SEJUMLAH bocah berada di ruangan berukuran 6×8 meter itu. Tatapan mereka tertuju pada kanvas putih di depannya. Dengan luwes, jari jemari mereka menggores bentuk gambar dengan pensil. Ada yang menggambar pemandangan, adapula berupa sketsa.
Setelah terbentuk gambar yang diinginkan, mereka mulai memberi warna gambar itu. Sebagian mewarnai dengan cat lukis, sebagian lagi menggunakan krayon. Iron Supali, pemilik sanggar itu dengan telaten memandu mereka.
Iron punya cerita khusus mendirikan sanggar lukis "Petelot Konte." Bermula saat ia bertemu dengan seorang temannya, Anang Baret. Anang saat itu memiliki sanggar lukis anak di taman kota, Kelurahan Pekuncen, Kecamatan Panggungrejo, Kota Pasuruan. Namun, ia jarang ke Kota Pasuruan.
"Teman saya ini lebih fokus pada kegiatan MC dan dekorasi di luar kota. Makanya, sanggarnya diserahkan pada saya untuk dikelola. Dan selama tiga bulan lamanya, sanggar ini tetap di taman kota," ungkap lelaki 29 tahun ini.
Sanggar milik Anang itu lantas dipindahkan ke Kelurahan/Kecamatan Gadingrejo, Kota Pasuruan. Namun, karena suasananya dinilai kurang mendukung, sanggar ini kembali dipindah ke Jalan Kartini, Kelurahan Kebonsari, Kecamatan Panggungrejo, Kota Pasuruan, pada 2013 dan bertahan hingga saat ini.
Sanggar baru ini lantas diberi nama Petelot Konte. Alasan pemilihan nama ini karena petelot yang berarti pensil dalam bahasa Jawa itu identik dengan dunia menggambar. Sementara konte merupakan jenis pensil untuk menggambar.
Maksudnya agar anak-anak suka menggambar. Tidak hanya menggambar, di sanggar ini juga diajarkan mewarnai, melukis, hingga teknik arsir.
"Awal berdiri hanya 28 anak, saat ini sudah 95 anak. Mulai dari TK hingga SMP. Sanggar ini buka Senin sampai Jumat mulai pukul 13.00 hingga 16.00," ungkap warga Kelurahan/Kecamatan Kejayan, Kabupaten Pasuruan ini.
Bungsu dari tiga bersaudara ini menjelaskan, mereka yang ikut sanggarnya bukan hanya yang punya kemampuan menggambar. Yang masih belajar juga diterimanya. Asalkan memang ada kemauan belajar. Batas waktu belajar di sanggar diserahkan pada peserta. Tentu ada biaya yang dikenakan.
Maksimal setiap peserta bisa mengikuti sanggar dua kali dalam sepekan. Peserta juga akan diberikan kelas kreativitas setiap akhir bulan. Di mana mereka akan diajarkan menggambar pada tas, sepatu, dan gerabah.
Ia mengaku juga memiliki peserta difabel. Karena butuh perhatian khusus, ia pun memilih datang langsung ke rumah yang bersangkutan. Bagi siswa yang tidak berkebutuhan khusus, diajarkan langsung di sanggar. Karya yang digambar pun disesuaikan dengan keinginan mereka.
"Bisa abstrak, sketsa, wajah, atau pemandangan, tergantung keinginannya. Karya mereka yang sudah jadi bisa dibawa pulang. Kalau ada event, biasanya saya ikutkan. Harapannya, ada yang jadi seniman kelas dunia," pungkas ayah satu anak ini. (riz/fun)
Editor : Fandi Armanto