FAHRIZAL FIRMANI, Gondangwetan, Radar Bromo
POT tanaman itu disusun di sebuah rak di dekat pintu. Mereka memiliki warna senada, kecoklatan. Sekilas tidak ada yang berbeda dengan pot biasa. Namun, pot tersebut dikreasikan dengan tali rami. Sehingga, tampilannya pun lebih cantik dan artistik.
Itulah kreasi yang dibuat Dennyk Septyandini, 31. Kreasi itu dilakukannya sejak 2019. Saat itu, ia melihat Indonesia lagi demam tema rustic atau pedesaan. Banyak kafe menggunakan tema ini untuk ornamen pada bangunannya.
Dia lantas memanfaatkan momen dengan membuat dekorasi bertema rustic. Kebetulan ia memiliki produk tali rami yang dijual secara online.
Tali itu dimanfaatkan olehnya untuk membuat sejumlah aksesoris. Seperti cermin estetik, pot, hingga vas.
Karena aksesori yang dikreasikan dengan tali itu cukup bervariasi, ia pun membeli tali rami berbagai ukuran. Ada yang ukuran 6 milimeter, 8 milimeter, 10 milimeter, 12 milimeter hingga 20 milimeter.
Harganya berbeda-beda. Untuk ukuran 10 milimeter Rp 4.000 per meter, ukuran 20 milimeter senilai Rp 20 ribu per meter.
"Ternyata respons yang ada luar biasa. Banyak yang tertarik membeli. Cuma memang yang paling laris itu pot. Akhirnya saya putuskan fokus pada kreasi pot saja agar lebih maksimal," ungkap warga Perumahan Ranggeh Residence, Kecamatan Gondangwetan, Kabupaten Pasuruan ini.
Menurutnya, pembuatan pot cukup mudah. Hanya perlu menyiapkan pot untuk dilapisi dengan plastik UV yang tebal. Selanjutnya, tali dibentuk mengelilingi pot dan dilem dengan lem tembak agar langsung mengering. Lalu ujungnya dijahit dengan menggunakan senar.
Harga pot ini bervariasi tergantung ukuran dan bentuk. Semakin rumit bentuk potnya, maka semakin mahal harganya. Sebab, bahan bakunya juga butuh cukup banyak.
Ia sendiri menjual mulai harga Rp 35 ribu. Meski saat ini sudah tidak terlalu banyak kafe yang menggunakan tema rustic, tapi penjualan pot tali rami ini masih bagus. Ia menjual melalui sosial media, e-commerce dan lingkaran pertemanan yang dimiliki.
"Alhamdulillah selama ini tidak ada keluhan dari konsumen. Baik itu karena produknya kurang sesuai atau ada cacat karena pengiriman. Semuanya puas. Permintaan kebanyakan dari Malang dan Probolinggo," kata perempuan kelahiran Kota Probolinggo ini.
Selama inipun, tidak ada kendala dalam pembuatan pot tali rami ini. Namun, ia membuat kreasi tersebut saat dalam suasana hati yang baik. Meski begitu, saat ada permintaan dari konsumen ia pasti mengupayakan agar bisa selesai dengan baik dan sesuai keinginan mereka.
"Keinginannya sih bisa terus berkembang. Punya toko untuk display juga. Tapi ya gitu, kadang kendala ada pada diri sendiri. Kalau lagi capek ya bisa gak buat seharian," sebut perempuan yang berprofesi sebagai bidan ini. (hn) Editor : Jawanto Arifin