Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Warga Pasuruan Buat Kaligrafi dari Pasir Laut

Jawanto Arifin • Kamis, 23 September 2021 | 21:34 WIB
KREATIF: Mochammad Mabrur dengan karya kaligrafi dari pasir laut kreasinya. (Foto: Fahrizal Firmani/Jawa Pos Radar Bromo)
KREATIF: Mochammad Mabrur dengan karya kaligrafi dari pasir laut kreasinya. (Foto: Fahrizal Firmani/Jawa Pos Radar Bromo)
Selama ini kaligrafi sering dibuat dengan menggunakan pena di atas kertas atau diukir pada kayu dan tripleks. Namun, Mochammad Mabrur, 38, membuat kaligrafi dengan media pasir laut. Nilai jualnya pun menjadi lebih tinggi.

FAHRIZAL FIRMANI, Bugul Kidul, Radar Bromo

MOCHAMMAD Mabrur, 38, awalnya menekuni ukiran di media kaca. Dia lantas berinisiatif membuat kaligrafi, tapi dengan teknik yang berbeda.

Bukan lukisan kaligrafi atau ukiran kaligrafi di kayu atau tripleks. Melainkan dari bahan lain. Harapannya, tentu saja keligrafi karyanya itu bisa dijual dengan harga lebih tinggi.

Mabrur sempat berpikir membuat dari bahan kulit kerang. Sebab, dia memang suka pada dunia kerang. Namun, dia kemudian memutuskan menggunakan pasir laut sebagai bahan utama. Bukan kerang, namun masih erat kaitannya dengan kerang.

"Kalau mengukir atau kaligrafi memang sudah punya dasar saat membuat ukiran di kaca. Terus waktu itu kepikiran membuat kaligrafi tulisan Arab, tapi yang berbeda. Jadi, nilai jualnya bisa lebih tinggi. Makanya milih pasir sebagai media," ungkapnya.

Cara pembuatannya pertama membentuk pola kaligrafi yang diinginkan di atas tripleks menggunakan pensil. Selanjutnya, pola kaligrafi itu diberi lem kayu.

Bagian yang dilem lantas diarsir dengan pasir Lumajang. Sementara untuk latar belakang diberi pasir laut. Lalu di bagian tepi diberi kerang sebagai hiasan. Namun, penggunaan pasir laut atau pasir Lumajang bisa dibolak-balik sesuai selera.

Setelah selesai, karya itu didiamkan agar kuat merekat. Proses pengerjaannya sendiri memakan waktu dua hari. Paling lama adalah proses pengeleman. Sebab, dirinya harus hati-hati mengikuti pola kaligrafi.



"Terserah selera. Kalau ingin dibalik bahannya juga boleh. Misalnya pada bagian tulisan pakai pasir laut dan latar belakang kaligrafinya menggunakan pasir Lumajang," jelas warga Jalan Ir Juanda, Kelurahan Tapaan, Kecamatan Bugulkidul, Kota Pasuruan, ini.

Mabrur memasarkan karyanya secara online melalui sosial media dan e-commerce. Harganya bervariasi, tergantung pada ukuran dan tingkat kesulitan. Paling murah untuk satu item Rp 100 ribu dan paling mahal Rp 400 ribu.

Selama ini, pesanan kebanyakan dari luar Pasuruan, seperti Kota Malang, Kota Surabaya, hingga daerah di Jawa Tengah. Beruntungnya, Mabrur mengaku tidak pernah menemukan pembeli yang cerewet. Saat barang sampai, rata-rata mereka puas dengan produk buatannya.

Pria kelahiran Oktober 1982 silam ini menyebut, saat ini kendala yang dialami lebih pada pemasaran. Sebab, selama ini ia tidak pernah mendapatkan pendampingan tentang cara memasarkan atau membuat produk menjadi lebih menarik.

Ia hanya berupaya sendiri mengembangkan kerajinan kaligrafi pasir miliknya. Saat ini misalnya, ia sedang membuat lampu LED emergency yang akan dipasang di bagian tepi kaligrafi. Sehingga saat listrik dimatikan, kaligrafi bisa dinyalakan dan akan terang benderang pada tulisannya.

"Saat ini masih proses pembuatan. Ya, arahnya agar nilai jual juga lebih tinggi. Saat dipasang di kamar tidur misalnya, waktu mau tidur lampu dalam kondisi dimatikan, lampu LED-nya bisa dinyalakan. Jadi lebih bagus saat dilihat," terangnya. (hn) Editor : Jawanto Arifin
#kerajinan pasuruan #kaligrafi pasir laut