Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Jajanan Tradisional yang Masih Eksis di Kota Pasuruan

Jawanto Arifin • Jumat, 15 Oktober 2021 | 01:15 WIB
CEPAT HABIS: Suliyatin, 55, menjual aneka jajanan tradisional dekat GOR Unsur Kota Pasuruan. Dalam waktu tiga sampai empat jam, jualannya pun habis. (Mukhamad Rosyidi/Radar Bromo)
CEPAT HABIS: Suliyatin, 55, menjual aneka jajanan tradisional dekat GOR Unsur Kota Pasuruan. Dalam waktu tiga sampai empat jam, jualannya pun habis. (Mukhamad Rosyidi/Radar Bromo)
Bisa dibilang, modernisasi berlari cepat di semua aspek. Namun, tidak lantas menggusur semua yang berbau tradisional. Salah satunya, jajanan tradisional yang hingga kini masih disukai. Bahkan, bisnis jajanan tradisional ternyata menguntungkan.

MUKHAMAD ROSYIDI, Pasuruan, Radar Bromo

SUASANA masih pagi di Kota Pasuruan. Matahari baru menampakkan mukanya kemarin (13/10). Namun, sepagi itu sebuah lapak di dekat GOR Untung Suropati Kota Pasuruan sudah dipadati pembeli.

Beberapa pembeli sedang memilih jajanan yang ada di lapak itu. Digelar sederhana di atas meja.

Setelah dirasa cukup, mereka membayar sejumlah uang kepada penjual. Lantas mereka pulang dengan membawa kantung kresek berisi jajanan.

Itulah pemandangan yang saban harinya tampak di lapak milik Suliyatin, 45. Dia menjual aneka jajanan. Namun, bukan jajanan modern yang sedang booming. Perempuan itu menjual beragam kue tradisional. Ada cenil, lupis, serabi, dan jajanan ndeso lainnya.

"Saya buka pukul 06.00 dan pukul 09.00 sudah habis," kata perempuan asal Lumajang yang sudah belasan tahun jualan jajanan tradisional itu.

Suliyatin mengaku, berjualan jajanan tradisional sangat menguntungkan. Pembeli sudah berdatangan, bahkan saat dia baru membuka lapak.



Meskipun ramai, ia dengan tenang melayani pembeli satu per satu. Bahkan ia masih sempat mengobrol dengan para pembeli.

"Harga satu bungkus mulai Rp 6 ribu. Semakin banyak jenis yang dipesan ya semakin mahal,” katanya.

Biasanya, Suliyatin berjualan selama 3-4 jam saja. Rata-rata omzet yang dikantonginya sekitar Rp 1 juta.

"Alhamdulillah, memang banyak yang berminat pada jajanan ini. Kadang ada pembeli yang tidak kebagian," tuturnya.

Salah satu yang menjadi pelanggannya adalah Arifin, 40, warga Sekargadung. Arifin mengaku sangat menggemari jajanan tradisional. Sebab, selalu mengingatkannya kepada masa kecilnya. Namun, saat ini mencari jajanan tersebut sangat susah. Telat datang pasti kehabisan.

"Rasanya khas. Saya selalu suka dengan jajanan zaman dulu. Karena itu saya sering membelinya," katanya kemarin.

Suliyatin sendiri mengaku akan terus menekuni bisnis tersebut. Dia mengaku masih sanggup. Yang dikhawatirkannya, justru siapa yang akan melanjutkan bisnis tersebut sepeninggalnya.



"Iya jarang (yang jualan seperti saya). Kalau saya nanti nggak kuat jualan, siapa yang jualan? Anak cucu saya nggak mau jualan," timpal Suliyatin.

Penjual jajanan tradisional memang tak banyak. Bahkan, boleh dibilang jarang ditemui di Kota Pasuruan. Padahal, bisnis jajanan ndeso ini masih punya pasar yang luas dengan potensi cuan.

Jasyim, mlijo asal Winongan, Kabupaten Pasuruan, juga selalu kulakan jajanan tradisional ini. Sebab, banyak pelanggannya yang pesan saat dia keliling.

"Karena banyak yang nanya, saya selalu sempatkan kulakan beberapa jenis setiap hari," katanya.

Kalau dia tidak bawa, pelanggannya selalu protes. Jasyim sendiri memang tidak selalu kebagian. Kadang, dia kehabisan. Kadang juga, dirinya lupa.

Di pasar, menurutnya, banyak sekali pelanggan jajanan tradisional ini. Biasanya dia harus cepat kulakan agar tidak kehabisan. Yang banyak dipesan biasanya getas.

"Katanya getas itu enak. Selain itu, pelanggan biasanya nostalgia masa lalu. Mereka mengingat masa kecilnya yang suka makan getas," jelasnya. (hn) Editor : Jawanto Arifin
#jajanan tradisional #jajanan pasar