--------------
Petirtaan itu diyakini memiliki keterkaitan dengan Kerajaan Sirsorangan. Sebuah kerajaan kecil yang berpusat di Dusun Porangan, Desa Tambak, Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan.
Kerajaan itu diperkirakan sezaman dengan kerajaan Demak yang berdiri sekitar akhir abad 15 atau awal abad 16. Itu artinya, petirtaan itu berusia sekitar 500 tahunan.
Cerita tersebut didapat dari penuturan Asmoro, sesepuh Desa Manikrejo. Dan cerita itu pula yang selama ini dipercaya oleh warga desa setempat.
“Raja Sirsorangan memiliki menantu yang bernama Imam Suwongso,” terang Abdul Rozak, pemuda asal Desa Manikrejo.
Sebelum menjadi menantu raja, Imam Suwongso merupakan perajin perhiasan emas berwajah tampan dari Demak Bintoro. Dia berguru dan mengabdikan dirinya kepada seorang Mbok Rondo di sebuah perdukuhan. Kini dikenal sebagai Dusun Krandon di Desa Rejoso Kidul, Kecamatan Rejoso.
Latar belakang nama perdukuhan itu juga tak terlepas dari ketampanan Imam Suwongso. Saat itu, banyak perempuan terpikat padanya, hingga meminta cerai dari suami mereka. Akhirnya, ada banyak perempuan yang menjanda di perdukuhan itu.
Karena banyaknya janda di sana, perdukuhan itu pun dikenal dengan perdukuhan Krandon. Merujuk pada istilah Jawa yang berarti tempat para janda atau rondo.
Suatu saat, Imam Suwongso ingin menguji kesaktiannya. Dia memihak pada kerajaan Sirsorangan ketika bertempur dengan kerajaan Winongan yang dipimpin Pangeran Angkreng Kusumo.
“Dia kemudian dibekali cemeti oleh gurunya, Mbok Rondo itu,” imbuh Rozak.
Berbekal senjata cambuk sakti (cemeti), Imam Suwongso banyak menumpas pasukan kerajaan Winongan. Atas jasanya, Imam Suwongso diangkat sebagai menantu oleh raja Sirsorangan.
Dia lantas memboyong istrinya ke Desa Krandon. Sang putri raja pun bersedia. Namun, dia punya sebuah permintaan kepada Imam Suwongso. Dia ingin memiliki sebuah tempat pemandian atau petirtaan.
Dengan kesaktiannya, mudah bagi Imam Suwongso menuruti permintaan sang istri. Dia pun berhasil membuat sebuah petirtaan. Petirtaan itu dikenal dengan Sendang Beji.
Hingga kini, air terus mengalir dari petirtaan yang dikelilingi puluhan pohon gayam itu. Ketersediaan air yang melimpah di sana, dimanfaatkan warga sekitar dari zaman ke zaman, bahkan hingga saat ini.
Warga memanfaatkannya untuk beragam kebutuhan. Mulai mengairi lahan pertanian, juga untuk mandi dan kebutuhan lainnya.
Tak sedikit juga warga yang datang ke sana hanya untuk merasakan kesegaran sumber airnya. Kebanyakan memang anak-anak. Tetapi, ada juga petani yang ingin membasuh peluh setelah seharian bekerja di sawah.
“Dari dulu memang banyak yang mandi di sini. Beberapa orang menyebutnya sendang, karena konon ini dulunya tempat pemandian para putri,” terang Muhammad Munir, warga setempat.
Ekskavasi Temukan Susunan Tembok Bata Kuno
Cerita bahwa Sedang Beji adalah petirtaan kuno milik seorang putri raja, bisa jadi benar. Sejumlah bukti setidaknya menunjukkan bahwa bangunan sendang ini memang berasal dari masa lampau.
Pada tahun 2018, Kelompok Pelestari Cagar Budaya serta Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Pasuruan berupaya mengekskavasi petirtaan itu. Di tepi petirtaan, terdapat susunan tembok bata kuno. Sebelum sampai ke tengah petirtaan, ada beberapa anak tangga yang menurun hingga ke dasar.
Selama ini, beberapa warga kerap menemukan benda kuno di sekitar petirtaan. Seperti cincin, guci, koin, dan benda kuno lain.
“Banyak juga yang menemukan pusaka seperti keris. Tapi, warga tidak berani membawa pulang. Kalau cincin dan koin-koin gebok lebih banyak lagi,” tutur Munir –sapaan Muhammad Munir–, warga sekitar.
Kekhawatiran itu tak berlebihan. Sebab, beberapa peristiwa spiritual terjadi dan diyakini ada kaitannya dengan Sendang Beji. Misalnya pada 1980 silam. Saat itu, ada seorang perjaka tua yang kerap menghabiskan waktunya di sendang. Melamun dan menyendiri di sana.
“Ceritanya, dia pernah melihat perempuan mengenakan gaun berwarna kuning,” ungkap Rozak. Tak lama setelah itu, perjaka tua itu mengidap gangguan jiwa.
Cerita lainnya terjadi pada 2008. Saat itu, sekelompok orang dari sebuah perguruan kanuragan menggelar istighotsah di Sendang Beji. Tujuannya untuk mempertebal keilmuan dan mencari keris pusaka.
Keesokan hari setelah istighotsah itu, warga desa mengalami kesurupan masal. Dalam sehari, ada tiga warga yang kesurupan dalam waktu yang sama.
“Padahal warga itu tidak datang ke sendang dalam beberapa waktu terakhir, mereka kesurupan di rumahnya,” tutur Rozak.
Kesurupan masal itu berlangsung hingga tiga hari. “Setelah itu, nuansa mistis di sendang sedikit memudar,” kata Rozak. (muhamad busthomi/hn) Editor : Jawanto Arifin