--------------------------------
GUA Jepang ada di dalam areal Inna Tretes Hotel dan Resort. Masuk Lingkungan Pesanggrahan, Kelurahan/Kecamatan Prigen. Bahkan, pintu masuk atau mulut gua berada di sisi utara kantor dan lobi hotel tersebut.
Karena ada di dalam areal hotel, keberadaan Gua Tretes belum banyak diketahui. Kecuali warga sekitar, pegawai hotel, dan para tamu atau pengunjung hotel.
“Ini gua buatan. Dibangun oleh pekerja romusa di masa penjajahan Jepang sekitar tahun 1943. Sampai saat ini kami jaga dan rawat. Kami juga pertahankan bentuk aslinya” cetus Setiyono, human capital Inna Tretes Hotel dan Resort.
Berbeda dengan kondisinya sekarang sebagai tempat wisata. Pada masanya, Gua Jepang itu difugsikan sebagai bungker atau tempat persembunyian. Sekaligus sebagai pertahanan dari serangan musuh atau lawan.
“Karena ini gua buatan, maka stalaktit atau stalakmit tidak ditemukan di Gua Jepang ini. Namun, seperti gua pada umumnya, di sini tinggal ratusan kelelawar,” tuturnya.
Secara fisik, gua ini dibuat dari tembok bata pada bagian atas dan samping. Sementara lantainya berupa tanah padat serta padas.
Tinggi mulut gua di pintu masuk sekitar 1,7 meter. Lalu, di bagian tengah tingginya mencapai 3 meter dengan lebar 2-4 meter.
“Panjang gua ratusan meter. Namun, yang bisa dilalui dengan jalan kaki hanya sekitar 100 meter. Selebihnya harus dilalui dengan cara merangkak,” katanya.
Sekitar tahun 2017, manajemen hotel membersihkan gua ini. Mulut gua atau pintu masuk gua juga dipercantik dengan taman-taman. Bahkan, dipasang juga lampu di sana.
Sejak saat itu, Gua Tretes bisa dikunjungi oleh tamu hotel. Bahkan, mereka bisa menyusuri gua dengan didampingi karyawan hotel. Namun, beberapa tahun terakhir gua itu tidak bisa lagi dikunjungi. Mereka yang berkunjung ke gua hanya boleh melihat mulut gua saja.
Lalu pada 2019, tempat itu ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Bupati Pasuruan. Setelah sebelumnya sempat disurvei lebih dulu oleh arkeolog dari Jogjakarta.
“Saat ini, gua memang tidak bisa dimasuki. Sebab, tanahnya labil, juga lembap. Jadi cukup melihat dari mulut gua, sekaligus selfie dengan tetap didampingi karyawan hotel,” ujar Marketing Manager Inna Tretes Hotel dan Resort Gunawan Sugih Mitra.
Hadi, 69, warga sekitar menuturkan, gua itu ditinggalkan begitu saja oleh Jepang ketika mereka kalah dari sekutu dalam perang dunia kedua. Para tentara Jepang kemudian kembali ke negara mereka.
Sementara gua itu dibiarkan begitu saja, tidak terawat. Bahkan, oleh warga sekitar dijadikan tempat pembuangan sampah. Sehingga sampah menutupi mulut gua.
“Dulu banyak tumpukan sampah, dahan, dan ranting menutupi mulut gua. Setelah dibersihkan baru diketahui itu gua,” bebernya.
Kondisinya bahkan masih utuh, serta orisinal. Pesona dan keindahan gua ini tak kalah dengan gua buatan maupun alami yang ada di Kabupaten Pasuruan dan tempat lain.
“Selain sebagai tempat pertahanan dan persembunyian tentara Jepang, gua ini juga berfungsi sebagai tempat penyimpanan logistik senjata, amunisi, dan makanan,” cetusnya. (rizal fahmi syatori/hn) Editor : Jawanto Arifin