-----------------
SEBUAH perahu golekan terpajang di pelataran rumah yang ada di Banyupahit, Desa Bendungan, Kecamatan Kraton. Panjangnya sekitar 8,5 meter. Sementara lebar bagian tengahnya kurang lebih 1,5 meter.
Secara fisik, perahu tersebut belum sepenuhnya jadi. Karena masih perlu ada perapian. Termasuk pengecatan.
Itulah perahu buatan Sali. Siang itu (17/9), ia sibuk merapikan bagian-bagian pada perahu. Alat tatah kayu dipegang pada tangan kanannya. Sementara pensil, melekat di sela-sela telinga kanannya. Sesekali, ia menggarisi kayu dengan pensil yang dibawanya. Kemudian, tangan kanannya melayangkan alat tatah berulang.
“Kurang lebih waktu yang dibutuhakan untuk membuat satu perahu bisa sampai 1,5 bulan,” kata Sali.
Sali tidak sendirian mengerjaan perahu itu. Ia dibantu anaknya, Yusuf. Mereka mengerjakan berdua perahu pesanan pelanggannya itu. Maklum, ia diburu waktu. Karena, masih ada dua pesanan lain yang harus dikerjakannya.
“Masih ada dua pesanan lain yang belum tergarap. Kami harus cepat agar bisa menyelesaikan pesanan yang lainnya,” ungkap dia.
Kerajinan perahu golekan ini dilakoni Sali sejak remaja, ketika usianya masih kisaran 15 tahun. Waktu itu, ia belajar ke pamannya yang ada di Gerongan, Kecamatan Kraton.
Pelan-pelan, ia membantu pamannya. Hingga setahun berselang, dirinya memilih untuk membuka usaha perahu sendiri. “Awalnya memang tidak mudah. Tapi, karena terus belajar akhirnya bisa,” jelasnya.
Membuat perahu, membutuhkan proses yang panjang. Biasanya, satu perahu ia membutuhkan waktu hingga 1,5 bulan. Namun, kondisi itu bisa saja berubah ketika hujan melanda.
Pernah ia membuat perahu ketika hujan. Kayunya basah. Pengerjaannya pun susah. Bahkan sia-sia.
“Makanya, ketika hujan saya pilih berhenti. Ini yang membuat pembuatan perahu ketika musim hujan bisa memakan waktu lama,” imbuh dia.
Proses pembuatan perahu dimulai dengan menyiapkan kayu. Kayu jati menjadi bahan utamanya. Tak langsung dipasang ataupun disusun untuk dijadikan perahu. Tahap awal dengan cara pengapian kayu tersebut. Tujuannya satu, agar mudah melengkung.
“Proses pengapian ini bisa memakan waktu hingga dua jam. Selanjutnya, tinggal menyusun kayu-kayu tersebut,” katanya.
Agar kuat, bagian tengahnya diberi penahan. Setelah kayu tersusun, baru dilem untuk menghindari kebocoran. Setelah semua tahapan itu, barulah dilakukan pengecatan.
Menurut Sali, harga satu perahu dibandrol Rp 7,5 juta. Perahu tersebut dibuatnya berdasarkan pesanan orang. Selama ini, ia sudah menerima order tidak hanya di Kabupaten Pasuruan. Pesanan juga ia terima dari Lamongan.
“Sudah tak terhitung berapa banyak perahu yang saya buat. Ratusan perahu ada,” tambahnya.
Selain menjadi pekerjaan, pembuatan perahu merupakan tradisi keluarganya. Keluarganya di Gerongan memang merupakan pembuat perahu untuk nelayan. Kerajinan tersebut turun temurun digeluti keluarganya.
Bahkan, anaknya pun meneruskan profesinya. “Ini bagian dari warisan yang perlu dilestarikan,” pungkasnya. (one/hn) Editor : Jawanto Arifin