasi pada perkembangan budi daya anggrek di Prigen. Ibu rumah tangga yang juga petani anggrek asal Desa Tanjungarum, Kecamatan Sukorejo ini mengaku salut dengan perjuangan petani Prigen. Mereka konsisten mengembalikan eksistensi anggrek Pasuruan di tengah serbuan anggrek impor.
“Harapan kami ke depan, teman-teman petani anggrek Prigen ini bisa terus upgrade ilmu berkaitan dengan digital marketing. Gak cuma jadi petani anggrek biasa, tapi petani anggrek yang punya nilai plus,” pintanya. (hn) Editor : Jawanto Arifin