BIASANYA tanah sawah berwarna kecokelatan. Namun, berbeda dengan tanah sawah di Gesengan, Desa Dandang, Kecamatan Gading. Warna tanahnya kemerahan. Penyebabnya, karena serpihan bata dalam jumlah banyak yang bercampur dengan tanah.
Bata itu bukan bata biasa. Melainkan bata untuk bahan membangun candi. Jumlahnya diperkirakan banyak. Sebab, tanah berwarna merah itu luasnya sekitar 2 hektare lebih.
“Luasnya dua hektaran mungkin. Pokoknya luas. Bisa dilihat kan. Di sawah ini banyak bata berserakan. Banyak yang sudah menjadi serpihan, “ ujar Anwar, 43, salah satu warga setempat.
Anwar mengatakan, warga sekitar secara turun temurun percaya bahwa di zaman Kerajaan Singosari ada seorang putri sakti yang hendak membangun candi di lahan itu.
Sayangnya, pembangunan candi itu diganggu seorang pencuri sakti. Pencuri itu jatuh cinta pada sang putri. Namun, sang putri menolak cinta lelaki itu. Akhirnya lelaki itu marah. Dia pun mengganggu pembangunan candi itu.
“Entah bagaimana cara pencuri sakti itu mengganggu. Yang jelas mereka berdua sama-sama saktinya,” terang Hasan, 66, warga yang rumahnya berdekatan dengan lahan sawah itu.
Karena diganggu, sang putri pun pergi dari tempat itu. Dia lantas membangun candi di tempat lain dan berhasil.
“Kabarnya pembuatannya di Desa Jabung Candi. Ya, Candi Jabung itu,” tuturnya.
Namun, memang tidak ada referensi yang jelas perihal pembangunan candi yang gagal itu. Hanya disebutkan, kisah itu terjadi sebelum Kerajaan Majapahit.
“Terjadinya di zaman Kerajaan Singosari. Tepatnya kapan, tidak tahu juga. Yang jelas, untuk sisa pembangunan candi bisa dilihat dari batu bata yang ada,” lanjutnya.
Cerita turun temurun itu bagi mereka bukan sekadar pepesan kosong. Buktinya, di sebelah timur lahan sawah itu ada tanah seluas 12 meter yang ditanami pohon jati. Di tanah itu juga bertumpuk batu bata dengan ukuran tak biasa. Yaitu segi empat, bukan segi panjang.
“Bata biasa kan persegi panjang. Ini segi empat. Ukuran empat sisinya sama,” tutur Lukman.
Saat dia masih kecil, menurut Lukman, cukup banyak bata itu bertumpuk di sana. Namun, saat ini sudah tertutup daun dan ada juga yang hilang atau dibuang.
Bahkan, di lahan sawah itu dia dan petani lain sering mendapati sisa bata yang berbentuk fondasi. Tidak perlu sampai dalam menggali, fondasi sudah ditemukan.
“Kami sering menemukan bata, misalnya saat membuat irigasi. Biasanya ya dicongkel kemudian dilempar ke pematang, “ ujarnya. (agus faiz musleh/hn)
Banyak Temukan Barang Kuno
Bekas candi yang urung dibangun oleh seorang putri itu sebenarnya masuk Desa Dandang, Kecamatan Gading. Namun, masyarakat sekitar menyebut Dusun Bataan, Desa Kertosono. Dusun Bataan diambil dari kata bata yang menumpuk tersebut.
“Lumrahnya memang ada di Dusun Bataan. Namun, teritorialnya masuk wilayah Desa Dandang,” jelas Anwar, 43, warga sekitar.
Dulu, menurutnya, banyak petani menemukan barang-barang kuno di sekitar lokasi. Misalnya piring kuningan dan patung. Lalu, vas bunga zaman dulu, lesung, dan batu persegi yang konon digunakan untuk membuat obat-obatan herbal.
Sejumlah patung juga ditemukan di sana. Karena banyak ditemukan patung, sawah itu pun disebut sawah arca (patung).
“Sekitar 10 tahun lalu ada yang menemukan patung, tapi entah saat ini ada di mana. Juga ada patung besar yang masih terpendam di tanah. Ada juga lesung batu yang dibuat untuk numbuk padi. Tapi, sudah berlubang, “ Ujarnya.
Saat ini, lokasi bekas candi seluas dua hektare tersebut telah dijadikan lahan pertanian. Mulai bertanam padi sampai tembakau.
“Bisa ditanami padi atau tembakau. Bertanam padi di sini hasilnya bagus, karena airnya cukup. Panen bisa 7 sampai 8 ton per hektare,” katanya.
Anwar sendiri mengaku pernah menggali sawah itu untuk mencari tahu fondasi candi yang dipercaya warga. Setelah menggali 5 meter, baru fondasi candi ditemukan.
“Sekitar 5 meter baru fondasi ketemu. Tersusun rapi seperti fondasi. Namun, karena sudah menjadi lahan pertanian, maka prioritasnya adalah mengolah tanah, “ ujarnya.
Anwar pun mengaku tidak tahu apakah pihak berwenang pernah mengecek lokasi itu atau tidak. Yang jelas, candi tersebut memang benar adanya.
“Mungkin ada yang pernah datang dari pemerintah. Tapi, saya tidak pernah bertemu. Yang jelas candi ini memang ada,” tuturnya. (agus faiz musleh/hn)
Editor : Fandi Armanto