ANJANI Dwi Aprilia terkejut ketika mendapat kabar dari FOPI Kota Pasuruan, tempatnya bernaung dalam olahraga petanque selama ini. Saat itu di tahun 2019, dia terpilih mengikuti puslatda petanque Jawa Timur.
Bukan sekadar berlatih. Puslatda dilakukan untuk persiapan menghadapi PON XX Papua. Saat itu, ada 20 atlet dari daerah lain yang ikut puslatda. Dan, dia satu-satunya perwakilan dari Kota Pasuruan. Bukan hanya satu-satunya. Saat itu, dia masih berstatus pelajar SMA.
“Waktu itu saya terbilang masih baru di petanque. Jadi, terkejut dapat kabar ikut puslatda,” katanya usai berlatih di lapangan SMPN 6 Kota Pasuruan.
Saat itu, olahraga petanque juga terbilang baru di Kota Pasuruan. Anjani baru sembilan bulan ikut latihan petanque. Saat masih SD, dia lebih tertarik dengan tenis meja. Kemudian, gemar olahraga atletik ketika berseragam putih-biru. Dan saat SMA, dia menekuni petanque.
Namun, terpilihnya Anjani mengikuti puslatda Jawa Timur bukan tanpa alasan. Meski baru menggeluti olahraga petanque, Anjani punya sederet prestasi.
Sebagai atlet baru, dia sudah mengumpulkan empat medali. Beberapa kejuaraan terbuka mengantarkannya menjadi juara. Di ajang Porprov Jawa Timur 2019, performanya juga tak mengecewakan. Sejumlah prestasi itulah yang membuatnya akhirnya ditarik mengikuti puslatda.
Dia memulai puslatda di Gresik sejak September 2019. Anjani mengikuti setiap program puslatda dengan sungguh-sungguh. Dia enggan membuang kesempatan itu dengan percuma. Karena tak semua atlet punya peluang ikut ajang sekaliber PON.
Apalagi, Anjani satu-satunya atlet di puslatda yang terbilang paling junior. Rata-rata atlet yang dipilih sudah bergabung dengan olahraga petanque lebih dari setahun. Sedangkan, dia baru sembilan bulan.
Yang melatihnya selama puslatda yakni Jani Mohammad. Seorang pelatih kaliber internasional asal Malaysia. Di tangan Jani pula, Anjani banyak diajarkan teknik pertandingan petanque yang jitu. Yang lebih ditekankan kepada strategi dalam permainan.
“Jadi, dalam petanque itu tidak hanya mengandalkan keterampilan fisik. Strategi dan perhitungannya juga harus matang ketika bertanding,” bebernya.
Selama puslatda itu, dia juga ikut beberapa event kejuaraan. Baik tingkat nasional dan internasional. Bahkan, sejumlah medali berhasil diraihnya.
Di Semarang, dia menjadi juara satu. Sedangkan di Kediri dan Tabanan, dia keluar sebagai juara tiga. Selepas event kejuaraan di Tabanan, Anjani bahkan bakal dikirim ke Malaysia untuk mengikuti kejuaraan petanque.
“Segala persiapan sudah dilakukan, termasuk paspor juga sudah diurus,” tutur alumni SMA Muhammadiyah Pasuruan tersebut. Namun, pandemi Covid-19 akhirnya mengurungkan semua rencana berangkat ke negeri jiran.
Tak lama kemudian, sekitar April 2020, kegiatannya di puslatda Jawa Timur juga harus terhenti. Semua atlet dikembalikan ke daerah asal. Sambil menunggu kepastian digelarnya PON XX.
Kini, cabor yang diikuti dipastikan tak akan dipertandingkan. Petanque diputuskan menjadi satu dari sepuluh cabor yang tak dipertandingkan di PON XX.
Kecewa? Tentu ada. “Sedikit sih. Karena itu kan kesempatan besar. Tidak semua bisa punya kesempatan yang sama,” terang perempuan asal Kelurahan Pohjentrek, Kecamatan Purworejo tersebut.
Namun, semangat Anjani tak redup hanya karena batal menjadi peserta PON. Buktinya, sepulangnya dari puslatda dia justru mengikuti sertifikasi pelatih. Kini, dia sudah diakui sebagai pelatih tingkat daerah.
“Paling tidak, saya bisa dapat banyak ilmu dan pengalaman selama di puslatda. Ilmu itu bisa jadi bahan sharing bagi teman-teman di sini,” pungkasnya. (tom/hn) Editor : Fandi Armanto