------------------------
LOKASINYA di Dusun Sukun, Desa Klenang Kidul Banyuanyar. Di atau selatan SPBU Klenang masuk ke timur. Mudah untuk dicari bagi orang yang baru meluncur ke Probolinggo sekalipun.
Tidak jauh dari jalan raya desa, terlihat dinding batako kandang ternak kambing Sapera. Sapera adalah nama kambing hasil persilangan antara kambing Saanen dan PE (Peranakan Etawa). Kambing ini adalah kambing tipe perah penghasil susu.
Masuk ke dalam kampung itu, tepatnya depan rumah Faishol Huda, 45, pemilik dan perintis ternak kambing dan perah susu kambing tersebut. Di dalam kandang sisi utara, ada puluhan ekor kambing yang difokuskan untuk ternak. Di situ, ada banyak anak kambing yang baru umur 2 hari, 5 hari.
”Kandang ini khusus untuk proses ternak. Jadi, kambing-kambing jenis kambing Sanen, Alphin dan Anglonubian dan Anglopera ada semua di sini. Ada yang lagi mengandung, sampai baru melahirkan, ada di kandang. Kalau sudah 10 hari pascaberanak (melahirkan), baru dipindah ke kandang perah, untuk diperah susunya. Tapi kambing yang diperah susunya, tetap kambing pilihan,” kata Faishol, pada Jawa Pos Radar Bromo.
Anak-anak kambing itu dilepas di sekitar kandang tersebut. Kondisi itu, menjadi daya tarik bagi anak-anak yang datang berkunjung. Mereka mengenal dan suka terhadap hewan ternak. Bahkan, bagi anak-anak yang ingin memberikan susu pakai botol dot pada anak kambing itu, dipersilahkan.
”Kkmi ingin juga menjadi wisata edukasi kampung kambing ternak dan perah susu kambing. Jadi anak-anak yang datang bisa belajar soal kambing dan cara perah susu kambing. Saya sudah komunikasikan dengan lembaga TK-SD sekitar sini,” terangnya.
Faishol menceritakan, dirinya sebenarnya lama bekerja di dunia hospitality, hotel. Kebetulan dirinya sempat menjadi manajer di sejumlah hotel luar daerah dan Bali. Kemudian, sekitar 10 tahun lalu, saat masih aktif di dunia hotel, dirinya mencoba beternak kambing Sapera, PE dan BOR. Kebetulan, dirinya memang hobi ternak dari kecil dan menjadi tambahan kegiatan di tengah tugas kerjanya.
”Sebenarnya saya hobi ternak. Dari orang tua dan embah, itu ternak sapi dan kambing. Cuma saya lebih hoby pada ternak kambing,” terangnya.
Sekitar 1,5 tahun lalu diakui Faishol, merasakan jenuh dan memutuskan mengundurkan diri dari dunia perhotelan dan manajer hotel. Dirinya lalu memutuskan untuk fokus pada usaha ternak kambingnya.
Saat itu, dirinya pun maksimalkan usaha ternak kambing dan kembangkan menjadi perah susu kambing dengan nama hasil olahan Profesional Farm. Ternyata, keputusannya awal tahun 2020 itu sangat tepat. Saat pandemi Covid-19 melanda, ternyata, permintaan susu kambing melesat.
Berawal dari 10 ekor kambing, kini sudah miliki 94 ekor kambing. Kemudian, sekitar 40 ekor kambing peranakan yang bisa diperah susu kambingnya. Kondisi itu, ternyata hasil olahan Profesional Farm, tidak mampu memenuhi permintaan pasaran.
Perahan susu kambing yang ada di kandangnya sekitar 22 liter tiap harinya. Kemudian, ditambah pasokan susu perah dari 7 mitranya di Kabupaten Probolinggo. Dari Alfatih Farm Rangkang Kraksaan, Nyx Farm Pesawahan Tiris, Agung Farm Kraksaan, Selodudik, Tongas, dan Alhikmah Farm, tiap mitra sekitar 10 liter.
”Sebulan itu, minimal ada 1.000 liter susu kambing yang kami hasilkan. Karena, mitra kami susu kambingnya ada yang dipasarkan langsung. Kami targetkan hasil susu kambing terus meningkatkan,” terangnya.
Hasil riset yang diketahuinya, susu kambing merupakan yang terbaik kedua setelah ASI. Hal ini karena persentase serapan gizi dalam susu kambing bisa maksimal dalam tubuh.
Ada yang menarik dari kandang ternak kambing dan perah susu milik Faishol tersebut. Memasuki kandang, tidak tercium bau kotoran atau tidak ada, seperti kandang-kandang ternak pada umumnya. Kambing-kambing yang ada pun terlihat bersih semuanya. Sehingga, aman saat dipegang oleh anak-anak.
”Kami memang jaga kebersihan kandang dan ternak kambingnya. Karena itu, kambing ini secara berkala dimandikan dan dibersihkan,” terang Faishol.
Selain itu diungkapkan Faishol, kandang ternak kambingnya tidak tercium bau, karena manajemen pakan yang diberikan dan vitamin, begitu diperhatikan. Pakan ternak kambingnya, produksi sendiri. Makanan dari rumput, tumbuhan hijau-hijauan itu dikeringkan untuk kurangi kadar airnya. Sehingga, susu hasil perahan kambing pun tidak amis dan tidak bau. Karena manajemen pakannya juga dijaga.
”Manajemen kandang, pakan, vitamin dan suntikan antibiotik juga diperhatikan. Di sini ada 7 pekerja yang bertugas mas. mulai dari mengarit, memberi makan, membersihkan kandang, bagian kesehatan hewan ada,” terangnya.
Berapa biaya operasional yang dikeluarkan? Faishol mengatakan, biaya operasional memang tidak murah. Tetapi, biaya operasional itu cukup diambilkan dari anak kambing hasil ternak. Jadi, ditargetkan, satu kambing betina dalam setahun bisa melahirkan dua kali.
Nah, satu kali melahirkan bisa 2 ekor kambing. Kemudian, satu ekor kambing itu diternak, dipelihara bisa dijual. Hasil jual anak kambing itu sudah mencukupi biaya operasional. Sehingga, sisa satu ekor anak kambing yan bisa menjadi milik sendiri.
Selain dari hasil ternak, kambing yang sudah melahirkan tentu bisa diperah susunya setelah 10 hari. Dari perahan susu kambing itu saja, tiap hari berkisar 2 liter. Satu liter harga susu kambing murni tanpa olahan Rp 30 ribu.
”Kami dari olahan Profesional Form, perahan susu diolah dengan mesin pasteuriasasi. Sehingga, dipastikan kebersihan dan kesehatannya. Jadi susu kalau sudah masuk proses pasteurisasi, kami sarahkan bisa bertahan selama 2 bulan,” terangnya. (mas/fun) Editor : Jawanto Arifin