Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Terbang Wedar, Kesenian yang Dipercaya Jatuh dari Langit

Jawanto Arifin • Minggu, 26 September 2021 | 01:03 WIB
MASIH DIJAGA: Terbang Wedar di Desa Gading yang ukurannya besar. Sampai kini komunitas Terbang Wedar masih eksis. (Foto: Mukhamad Rosyidi/Jawa Pos Radar Bromo)
MASIH DIJAGA: Terbang Wedar di Desa Gading yang ukurannya besar. Sampai kini komunitas Terbang Wedar masih eksis. (Foto: Mukhamad Rosyidi/Jawa Pos Radar Bromo)
Sekilas Terbang Wedar sama dengan kesenian rebana lainnya. Tapi, bagi warga di Dusun Wedar, Desa Gading, Kecamatan Winongan, Terbang Wedar bukan sekadar kesenian yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu.

--------------

UKURAN rebana yang besar itu kini disimpan di rumah salah seorang warga di Dusun Wedar, Desa Gading. Ukurannya memang tak lazim. Diameternya saja sekitar 1 meter dan ukurannya 40 sentimeter.

Terbang atau rebana raksasa itu dijaga turun temurun oleh mereka. Rebana tersebut diyakini jatuh dari langit.

Sihab Alwi, 58, salah seorang penabuh terbang itu mengatakan, terbang tersebut diperkirakan berusia ratusan tahun. Di daerahnya terbang itu diwariskan turun-temurun oleh leluhurnya.

"Usianya kurang tahu pasti. Kakek-kakek saya dulu itu tidak ada yang tahu. Tetapi, ceritanya terbang ini tiban (jatuh dari langit, Red) dulunya," kata Sihab Alwi.

Ceritanya, kata Sihab, dulu ada seorang sesepuh desa bernama Mbah Kluntung. Dia menjemur kulit binatang untuk dijadikan terbang. Setelah kering, kemudian Mbah Kluntung membuat terbang dengan ukuran yang tak biasa. Entah, apa yang melatarbelakangi pembuatan itu, Sihab tidak mengetahui.

Setelah jadi, terbang itu di zaman dulu diserahkan kepada warga dusun yang berada di barat dusunnya. Namun, warga menolak. Dengan penolakan itu, Mbah Kluntung kemudian membuang terbangnya tersebut ke arah timur yakni ke Dusun Wedar.

Konon, jatuhnya terbang bersinar saat itu. Hingga kemudian membuat gempar warga. Sayang, warga Wedar juga menolaknya. Dan kembali dilemparkan ke arah barat.

Photo
Photo
RATUSAN TAHUN: Kesenian Terbang Wedar dipercaya sudah turun-temurun ratusan tahun. (Foto: Mukhamad Rosyidi/Jawa Pos Radar Bromo)

"Setelah di barat ditolak lagi dan kembali dilempar ke timur. Dari situ kemudian terbang itu menetap," katanya.



Menetapnya terbang itu sendiri, lanjut pria yang telah memiliki cucu itu, diketahui oleh Mbah Soleh Semendi. Karena itu, kemudian Mbah Semendi bertapa di sungai besar di sekitar Winongan. Sekembalinya dari bertapa, membawa terbang yang ukurannya sama. Namun, itu katanya merupakan yang perempuan.

"Jadi yang dibuat Mbah Kluntung itu adalah yang laki-laki. Sedangkan yang perempuan dibuat oleh Mbah Semendi," jelasnya.

Sejak saat itu, terbang tersebut digunakan untuk acara-acara penting. Seperti acara selamatan desa, orang-orang yang bernazar, dan lainnya. Bahkan, tradisi ini berjalan hingga sekarang.

"Kalau orang nazar mengundang Terbang Wedar ini dan lupa, pasti di rumahnya akan didatangi ular. Ular itu, katanya sebagai pengingatnya," terang Sihab.

Terbang Wedar juga sering diundang jika ada acara pernikahan, khitanan. Peminat kesenian ini juga masih banyak. Dalam sebulan, rata-rata mereka bisa mendapatkan 3-5 kali undangan. Sekali tampil, mereka bisa hingga 3 jam untuk bersalawat.

 

Penabuhnya Punya Ritual Khusus

Saat ini masih ada satu kelompok yang melestarikan kesenian Terbang Wedar. Penabuhannya juga tidak sembarangan. Ada ritual khusus sebelum memainkannya.

Mulai dari menyiapkan sandingan yang berisi beras, pisang, dan lain sebagainya. Juga, tidak lupa untuk menyalakan kemenyan. Jika itu tidak dilakukan, dipercaya akan menyebabkan pemainnya sakit setelah memainkannya. Juga akan berdampak pada suaranya.



"Memang begitu. Itu tidak bohong. Ketika tidak dilakukan, pasti begitu sudah (ada yang sakit, Red). Juga ada talinya. Biasanya diambil oleh warga untuk kesembuhan katanya," ujarnya.

Riyawan Budi Santoso, 29, salah seorang ketua RT setempat mengatakan, terbang itu memang dijaga dengan baik oleh warga. Meskipun usianya sudah tua, tetapi kayunya tidak dimakan rayap.

"Masih terjaga. Tidak rusak sama sekali. Hanya memang kulitnya yang sudah beberapa kali diganti karena sobek," tuturnya.

Ia menjelaskan, setiap acara selamatan desa, terbang itu selalu diikutkan. Bukan hanya di desanya, tetap tetangga desa juga demikian. (mukhamad rosyidi/fun) Editor : Jawanto Arifin
#terbang wedar #kesenian terbang