Siang itu seperti biasa Rudy Hartono, 51, warga Dusun Selatan, Desa Bermi, Kecamatan Krucil mengecek ratusan bonsai pohon kopi miliknya. Satu persatu tanaman kesayangannya di cek kondisi agar tetap tumbuh subur. Jauh dari lumut, gulma, dan serangga yang menghambat pertumbuhan bonsai.
Membuat bonsai pohon kopi merupakan salah satu hobi unik. Pasalnya, pohon yang digunakan tidak seperti biasa. Melainkan pohon yang ditanam pada kebun, memerlukan media tanam yang luas. Karena pertumbuhannya tinggi serta akar cukup besar untuk mencengkeram tanah. Disulap menjadi tanaman mungil dengan media tanam yang sempit dan ditempatkan pada sebuah pot.
Rudy (sapaan akrab Rudy Hartono) mengatakan hobi membuat bonsai pohon kopi sejak lima tahun lalu. Saat itu dirinya melihat warga dekat rumahnya menebang pohon kopi yang memiliki batang dan akar yang besar. Pohon ditebang hanya menyisakan akar dan beberapa senti batang di atas akar.
Saat mendekat, rupanya pohon tersebut memiliki usia yang cukup tua. Karena itulah dirinya meminta izin kepada pemilik pohon untuk mengambil dan membawa pulang.
"Di wilayah Krucil terdapat banyak pohon kopi. Beberapa di antaranya merupakan peninggalan saat zaman Belanda. Seperti yang ditebang warga saat itu. Makanya sisa tebangnya saya minta," ujarnya memulai cerita.
Sisa tebang pohon kopi kemudian dibawanya pulang. Lantas melakukan pengukuran lingkar batang dan besar akar. Dirinya kemudian berkeyakinan jika pohon tersebut telah berusia 20 tahun lebih. Hal ini didapatnya setelah bertanya pada pemilik pohon, diperkuat dengan pengukuran yang dilakukannya.
Pohon tersebut kemudian dibentuknya sekecil mungkin agar bisa ditanam dalam pot. Setelah mendapat bentuk yang diinginkan kemudian dirinya menanamnya pada tanah di pekarangan rumah. Rupanya pohon kopi tersebut tumbuh dan membentuk akar baru. Selanjutnya Rudy memindahkannya dalam pot. Dan hasilnya tidak mengecewakan. Pohon tersebut tumbuh subur dan menjadi bonsai.
"Butuh kesabaran agar pohon tumbuh, salah perawatan pohon akan mati. Media dalam pot merupakan campuran antara tanah humus, dan pasir. Serta perawatan rutin dilakukan lumut dan gulma harus dibersihkan," ungkapnya.
Melihat bonsai pohon kopi yang unik, membuatnya semakin tertarik untuk menambah koleksi yang dimilikinya. Dirinya pun rajin hunting pohon, keliling sekitar desa sampai hutan. Dengan sasaran pohon yang sudah ditebang dan menyisakan akar. Tidak heran jika sampai dengan hari ini dirinya telah memiliki 150 bonsai pohon kopi yang berhasil dibuatnya.
"Empat jenis kopi yang bisa di bonsai di antaranya arabika, robusta, liberika, ekselsa. Semuanya dari lereng Gunung Argopuro. Bonsai pohon kopi memiliki keunikan dari batang hingga akar. Nampak tua dan natural," tuturnya.
Jaga Varietas Pohon Kopi
Bonsai pohon kopi tidak hanya sekedar hobi unik. Keterampilan membuat bonsai merupakan salah satu upaya yang dapat menyelamatkan varietas kopi dari kepunahan akibat penebangan pohon. Selain itu pohon yang dibuat mini dapan menjadi sarana edukasi bagi orang yang belum pernah melihat pohon kopi secara langsung.
Bakal bonsai yang diperoleh Rudy merupakan sisa dari penebangan yang dilakukan oleh pemilik kopi. Berbagai alasan pun menjadi dasar pemilik kopi menebang, mulai dari pohon dirasa kurang produktif, pohon tidak subur, dan keinginan pemilik untuk mengganti jenis kopi yang ditanamnya.
"Kebanyakan warga menanam kopi untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Jadi pohon yang tidak produktif ditebang. Juga ada yang menebang karena ingin menanam kembali dengan pohon jenis baru yang masa tanan dan panennya lebih singkat," kata Rudy Hartono.
Sementara empat jenis kopi yang ada di lereng gunung Argopuro di antaranya arabika, robusta, liberika, ekselsa. Terancam semakin sedikit. Sehingga perlu dilakukan upaya penyelamatan salah satunya dengan membuat bonsai. Pada umumnya arabika dan robusta tumbuh dengan ketinggian 1,2 meter. Sementara liberika dan ekselsa dapat tumbuh sampai 10 meter.
"Untuk liberika dan ekselsa banyak warga yang engan menanam karena pohon tinggi menjulang. Sulit untuk memanen. Serta membutuhkan lahan yang cukup luas," ungkapnya.
Jadi Sarana Edukasi
Bonsai pohon kopi yang telah berhasil tumbuh, tak hanya bisa dinikmati sebagai tanaman hias saja. Melainkan juga dapat dijadikan sebagai media edukasi.
Baik jenis kopi, cara pembesaran, cara memelihara, dan cara memanen kopi. Hal ini juga lebih memudahkan orang untuk belajar. Sebab tidak perlu keliling kebun yang luas. Hanya perlu datang ke halaman rumah yang sewaktu-waktu bisa dikunjungi. Dari segi perawatan juga tidak semahal pohon kopi pada umumnya. Hanya biaya pemeliharaan saja.
Tak jarang saat orang melihat bonsai kopi milik Rudy, tertarik untuk memilikinya. Sayangnya tidak semua bonsai dijualnya. Hanya jenis tertentu yang jumlahnya banyak. Sehingga masih bisa dibuat bonsai-bonsai berikutnya sebagai pengganti yang sudah terjual.
"Banyak orang datang baik dari Probolinggo maupun dari luar daerah. Mulanya ingin tahu dan belajar perihal pohon kopi. Namun setelah berkeliling rupanya tertarik ingin memiliki. Dari segi harga cukup ekonomis kisaran Rp 1 juta hingga Rp 5 juta. Tergantung jenis dan usia pohon yang dibonsaikan," pungkasnya. (ar/fun) Editor : Jawanto Arifin