Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Yudha Andri, PNS Pemkot Pasuruan yang Tekuni Make Up Artist-Desainer

Jawanto Arifin • Rabu, 16 Juni 2021 | 16:11 WIB
KENYANG PENGALAMAN: Yudha bersama karya rancangannya. (Foto: Fahrizal Firmani/Jawa Pos Radar Bromo)
KENYANG PENGALAMAN: Yudha bersama karya rancangannya. (Foto: Fahrizal Firmani/Jawa Pos Radar Bromo)
STATUS Yudha Andri Asmara adalah ASN di lingkungan Pemkot Pasuruan. Di luar kesibukannya itu, ia juga dikenal sebagai make up artist (MUA) dan perancang baju pesta maupun pengantin.

Perkenalan Yudha dalam dunia MUA berawal dari ibunya, Luke Sulandri yang memiliki usaha rias wajah. Saat duduk di bangku SMA, ia kerap membantu ibunya dengan menyiapkan atau sekedar menata tempat untuk merias. Selama membantu, dia kerap melihat cara ibunya saat merias pengantin ataupun riasan wisuda.

Pada 1994 saat dia kelas 2 SMA, Yudha mulai membantu merias wajah untuk wisuda dan penerima tamu. Meski ini pertama kalinya ia merias, Yudha mengaku tidak gugup sama sekali. Selama merias, ibunya melihat untuk mengarahkan riasan yang diimplementasika ke wajah.

Hal seperti ini terus berkelanjutan hingga ia menempuh pendidikan strata 1 di sebuah sekolah tinggi ilmu ekonomi di Kota Malang Malang. Bisa dibilang, Yudha psudah punya sambilan saat masih menjadi mahasiswa.

"Setiap kali ada permintaan merias yang cukup banyak, ibu menelepon saya untuk pulang. Saya tidak gugup, tapi malah menikmati karena biasa pegang kuas. Sejak kecil saya memang suka melukis wajah seseorang,"ungkapnya.

Ternyata, bakatnya dalam merias semakin terasah. Ia pun mendapatkan kepercayaan dari pelanggan ibunya. Tidak jarang ada pelanggan yang meminta dirias olehnya. Ia pun sering bolak balik Malang-Kediri karena hal ini selama menempuh kuliah. Kegiatan ini dilakoni hingga ia lulus pada 2002.

Pada 2003, pria kelahiran Kediri ini mendaftar menjadi PNS di Pemkot Pasuruan, dan diterima dan langsung ditempatkan di Dinas Infokom (Diskominfo saat ini). Saat itulah, ia bertemu dengan istrinya, Anggarini Norma Sintha yang juga menjadi PNS di Pemkot Pasuruan. Saat mereka memutuskan untuk menikah pada 2004, Yudha memilih merias istrinya sendiri.

"Istri saya ini sangat mendukung karir saya. Usai menikah, kami sempat kontrak di Perum Taman Bestari. Saya mulai menekuni MUA lagi usai menikah, dengan membuka tempat rias yang diberi nama gallery Andry dan Syntha," jelasnya.

Ternyata banyak tetangga yang meminta jasa riasan darinya. Dari sini, usaha MUA-nya semakin dikenal. Pemkot juga sering meminta bantuannya, seperti saat ada acara Cak Ning atau kegiatan Hari Jadi Kota Pasuruan. Dari sini, ia mencoba mendesai pakaian untuk wisuda dan pengantin. Namun di awal, ia hanya membuat kebaya yang sederhana.

Usai pindah ke Perumahan Puri Candi pada 2009, ia semakin serius dalam menggeluti usaha MUA dan desain pakaian. Namun jenis pakaiannya kian beragam.

Tidak hanya kebaya, ia juga membuat kebaya modern dan gaun bagi perempuan serta busana muslim, beskap, dan jas bagi laki laki. Ia juga menerima permintaan untuk pakaian dari pelanggan.

"Tentu sebelum membuatkan, saya pasti tanya dahulu. Mau konsep atau nuansa yang seperti apa. Dan harganya lebih mahal daripada menggunakan pakaian yang sudah saya rancang," terangnya.

Ia mengaku dirinya pernah merias pengantin hingga keluar Jawa. Pada 2016, ia diminta untuk ke Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT). Tentunya, akomodasi ditanggung sepenuhnya oleh pihak keluarga calon pengantin.

Usut punya usut, ternyata mereka mendapatkan informasi tentang Yudha dari temannya di Kota Pasuruan yang pernah meminta jasa rias darinya. Tawaran itu tentu saja tak ditolaknya, demi menambah jam terbang.

Pria yang menjadi Kasi Pembinaan dan Pengembangan Seni Budaya di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Pasuruan ini menyebut. bagi yang ingin terjun di MUA dan rancangan baju yang utama adalah mengasah bakat. Khusus MUA bisa dipelajari secara otodidak.

Namun untuk perancang gaun atau baju pengantin harus belajar kepada orang yang ahli. Kebetulan dirinya mendapat ilmu dari bulek-nya yang merupakan penjahit.

"Dan yang terpenting itu tepat waktu. Sebelum merias, konsultasi dulu dengan kemauan pihak pengantin. Sebab kepercayaan seseorang pada kita itu menentukan sukses atau tidak," terang pria kelahiran Juni 1978 ini. (riz/fun) Editor : Jawanto Arifin
#make up artist #pns kreatif #desainer kota pasuruan #pemkot pasuruan