Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Petani Tambak Udang Vanami di Bangil yang Mencoba Sistem Buvani

Fandi Armanto • Sabtu, 4 September 2021 | 16:50 WIB
PAKAI TEKNOLOGI: Pengelolaan tambak udang milik Agus Amirudin yang pakai alat modern. (Foto : Iwan Andrik/Jawa Pos Radar Bromo)
PAKAI TEKNOLOGI: Pengelolaan tambak udang milik Agus Amirudin yang pakai alat modern. (Foto : Iwan Andrik/Jawa Pos Radar Bromo)
Karena limbah perusahaan, hasil panen udang milik Agus Amirudin sering gagal. Petani tambak asal Kalirejo, Kecamatan Bangil, itu pun berusaha menyelamatkan tambak miliknya. Dia lantas mencoba sistem Budi Daya Udang Vaname Skala Mini (Buvani) menggunakan terpal, dengan mengambil air dari sumur bor.

 

DUA kolam terpal itu berada di Kalianyar, Kecamatan Bangil. Lokasinya berdekatan dengan tambak tradisional yang dimiliki Agus Amirudin, 52. Masing-masing memiliki ukuran yang sama. Diameter 15 meter.

Sebuah kincir air menghiasi masing-masing kolam. Di atasnya ada penutup untuk menghindari udang-udang kepanasan. “Ini masih tahap uji coba kolam,” kata Agus saat ditemui di tambak udang miliknya.

Agus mengaku, sejak dua bulan terakhir melakukan uji coba untuk budi daya udang skala mini. Inspirasi itu muncul dari kesuksesan temannya di Kraton, Kabupaten Pasuruan, yang membudidayakan udang dengan sistem serupa. Yaitu, menggunakan terpal.

Hanya dengan kolam seluas 170 meter, temannya bisa menghasilkan 1 ton udang. Bahkan bisa lebih. “Saya tertarik, karena dengan skala mini bisa berproduksi tinggi,” ungkapnya.

Apalagi, sistem tersebut bisa menghindari dampak pencemaran air. Maklum, budi daya ikan dan udang di wilayah Kalianyar, Kecamatan Bangil, rentan terkena pencemaran. Sebab, sering ada pembuangan limbah cair dari perusahaan yang mengalir dari Kali Masangan, Kecamatan Bangil dan sungai-sungai lainnya.

Hal itu membuat petani tambak udang seperti dirinya, kerap mengalami kerugian. Lantaran udang yang dibudidayakan mati terkena limbah perusahaan.

“Kondisi itu tidak hanya sekali dua kali. Tapi, berulang. Kami rugi puluhan juta imbas banyak udang yang mati. Gagal panen,” akunya.

Dari situlah, ia tergerak menerapkan sistem yang lebih aman. Salah satunya dengan penerapan budi daya udang dengan terpal. Atau biasa disebut budi daya udang skala mini empang plastik (Busmetik) atau budi daya udang vaname skala mini (Buvani).

Saat pertama mencoba, sistem tersebut memang memakan biaya yang tidak sedikit. Karena, harus membangun sarana penunjang. Selain penggalian lokasi, juga pemasangan terpal, hingga pembangunan sarana pembuangan dan infrastruktur penunjang. Jutaan rupiah ia keluarkan untuk satu kolam terpal.

“Tapi, biaya itu kan hanya sekali dikeluarkan. Selanjutnya, tinggal memanfaatkan saja,” ulasnya.

Photo
Photo
PAKAI TERPAL: Agus Amirudin membudi daya udang vaname skala mini (Buvani) menggunakan terpal. (Foto : Iwan Andrik/Jawa Pos Radar Bromo)

Kolam berdiameter 15 meter tersebut, bisa menampung hingga 60 ribu bibit. Ia memproyeksikan, bisa memanen hingga lebih dari satu ton untuk setiap produksinya. Bayangkan, jika harga per kilogram Rp 50 ribu. Pundi-pundi rupiah bisa didapatkannya.

“Harga udang vaname antara Rp 50 ribu hingga Rp 75 ribu. Tergantung ukuran juga. Dalam setahun bisa panen tiga kali sampai empat kali,” jelasnya.

Ia mengakui, saat ini belum menikmati hasilnya. Karena, masih tahap uji coba. Namun, setidaknya ancaman gagal panen karena limbah bisa ditekan. Sebab, air yang digunakan tidak memanfaatkan air tambak. Tetapi sumur bor.

“Dengan menggunakan sumur bor, risiko pencemaran air akan ditekan. Tentunya akan berpengaruh terhadap kondisi udang,” akunya.

Secara keseluruhan, diakuinya produksi tambak tradisional memang lebih tinggi. Karena, kapasitas tambak tradisional lebih mampu menampung banyak bibit udang.

Seperti tambak tradisional yang dimilikinya. Bisa lebih dari ratusan ribu bibit ditampung di lahan tambak seluas satu hektare tersebut.

“Namun, risiko budi daya udang di tambak tradisional juga lebih besar. Karena, harus berhati-hati dalam mengisi air tambak. Jangan sampai tercemar. Jadi, untuk budi daya udang dengan terpal ini bisa menjadi alternatif bagi petani tambak skala rumah tangga,” sampainya. (one/hn) Editor : Fandi Armanto
#budi daya udang vaname skala mini (Buvani) menggunakan terpal #perikanan kabupaten pasuruan