Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Gua Widodaren, Tempat Suci yang Harus Berhati Bersih saat Datang

Jawanto Arifin • Sabtu, 28 Agustus 2021 | 19:30 WIB
SAKRAL: Gua Widodaren di Desa Wonokitri, Tosari, Kabupaten Pasuruan disakralkan sejak zaman nenek moyang warga Tengger. (Foto: Istimewa)
SAKRAL: Gua Widodaren di Desa Wonokitri, Tosari, Kabupaten Pasuruan disakralkan sejak zaman nenek moyang warga Tengger. (Foto: Istimewa)
BAGI warga suku Tengger di dataran tinggi Bromo, gua Widodaren memiliki arti penting. Gua ini dipercaya ada sejak zaman Kerajaan Majapahit. Bahkan, merupakan tempat tinggal beberapa putra-putri Roro Anteng dan Jogo Seger. Suami istri yang dipercaya sebagai nenek moyang warga Tengger.

Gua Widodaren berada di Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan. Di lokasi itu, terdapat mata air yang diyakini memiliki nilai lebih.

Setiap kali menggelar upacara Melasti atau pengambilan air suci, warga Tengger mengambil air dari Gua Widodaren. Air suci itu lantas digunakan untuk pembersihan diri dan benda pusaka milik pura.

Irawan, salah seorang sesepuh warga Suku Tengger, Kabupaten Pasuruan, mengatakan, dulu Gua Widodaren itu tempat tinggal anak-anak Roro Anteng dan Joko Seger. Dari 25 anak yang mereka miliki, tiga anak tinggal di sana. Karena itu, Gua Widodaren disakralkan. Bahkan sampai sekarang.

"Bukan satu ya. Jadi, tiga anaknya itu melinggih di sekitar Widodaren," katanya.

Menurutnya, di Gua Widodaren tersebut terdapat air suci. Air tersebut diyakini warga Suku Tengger merupakan air yang memiliki nilai lebih. Sumber air itu tidak pernah surut sejak zaman nenek moyang warga Tengger.

"Segala upacara ritual seperti Nyepi, Karo, dan lainnya menggunakan air dari Gua Widodaren. Kami tidak bisa menyebut air itu untuk pengobatan atau apa ya. Yang pasti memiliki nilai lebih," ungkapnya.

Karena itu, air di Gua Widodaren sangat dijaga, juga dihormati. Warga Tengger bahkan percaya, orang yang berniat buruk di Gua Widodaren pasti akan terkena sial.

Karena itu, siapapun yang datang ke Gua Widodaren harus memiliki hati yang bersih. Dan niatan yang baik pula. Sehingga, tidak malah terkena sial.

Dulu, di gua itu ada air yang memancar dari batu. Lalu, ada seseorang yang berniat buruk dan kemudian mencongkel batu itu. Nahas, pulang ke rumahnya orang tersebut menjadi gila.

"Itu salah satu ceritanya. Kalau yang lain ada juga. Tapi yang paling jelas ya cerita ini. Begitu tiba di rumahnya, orang ini menjadi gila," ungkapnya.

Berdasarkan sumber lain, tak sedikit yang meyakini bahwa Gua Widodaren yang terdiri atas dua ceruk gua terpisah itu, merupakan gua lanang dan gua wadon. Keduanya adalah pertapaan sepasang kekasih ketika sedang memohon keturunan kepada Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa.

Spiritualitas inilah yang kemudian menarik perhatian masyarakat untuk berkunjung dan bersemedi. Melakukan pemujaan dan berdoa dengan khusyuk kepada Sang Hyang Widhi.

Masyarakat Hindu Tengger juga melakukan ritual pemujaan di tempat ini. Perjalanan menuju mulut gua yang lumayan menanjak ini akan terbayar ketika sudah sampai di sana.

Pemandangan yang indah dari sudut pandang yang lain akan membuat mata terpesona. Gunung Bromo terlihat berbeda dari posisi ini. Kabut yang menyelimuti badan gunung terlihat sangat indah dan menjadi gambar yang cantik untuk diabadikan. (mukhamad rosyidi/hn) Editor : Jawanto Arifin
#gua widodaren