MUHAMAD BUSTHOMI, Gadingrejo, Radar Bromo
DI tangan lelaki 39 tahun itu, barang yang tadinya tidak berguna lagi, bisa kembali memiliki nilai manfaat. Sekaligus menghasilkan pundi-pundi uang. Tentu keduanya didapat dengan sedikit usaha. Dan yang terpenting, kreativitas.
Kegelisahan Zainul bermula ketika menjelang Lebaran beberapa waktu lalu. Kebiasaan warga mempercantik rumahnya sebelum Hari Raya Idul Fitri, membuat banyak bekas kaleng cat menumpuk di bank sampah. Barang-barang seperti itu sudah pasti tidak memiliki nilai ekonomi.
Kalau pun dijual, harganya sangat kecil. Karena itu, Zainul memiliki ide membuat aquascape berbahan bekas kaleng cat. “Waktu itu saya sudah sering membuatnya,” kata Zainul saat ditemui di sela-sela pembuatan aquascape di teras rumahnya di Kelurahan Randusari, Kecamatan Gadingrejo, Kota Pasuruan.
Sebelumnya, Zainul memang sudah terbiasa membuat aquascape. Juga dengan barang bekas sebagai bahan utama. Tapi bukan bekas kaleng cat. Dulu, dia membuat aquascape dengan sisa-sisa potongan pipa berukuran 3 dim yang sudah tidak terpakai. “Semua juga saya dapat dari bank sampah,” jelasnya.
Baik pipa maupun bekas kaleng cat, memiliki bentuk yang sama. Sehingga Zainul mulai berpikir bekas kaleng cat juga bisa ia gunakan sebagai aquascape. Cara membuatnya sama ketika dia membuat aquascape dari sisa potongan pipa air.
Dia lebih dulu memotong bekas kaleng cat hingga berbentuk setengah lingkaran. Hanya menyisakan beberapa sentimeter di bagian atas dan bawah saja. Bagian yang dipotong berfungsi untuk menampilkan sisi dalam bekas kaleng cat yang akan disulap menjadi aquascape.
Bahkan dengan bekas kaleng cat, dia cukup menggunakan cutter. Berbeda ketika memotong pipa yang harus memakai gerinda. “Kalau pakai cutter bentuknya tidak rapi, juga khawatir pecah,” ujarnya.
Selesai memotong bekas kaleng cat, Zainul mengukur mika transparan yang dikumpulkannya dari bekas bingkisan. Lalu dipotong menyesuaikan bentuk bagian depan bekas kaleng cat tadi. Semua tepi mika tersebut ditempeli selotip. Agar lebih mudah merekat ke kaleng.
“Selotip ini hanya berfungsi menempelkan saja,” kata Zainul.
Dia harus memastikan lagi dua barang itu merekat sempurna dengan lem korea. “Supaya tidak bocor, karena nanti kan dimasuki air,” bebernya.
Beberapa menit setelah lem mengering, Zainul menguji ketahanan aquascape yang sudah setengah jadi. Dia mengambil selang dan mengalirkan air ke dalam kaleng hingga hampir terisi penuh.
“Dari sini kita bisa lihat apakah ada yang bocor dan perlu dilem lagi,” ungkapnya.
Air yang memenuhi kaleng itu cukup tenang. Tidak terlihat gelembung di sana-sini. Sisi luar yang direkatkan dengan mika juga tidak terlihat basah. Itu artinya kebocoran tidak terjadi. Lem sudah bekerja sempurna.
Zainul kembali mengosongkan aquascape buatannya. Lalu mengisinya dengan pernak-pernik tanaman air. Ditambah dengan batu-batu kecil. Baru ia mengisinya kembali dengan air. Dan tentu saja, ikan hias yang mungil.
Aquacape buatan Zainul sudah siap dijual. Aquascape yang dibuat dengan waktu singkat itu bisa dibanderol dengan harga Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu.
Dengan uang segitu, Zainul tidak hanya menjual aquascape yang sudah lengkap dengan pernak-pernik di dalamnya. Setiap ada pembeli, dia juga memberikan bonus ikan hias meski satu atau dua ekor saja.
Ikan-ikan itu ia beli dari tetangganya yang punya budi daya ikan hias. Setidaknya, dengan cara semacam itu, dia berharap keuntungan yang didapat bisa dibagi-bagi. Tidak hanya dirasakan sendiri.
“Jadi saya tetap dapat untung, tetangga juga ada tambahan penghasilan,” jelasnya.
Bila bahannya tersedia melimpah, Zainul bisa membuat 30 aquascape sekaligus dalam sehari. “Saya menjualnya di marketplace online,” tandas Zainul. (hn) Editor : Jawanto Arifin