Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Gadis Manis Gondang Wetan Ini Sering Jadi Juri Lomba Burung Kicau

Jawanto Arifin • Kamis, 26 Agustus 2021 | 23:00 WIB
HARUS CERMAT: Gaya Habibatul Izzawahyudi Putri saat menjadi juri di sebuah tempat gantangan burung. (Foto: Dok. Pribadi)
HARUS CERMAT: Gaya Habibatul Izzawahyudi Putri saat menjadi juri di sebuah tempat gantangan burung. (Foto: Dok. Pribadi)
PEHOBI burung umumnya kaum Adam. Tapi, di Kabupaten Pasuruan, ada Habibatul Izzawahyudi Putri. Remaja putri ini gemar akan burung, bahkan sampai sering menjadi juri dan sudah bersertifikat.

Tubuhnya tinggi dengan badan padat berisi. Wajahnya juga manis. Saat ditemui di rumahnya, perempuan yang diketahui bernama Habibatul Izzawahyudi Putri, 20, sedang memandikan seekor love bird. Sembari memandikan, dia mengajari burung itu untuk berbunyi.

Dua tiga kali semprotan, burung asli Afrika itu tampak asyik bermain air. Sesekali, bunyi khasnya keluar dari paruh yang melengkung itu. Itulah keseharian yang dilakukan Habibatul Izzawahyudi Putri. Gadis asal Desa Karangsentul, Kecamatan Gondang Wetan, Kabupaten Pasuruan.

Dia memang hobi burung berkicau. Hobi yang merupakan turunan dari orang tuanya. "Bapak kan melihara burung di rumah. Ya, tiap pagi lihat bapak itu. Kok kayaknya seru, akhirnya ya ikut," kata anak pertama dari tiga bersaudara itu.

Photo
Photo
KONSENTRASI: Putri menjadi pehobi burung berawal dia sering diajak ke lokasi Gantangan. (Foto: Dok. Pribadi)

Putri –sapaan akrabnya– mengaku, karena melihat keseruan ayahnya, dia kemudian terpikat. Lama-lama dia hobi burung, khususnya untuk yang berkicau. Mulai dari ikut merawat hingga ketika ayahnya gantang (lomba burung, Red) ia ikut menemani. Dari situ, kecintaannya kepada burung kicau semakin tinggi.

"Suaranya itu lho yang membuat senang. Mendengar suara burung itu kayak gimana gitu. Bikin tenang," katanya.

Berawal dari situ juga, kemudian ia kenal dengan orang-orang pecinta burung kicau. Semenjak itu, dia makin akrab dengan yang namanya burung.



Hingga suatu hari, ia lantas ditawari jadi juri untuk lomba burung. Waktu itu, ia masih belum bisa melakukan penjurian. Apalagi, jika salah menjuri, akan fatal akibatnya.

"Nah, yang mengajak saya awalnya banyak, ada yang teman ayah juga. Tapi, saya awalnya ragu. Namanya juga pemula dan belum pernah, ya takut. Menjadi juri soalnya tanggung jawab itu besar. Apalagi kalau ada event. Salah sedikit saja, buat jelek nama sendiri dan nama baik semua juri dan tempat gantangan," ujarnya menceritakan pengalaman awal ditawari jadi juri.

Tapi, itulah yang membuatnya justru terpancing menekuni menjadi juri. Dia disarankan banyak belajar. Ke depannya siapa tahu bisa menjadi juri yang profesional. Karena banyak yang dukung buat belajar itu, Putri akhirnya memutuskan belajar juri.

"Baru sebentar sih. Akhir tahun bulan Desember 2019 saya belajar juri. Ikut diklat tanggal Februari 2020 di Gianyar Bali. Dan yang nggak terbayang, waktu diklat saya perempuan sendiri yang ikut," terangnya.

Meskipun begitu, Putri tidak minder. Ia terus berusaha menjadi juri lomba burung dan berhasil mendapatkan sertifikat sebagai seorang juri. Apalagi, ia mendengar cerita bahwa juri perempuan sebenarnya banyak di masing-masing daerah.

"Sebenarnya ada banyak ya. Biasanya mereka disebutkan yaitu juri Srikandi," tambahnya.

Proses menjadi juri sebenarnya gampang. Tapi, yang susah adalah memahami suara burung kicau itu. Ia sendiri sampai sekarang masih belajar untuk memahami karakter dan suara burung berbagai jenis. Seperti cucak hijau dan murai. Tetapi, yang paling sulit baginya adalah menilai burung kenari. Sebab, kenari memiliki irama tersendiri.

"Jadi juri juga harus tanggung jawab, harus tepat waktu. Sisi lainnya ya hobi burung itu menyenangkan. Bisa menambah teman. Apalagi banyak juga teman yang mengajak istrinya, ngajak anaknya. Jadi, saya merasa nggak perempuan sendirian," paparnya.

Ia sendiri sudah menjuri di beberapa gantangan lomba burung. Ia juga pernah sekali menjuri di luar kota yakni Sidoarjo. Di lokal, Putri sering menjuri di Gempol dan sekitar Pasuruan lainnya.



Apa tantangannya menjadi juri? Putri punya pengalaman, dia pernah dikata-katai. Soal menjelek-jelekan, dia sudah biasa. Namun, paling buruk adalah kejadian waktu ia menjadi juri event besar di sebuah tempat. Putri pernah tidak sengaja melakukan kesalahan. Sehingga, akhirnya yang punya burung tidak terima dan menyebabkan adu mulut di gantangan.

"Ngancam sih gak ada. Tapi, namanya perempuan melakukan kesalahan dan dikeroyok hingga adu mulut, ada rasa takutlah diolok-olok begitu. Tapi, itu kan pengalaman. Jadi harus berhati-hati lagi, kalau juri harus fokus," kata anak pasangan Slamet Wahyudi dan Sundari itu.

Putri saat ini bekerja di sebuah pabrik minuman. Sepinya job juri membuatnya mencari pekerjaan lain. Namun, ketika ada gantangan, dia siap kembali menjuri lomba tersebut. "Tidak saya tinggal. Ya karena hobi itu tadi. Jadi kalau libur kerja, ya jadi juri," tuturnya.

Slamet, ayahnya mendukung apa yang dilakukan Putri. Selagi itu positif dukungan dari keluarga terus dilakukan. Bukti dukungan itu, anaknya diikutkan diklat juri lomba burung di Bali. "Kami mendukung. Ini kan bukan hal yang negatif. Jadi apa salahnya," katanya.

Ia berpesan, ketika menjuri harus dilajukan sejujur-jujurnya dan seadil-adilnya. Jangan sampai penjurian dilakukan dengan tidak benar. "Yang pasti pesan saya harus jujur. Jangan sampai membawa nama jelek keluarga. Itu saja," terangnya. (fun) Editor : Jawanto Arifin
#juri lomba burung #cewek juri lomba burung #hobi burung berkicau