------------------
PARA wisatawan datang untuk merasakan sensasi berselancar dengan ban bekas. Lokasinya aman. Penikmatnya dipastikan memakai peralatan lengkap. Mulai dari helm hingga rompi pelampung.
Seperti Sabtu (9/10) pagi. Sejumlah wisatawan dari Surabaya, nampak berdatangan. Mereka berkelompok. Di antaranya adalah Kartika Rini, 22. Mahasiswi ini datang ke lokasi wisata river tubing Jumpinang bersama rombongan temannya.
Rini mengaku tahu dari sosial media, dan kabar dari rekan lainnya pernah berwisata ke tempat ini. “Biar tidak penasaran. Setelah mencobanya, ternyata seru juga dan asyik sekali. Tarifnya murah dan terjangkau, imbang dengan keseruhannya,” beber Rini, panggilan akrabnya.
River tubing Jumpinang ini berada di Dusun Manggihan. “Kami menyebutnya river tubing Jumpinang. Arung jeram di sungai Jumpinang tapi menggunakan ban bekas truk. Tidak kalah serunya dengan menggunakan perahu karet,” beber Kasun Manggihan Lulyanto.
Lulyanto mengaku, para pengunjung atau wisawatan yang datang biasanya ingin pacu adrenalin. Saat susuri sungai, bukan menggunakan perahu karet. Tapi gunakan ban bekas, dilengkapi pengaman helm dan juga rompi pelampung.
“Wisata alam pacu adrenalin ini, dirintis sejak 2018 lalu. Hingga sekarang masih aktif beroperasi. Di lapangan untuk operasional, dikelola oleh BUMDes,” tuturnya.
Di sepanjang sungai yang dilalui, terdapat bebatuan. Juga terdapat view pematang sawah yang indah, serta pepohonan lainnya. Berhawa sejuk karena berada di kaki Gunung Arjuno dengan ketinggian sekitar 500 meter dari permukaan air laut.
Orang dewasa dan remaja bisa menikmatinya. Termasuk anak-anak berusia minimal 12 tahun. Asalkan berani. Dalam sekali jalan, maksimal bisa sampai 10 orang.
“Di depan dan belakang didampingi oleh pendamping. Aman, dilengkapi dengan helm dan rompi pelampung. Pasti seru, biar tidak penasaran silahkan coba,” cetusnya.
Tiket masuknya per orang Rp 3.000. Parkir juga murah karena tarifnya untuk motor Rp 3.000 dan mobil Rp 10.000. Kemudian untuk mencoba sekaligus menikmatinya, cukup dengan sewa ban sudah disediakan oleh pengelola. Rute pendek 1,5 kilometer Rp 25.000. Sedangkan rute panjang 3 kilometer Rp 50.000.
Rute pendek dan panjang inilah yang membuat river tubing Jumpinang, banyak digemari. Bisa pilih sesuai budget.
“Dari lokasi wisata, jalan kaki dulu ke hulu sungai menyusuri tepian pematang sawah. Sampai finish, balik ke lokasi naik pikap bak terbuka berikut dengan bannya,” ujarnya.
Sebelum pandemi, tiap harinya wisata ini selalu ramai pengunjung. Terutama saat libur atau weekend. Selain dari Pasuruan, datang dari berbagai daerah di Jatim.
Termasuk dari Jakarta, Bandung dan Bali, serta turis mancanegara pernah. Seperti dari Jepang, Jerman, Australia dan lain-lain.
“Ada pandemi, sekarang jadi sepi. Pengunjung atau wisatawan ada saja, tapi tak banyak. Beberapa kali sempat pula tutup sementara, bersamaan adanya PPKM,” kata Lulyanto.
Tawarkan Spot Foto hingga Kuliner
River tubing Jumpinang memang menjual sensasi arus sungai. Asyiknya, sungai Jumpinang tak perlu menunggu musim. Mau musim hujan atau kemarau, sungai ini juga bisa dinikmati.
Menariknya lagi, lokasi wisata terbilang berada di desa dan kaki gunung. Namun memiliki akses mudah. Bisa ditempuh dengan kendaraan roda dua dan empat.
Jarak tempuhnya sekitar lima kilometer dengan kondisi jalan beraspal. Dari jalan nasional jurusan Surabaya – Malang via Desa Sengonagung dan Pager, Kecamatan Purwosari. Memasuki lokasi, jalannya berupa paving yang dibangun dari Dana Desa (DD) oleh Pemdes Sumberrejo. Terdapat area parkir untuk motor, juga mobil tersedia di tempat wisata alam ini.
“Dari jalan nasional ke lokasi, hanya 10-15 menit saja sudah sampai. Mobil bisa masuk, karena parkirnya luas,” ungkap Kades Sumberrejo Digsono.
Tak hanya itu, sarpras pendukungnya lengkap. Mulai dari toilet umum hingga 10 buah, lesehan kuliner, spot foto selfie. Hingga terapi ikan pun ada.
Jadi setelah river tubing selesai, pengunjung bisa langsung berbilas ataupun mandi. Untuk ganti baju bisa di toilet. Baru kemudian menikmati kuliner di lesehan, terapi ikan dan foto di spot selfi.
“Masing-masing tinggal sesuai selera saja. Pastinya sarpras pendukungnya bisa dikatakan cukup lengkap,” katanya.
Keberadaan wisata ini, operasionalnya dikelola BUMDes. Kedepan diharapkan bisa memberikan kontribusi PAD bagi desa. Selain itu, kerek perekonomian masyarakat sekitar.
“Saat ini pendapatan yang masuk, digunakan untuk gaji petugas dan perawatan saja. Kalau sudah menghasilkan lebih, tentunya masuk ke pemasukan desa. Sekarang kan masih proses merintis,” bebernya. (zal/fun) Editor : Jawanto Arifin