AGUS FAIZ MUSLEH, Kraksaan, Radar Bromo
SUARA gerinda pemotong besi terdengar di bengkel mobil di selatan jalan Desa Asembakor, Kraksaan. Di sana, Suparyono, 38, sedang duduk sembari menggosok bak truk yang disiapkan untuk mengangkut garam. Dijual ke luar Probolinggo.
“Biasanya pakai truk ini untuk pesanan dari luar daerah,” kata Suparyono sembari mengeluarkan gudang garam filternya.
Pria asal Rt 2 RW 1, Desa Kalibuntu, Kraksaan ini mengaku, sudah dua bulan tidak melakukan produksi garam. Sejak itu, enam hektare lahan garamnya kini dipenuhi air payau. Air di tambak yang sebelumnya hanya di atas mata kaki, kini sudah dalam. Sampai selutut orang dewasa.
“Tambak garam sekarang isinya ikan. Bukan lagi garam. Lihat saja, airnya tinggi,” beber pria yang juga ketua kelompok petambak garam Kalibuntu tersebut.
Pemandangan penuhnya air di tambak garam ini memang sudah sering terlihat saat musim hujan. Petani garam mengalihfungsikan lahannya menjadi kolam ikan. Kolam itu diisi bandeng. Ikan yang mudah perawatannya dan harganya diyakini lebih menguntungkan. “Yang saya sebar 10 ribu bibit ikan bandeng,“ ujarnya.
Ya, petani garam di Kalibuntu biasanya mengubah fungsi lahannya. Dari sekitar 100 petani garam, hampir keseluruhan melakukan hal itu. “Kalaupun tidak, mungkin bingung mau diapakan lahannya. Bisa jadi karena tersendat modal. Karena keuntungan bandeng ini tidak seberapa, cukuplah. Namun, jika dibanding dengan produksi garam ya jauh,” ujarnya.
Berhentinya produksi garam saat penghujan, tentunya sangat berpengaruh terhadap pemasukan para petani garam. Sebab, menjadi petani garam adalah ladang utama bagi mereka. Tak sedikit, para petani garam yang mengubah profesinya untuk memenuhi kebutuhan sehari.
“Karena tidak bisa produksi, kebetulan masih ada sedikit sisa garam di gudang. Jadi itu yang saya jual dikit sedikit untuk menuhi keseharian. Di samping itu, jika yang mau jual ke saya, ya saya ambil. Kemudian saya jual lagi,” katanya.
Selain jual beli garam, sejumlah petani garam juga ada yang harus mencari rezeki di daerah lain. Misalnya menjadi anak buah kapal (ABK) di daerah Banyuwangi dan Situbondo.
“Ada yang ikut berlayar kapal-kapal ikan di Banyuwangi dan Situbondo. Seperti di Muncar dan Panarukan,“ kata Suparyono sembari menghela napas.
Kenapa memilih keluar daerah? Sebab kebanyakan para petani garam di Kalibuntu tak memiliki penghasilan lain. Keahlian lain pun tak dimiliki, banyak juga para petani garam tak punya kapal untuk dapat berlayar mencari ikan sendiri.
“Meski mencari ikan di sini, kata orang sini itu hanya cukup untuk lauk saja. Artinya hanya bisa untuk dimakan sendiri. Sementara seperti petani garam kan memiliki anak dan istri yang juga punya kebutuhan lain,” bebernya.
Pilihan menjadi seorang ABK di daerah lain sejatinya tidak bisa menjadi ukuran para petani garam saat pulang mendapat uang. Hanya saja, hal ini sudah menjadi kebiasaan. Biasanya, selama musim hujan, para petani garam menjadi ABK selama 20 hari.
“Saat bulan purnama biasanya kan tak ada ikan, jadi pulang. Selama menjadi ABK itu pun belum tentu pulang dapat uang. Tergantung rezeki juga. Kalau tangkapan melaut banyak ya pulang bawa uang, kalau tidak ya tidak,” katanya.
Tak jauh dari lokasi tambak milik Suparyono, di sebelah barat, terlihat dua hektare lahan tambak milik Hadi, 47. Dia juga sudah memproduksi garam.
“Awal Oktober itu saya tabur benih bandeng. Eh malah terdampak banjir rob. Akibatnya, ikannya banyak yang lari. Dari 5.000 benih yang ditabur, paling tinggal beberapa saja,“ beber Hadi saat berada di ruang tamu rumahnya, di Desa Kalibuntu, Kraksaan.
Sejak mengalami kerusakan akibat banjir rob, tambak milik Hadi sudah tidak difungsikan lagi. Ia merencanakan, Januari mendatang penaburan benih bandeng kembali akan dimulai.
Hujan bukan satu-satunya kendala produksi para petani garam di Kalibuntu. Ada banjir rob yang bisa membuat para petani garam lebih ekstra mengeluarkan modal untuk produksi pertamanya usai musim hujan.
“Selain itu harus membenahi tambak yang jebol akibat rob. Belum lagi beli terpal agar saat produksi hasilnya bagus dan cepat. Kira-kira biayanya total Rp 20 juta. Itu untuk 4 hektare lahan tambak. Dua hektarnya ada di Kelurahan Patokan,“ katanya.
Hadi mengaku, pemasukan tiap harinya kini dari jual beli garam sisa di gudangnya. Tak banyak, di gudangnya hanya menyisakan 15 ton. Garam itulah yang diputarnya untuk mencukupi biaya sehari-harinya.
Para petani tambak garam berharap, pemerintah dapat memperhatikan para petani garam. Utamanya pada persoalan banjir rob yang merusak lahan garam milik petani.
“Agar banjir rob tidak mengenai lahan. Sehingga modal kami tidak begitu banyak keluar saat produksi pertama. (mu/fun) Editor : Jawanto Arifin