Bujuk Tunggul Angin memiliki nama kecil Sayyid Ahmad. Dia dikenal sebagai pengembara asal pulau garam Madura. Datang ke Desa Jatiurip, Kecamatan Krejengan, bersama istrinya, Siti Basuni. Mereka kemudian tinggal dan menetap di Dusun Buaran, Desa Jatiurip.
“Bujuk Tunggul Angin adalah orang yang membabat alas di bagian utara Desa Jatiurip,” terang M. Najib Afandi, 32, warga Dusun Lamur, Desa Jatiurip, yang juga sekretaris desa setempat.
Posisi makam Bujuk Tunggul Angin dan istrinya, Siti Basuni diakui Najib memang tak biasa. Membujur dari timur ke barat. Warga setempat bukannya tidak paham. Warga paham bahwa posisi makan suami istri itu nyeleneh.
Warga bahkan beberapa kali berusaha memindah posisi makam. Namun, upaya tersebut gagal.
“Setelah dipindah, balik lagi membujur dari timur ke barat. Akhirnya ya dibiarkan seperti itu,” ujarnya.
Nama Dusun Buaran sendiri diyakini warga sekitar berasal dari bahasa Jawa, pangembaran yang berarti pengembara. Menunjukkan kondisi Sayyid Ahmad beserta istrinya Siti Basuni yang merupakan pengembara.
Selain Sayyid Ahmad, ada juga beberapa tokoh yang diyakini masyarakat sebagai pembabat alas Desa Jatiurip. Namun, berbeda dengan masa Sayyid Ahmad.
Di antaranya, Kakek Upik yang membabat Dusun Kuripan di wilayah tengah Desa Jatiurip. Lalu, Buyut Sidin yang membabat Desa Jatiurip wilayah selatan, tepatnya di Dusun Krajan.
Kakek Upik diyakini warga berasal dari luar desa. Makamnya ada di tengah sawah di Desa Jatiurip. Sementara Buyut Sidin berasal dari Madura.
“Kesepakatan warga dulu, karena Kakek Upik ini bukan warga asli Dusun Juripan, jadi dia dimakamkan di luar permukiman,” ujarnya.
Cerita leluhur Desa Jatiurip sejatinya telah dibukukan oleh para pemuda setempat. Mereka menggali cerita dari narasumber yang masih hidup dan data sesepuh terdahulu. Buku tersebut baru saja dicetak dengan judul “Desa Jatiurip: Kajian Toponimi, Sejarah, dan Kearifan Lokal”.
Penulis buku tersebut A. Muhidin, 22, warga Dusun Krajan. Menurut cerita lisan maupun tulisan dari sesepuh desa, dulu setiap malam Jumat selepas magrib dari makam Sayyid Ahmad dan Siti Basuni selalu terdengar bunyi gamelang pengantin.
“Dari sanalah munculnya kramat menurut masyarakat,” terang Muhidin.
Untuk Kakek Upik, tidak banyak referensi yang dapat mengungkap kisahnya. Sementara Buyut Sidin dipercaya masih keturunan Sunan Kudus.
“Namun, belum bisa dipastikan silsilah jelasnya. Sebab, ada dua nasab yang putus. Nasabnya juga kebanyakan dari jalur ibu. Sementara harusnya nasab itu mengikuti jalur ayah,” ujarnya.
Sering Dikunjungi Warga Luar
Makam ketiga pembabat Desa Jatiurip penuh dengan cerita-cerita dan kejadian mistis. Bahkan, makam itu sering dikunjungi warga luar desa.
Sekretaris Desa Jatiurip M. Najib Afandi, 32, menyebutkan, tiga makam leluhur desanya itu sering disebut saat selamatan desa. “Ada juga yang selamatan dan mendoakan secara pribadi dari masyarakat desa,” ujarnya.
Ahmad Muhidin, 22, penulis Desa Jatiurip: Kajian Toponimi, Sejarah dan Kearifan Lokal mengatakan, makam-makam leluhur desanya itu dulu sangat sering dikunjungi warga. Baik warga dari desa maupun luar desa.
“Dulu banyak yang berziarah. Bahkan, banyak yang datang dan berdoa di makam untuk meminta hujan. Setelah nyekar, hujan turun,” ujarnya.
Menurutnya, kedatangan para peziarah ini bertujuan mencari nilai keberkahan lebih dari orang saleh. Tentunya diiringi dengan keyakinan kuat.
“Jika datang dengan niat yang salah, maka akan keluar hewan yang tampak kepada orang tersebut,” ujarnya.
Seiring perkembangan zaman, makam para leluhurnya itu makin jarang didatangi warga. Hanya segelintir orang yang masih datang ke makam mereka.
“Sejak 2010 sudah jarang warga yang datang ke makam para leluhur kami,” ujarnya. (agus faiz musleh/hn) Editor : Jawanto Arifin