------------------
MOBIL berwarna biru muda berjejer tidak beraturan di sisi selatan dalam areal pasar Kebonagung, Kota Pasuruan. Pintu dan jendela di bagian depan dan tengah pada kendaraan roda empat itu juga dibiarkan tertutup rapat. Tempat duduk bagi sopir dan penumpang pun kosong.
Begitulah pemandangan yang sering terjadi di Subterminal Kebonagung, Kota Pasuruan. Tempat mangkal bagi angkot di Kota Pasuruan tersebut, sehari-harinya sepi dan jarang berfungsi. Hanya tampak dua atau tiga kendaraan yang standby di lokasi itu.
Sopir yang ngetem di sana, tampak santai. Mereka sudah percaya bahwa rezeki ada yang mengatur. Jika ada penumpang, mereka akan narik. Jika tak ada, ya mereka menunggu.
Seperti yang dilakukan Suyitno. Pria yang usianya separo abad tersebut, terlihat duduk sendirian. "Sekarang angkot tambah sepi. Sebelum pandemi memang sudah menurun peminatnya. Apalagi dalam kondisi seperti ini. Sekarang banyak sopir yang memilih tidak menarik angkot sehari-harinya," ungkap Suyitno saat ditemui.
Pria asal Desa Warungdowo, Kecamatan Pohjentrek, Kabupaten Pasuruan itu mengaku, kesehariannya ia adalah sopir angkot line A1. Tapi ia tidak selalu menarik angkot. Ia hanya beroperasi saat Senin hingga Sabtu. Sementara Minggu, ia memilih untuk libur karena tidak banyak masyarakat yang mau naik angkot saat akhir pekan.
Saat hari aktif, angkotnya juga tidak pernah penuh. Dalam satu kali rute pulang pergi (PP) maksimal ia hanya membawa penumpang lima orang saja. Mayoritas mereka adalah siswa dan wanita yang hendak ke pasar. Sehingga rata-rata ia hanya membawa pulang uang Rp 30 sampai Rp 35 ribu sehari.
"Ini pun kadang harus menarik angkot tiga kali PP. Bahkan tidak jarang, uang simpanan saya ikut terkuras karena untuk biaya perawatan seperti ganti ban. Makanya kalau Minggu, ya saya libur. Banyak masyarakat yang sudah punya motor," jelas Yitno.
Kondisi serupa diungkapkan Wandi, sopir angkot line C. Warga Kelurahan Kebonagung, Kecamatan Purworejo ini mengaku, angkot mulai sepi sejak 2016 lalu. Saat itu transportasi online belum merebak seperti sekarang. Saingannya adalah abang tukang becak.
Dia masih ingat, di tahun-tahun tersebut dia masih bisa mencari penumpang hingga pukul 14.00. Karena meski peminat angkot mulai menurun, tapi banyak pelajar yang masih memanfaatkan angkot sebagai pilihan kendaraan menuju sekolah.
Tapi sejak 2020, pendapatan angkot semakin jeblok. Terkadang dalam sekali rute PP, ia tidak mendapatkan penumpang sama sekali. Sementara biaya operasional angkot pun tidak murah. Untuk empat kali rute PP, ia bisa menghabiskan bensin Rp 50 ribu. Namun penghasilan yang diperoleh hanya berkisar Rp 25 ribu sampai Rp 30 ribu.
"Jadi tidak menutup biaya operasional. Makanya angkot saya biarkan ngetem di terminal (Subterminal Kebonagung, Red) ini saja. Kalau dipaksakan cari penumpang, malah saya yang yang rugi. Duit belanja bisa kena pakai," katanya sembari tersenyum.
Untuk menutup kebutuhan rumah tangganya, ia memilih menerima carteran. Tarif sewanya pun disesuaikan lokasi tujuan. Kalau dalam Kota Pasuruan, sekitar Rp 100 ribu untuk 15 penumpang PP. Tapi jika tujuan keluar Kota Pasuruan seperti Ngopak, Rejoso atau Warungdowo, bisa Rp 150 ribu untuk 15 penumpang PP. Itu pun tidak selalu ada setiap pekannya.
"Yang terdampak bukan hanya sopir saja. Pemilik juga ikut kena dampak. Kalau dulu setiap hari, sopir bisa memberi setoran. Sekarang paling tiga hari baru setor. Pemilik angkot ikut maklum kondisi ini," terang Wandi.
Kasian, 55, warga Desa Plinggisan yang menjadi sopir line F mengatakan ia pernah mendapatkan hasil Rp 81 ribu. Namun itu diperolehnya lewat menarik angkot lima kali rute PP mulai pukul 07.00 hingga 13.00. Penghasilan tersebut tidak sebanding dengan operasional yang harus dikeluarkan. Selain itu ia juga harus memberikan setoran kepada pemilik angkot.
Maksimal dalam sehari, ia hanya bisa mendapatkan Rp 100 ribu. Karena itu, banyak pemilik yang menyiasati dengan tidak rutin mengganti oli. Melainkan langsung ditambah dengan oli baru. Sebab biaya pemeliharaan membutuhkan uang tidak sedikit. Sementara tarif angkot bagi umum cuma Rp 4.000 dan pelajar Rp 2.500.
"Kalau dapat Rp 81 ribu, saya bersihnya bawa pulang Rp 10 ribu. Ini pun sudah bagi dua sama pemilik. Pemilik juga dapat Rp 10 ribu. Karena itu pulangnya saya masih kerja membersihkan kamar mandi dan WC di puskesmas buat nambah," sebutnya.
Ketua Primer Koperasi Angkutan Darat (Primkopangda) Kota Pasuruan, Mashudi menyebut kondisi yang dialami oleh angkot di Kota Pasuruan disebabkan oleh berbagai faktor. Seperti keberadaan ojek online (ojol) hingga adanya sistem zonasi sekolah. Sebab, praktis mayoritas pelajar memiliki rumah tidak jauh dari sekolah. Sehingga mereka lebih memilih jalan kaki karena dekat.
"Harapannya kalau bisa pemkot dan dewan membantu dengan menjadikan angkot sebagai kendaraan pelajar. Mungkin ada subsidi, jadi pelajar tidak perlu membayar pada angkot. Kalau seperti ini bisa membuat angkot ramai lagi," bebernya.
Saat ini Angkot yang ada di Kota Pasuruan tersisa 65 unit yang beroperasi. Lima trayek juga sudah tidak ada. (fun) Editor : Jawanto Arifin