Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Potret Warga Miskin Ekstrem Kab Probolinggo; Rumah Gedek, Alas Tanah

Jawanto Arifin • Kamis, 9 Desember 2021 | 17:44 WIB
BELUM LAYAK: Salah satu warga miskin ekstrem di Kabupaten Probolinggo yang rumahnya masih gedek. (Zainal Arifin/Radar Bromo)
BELUM LAYAK: Salah satu warga miskin ekstrem di Kabupaten Probolinggo yang rumahnya masih gedek. (Zainal Arifin/Radar Bromo)
Setidaknya ada 3.762 warga miskin ekstrem di Kabupaten Probolinggo yang jadi pilot project pengentasan kemiskinan tahun ini. Kehidupan mereka pun jauh dari layak. Hanya memiliki penghasilan di bawah Rp 300 ribu sebulan dan rumah yang ditempati pun tidak layak.

ARIF MASHUDI, Tongas, Radar Bromo

Nurdin, 53, tinggal di Dusun Kapasan Lor, Desa Tongas Wetan, Kecamatan Tongas, Kabupaten Probolinggo. Menurut data resmi yang ada, dia termasuk salah satu warga miskin ekstrem di Tongas. Tidak jauh dari rumah Nurdin, ada juga rumah Sa’i, 60. Sa’i sama dengan Nurdin, termasuk warga miskin ekstrem.

Hari itu, Nurdin bersiap di pintu rumahnya. Dia dapat informasi, Plt Bupati Probolinggo Timbul Prihanjoko akan berkunjung ke rumahnya.

Maka sebelum Joko (panggilan Plt Bupati Probolinggo) tiba, Nurdin pun memantas-mantaskan rumah berdinding bambu dan berlantai tanah itu. Demi menyambut orang nomor satu di Kabupaten Probolinggo.

Namun, dipantas-pantaskan seperti apapun, rumahnya tetaplah rumah yang sangat sederhana. Dengan hanya berukuran 4 x 7 meter persegi. Lalu, di ruang depan ada dua kursi dan satu meja.

Ya, itulah ruang depan rumah Nurdin. Ruangan yang juga berfungsi sebagai tempat tidur. Di ruangan itu pula, tepatnya di samping meja ada tempat tidur dengan kasur tipis.

Lalu, di sebelah ruangan itu ada tempat tidur juga. Kemudian, di belakangnya dapur dan kamar mandi.



Dan ya, kondisi inilah yang juga menyentuh hati Plt Bupati Probolinggo Joko. Begitu sampai di rumah Nurdin, Joko pun langsung bertanya di mana Nurdin tidur.

Nurdin pun mengaku dirinya tidur di kasur yang ada di ruang tamu itu.”Iya saya tidur di sini, Pak,” ujarnya sambil menunjuk tempat tidur di ruang tamu itu.

Nurdin hanyalah satu dari sekian ribu warga di Kabupaten Probolinggo yang termasuk dalam kategori miskin ekstrem. Rumahnya terbuat dari anyaman bambu atau gedek. Lalu, lantai rumahnya beralas tanah dengan ukuran yang sangat terbatas.

Tidak ada ruangan yang sifatnya privasi. Kamar mandi pun, hanya bisa untuk mandi dan buang air kecil. Tidak ada WC atau jamban di rumah Nurdin. Di situlah dia tinggal bersama istri dan putrinya yang kelas 5 SD.

”Rumah kami tidak punya WC. Kalau mau buang hajat, ya menggali tanah atau ke sungai,” aku bapak satu anak itu.

Nurdin sendiri selama ini bekerja sebagai tukang becak. Tidak setiap hari dia dapat penumpang. Andai ada penumpang pun, jumlah tidak selalu sama tiap hari. Jarak tempuh tiap penumpang juga tidak sama.

Jelas sudah. Jumlah penghasilannya tidak menentuk setiap hari. Bahkan, sehari atau dua hari tidak dapat penghasilan sama sekali sudah sering dialaminya.



Kalaupun ada, dalam sehari dia hanya bisa dapat Rp 10 ribu sampai Rp 20 ribu. Maka tak heran, penghasilannya sebulan tidak sampai Rp 300 ribu.

Becak bukan lagi pekerjaan yang bisa diandalkan saat ini. Jumlah pemakai becak makin berkurang tiap hari. Kalah bersaing dengan ojek online.

Karena itu, mau tidak mau Nurdin pun harus mencari pekerjaan lain untuk tambal sulam pemasukan. Jika becak sedang sepi, dia pun mencari pekerjaan seadanya. Asal halal.

Saat ini yang paling sering dilakoninya adalah menjadi buruh panen mangga. Sebab, hampir semua daerah sedang musim mangga. Pohon-pohon mangga butuh dipanen. Dan dia pun memanfaatkan kondisi itu sebaik-baiknya.

”Kalau ada penumpang ya Alhamdulillah. Kadang saya ambil buruh panen mangga,” ujarnya.

Sebagai keluarga dengan kategori miskin ekstrem, Nurdin dan keluarganya mendapat sejumlah bantuan. Tahun ini rumahnya dapat bantuan rehab melalui program pembangunan rumah tidak layak huni (RTLH). Rehab akan dilakukan saat material bangunan sudah datang.

Rumahnya memang sengaja tidak langsung dibongkar. Sebab, dirinya dan keluarga tidak ada tempat tinggal lain untuk berteduh.”Saya dapat bantuan sembako dan PKH juga,” ujarnya.



Sa’i, tetangga Nurdin juga memiliki kondisi rumah yang hampir sama. Bapak dua anak itu tinggal di rumah sempit. Bagian belakang rumahnya bahkan kumpul dengan kandang sapi.

Sama dengan Nurdin, rumah Sa’i juga dapat bantuan rehab. Bahkan, bagian depan rumah itu sudah dibongkar.

”Saya ya tinggal di sini. Tempat tidur di belakang dekat kandang sapi,” katanya.

Memang, ada kandang sapi di rumah Sa’i. Namun, sapi itu bukan miliknya. Dia hanyalah buruh ternak sapi. Tiap hari, dia mencari rumput untuk pakan sapai.

Di rumah yang juga terbuat dari gedek itu, dia tinggal bersama dua anaknya. Ada kamar mandi di rumah itu. Namun, tidak ada WC. Karena itu, keluarganya harus ke sungai untuk buang air besar. ”Alhamdulillah, rumah saya mau direhab,” ujarnya.

Plt Bupati Probolinggo Timbul Prihanjoko memang sengaja datang ke rumah beberapa warga miskin ekstrem di Tongas. Tujuannya mengecek dan verifikasi langsung warga yang termasuk miskin ekstrem. Supaya, mereka yang terdata benar-benar yang termasuk miskin ekstrem. Sehingga penanganan pengentasan kemiskinan ekstrem akan tepat sasaran.

”Saya berharap kesadaran semua pihak, khususnya masyarakat. Jika dirasa sudah mampu, jangan mengaku miskin. Supaya penanganan pengentasan kemiskinan bisa tepat sasaran dan diberikan pada orang yang sangat berhak mendapatkan,” tegasnya. (hn) Editor : Jawanto Arifin
#pemkab probolinggo #kemiskinan ekstrem #kemiskinan kabupaten probolinggo