MUKHAMAD ROSYIDI, Winongan, Radar Bromo
Pagi itu, seorang pria berperawakan kecil dan kurus sedang bersih-bersih di wisata pemandian alam Banyubiru, Desa Sumberrejo, Kecamatan Winongan, Kabupaten Pasuruan. Guguran dedaunan dari pohon-pohon di tempat itu dia sapu. Termasuk daun yang berjatuhan di atap petilasan Mbah Tombro pun ia bersihkan.
Cuaca cerah. Namun, lokasi wisata sedang sepi. Maklum, Pemkab Pasuruan belum membuka destinasi wisata tersebut untuk umum.
Alasannya, karena sedang pandemi Covid-19. Juga karena ada pembenahan dan peralihan konsep wisata menjadi wisata halal. Tutupnya wisata itu digunakan oleh Subandi untuk merawat petilasan dan makam yang membabat alas Banyubiru.
"Subandi, panggil saja Pak Bandi. Saya juru kuncinya," katanya mengenalkan diri.
Meskipun tidak muda lagi, Bandi yang saat ini berusia 56 tahun, selalu bersemangat. Tanggung jawabnya sebagai juru kunci membuat rasa lelah dan malas hilang.
"Sebenarnya tidak ada yang mengangkat saya jadi juru kunci. Saya mengangkat diri saya sendiri sebagai juru kunci pada tahun 1992," katanya sembari terus bersih-bersih. Sesekali, ia berhenti untuk menghela napas dan beristirahat di pinggir kolam.
Bandi sendiri adalah seorang PNS di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Pasuruan. Dia diangkat jadi PNS pada tahun 1992. Sejak saat itu, dia ditugaskan di wisata pemandian alam Banyubiru sampai sekarang.
Pada tahun itu juga, Bandi tergerak untuk menjaga petilasan dan makam pembabat alas Banyubiru. Mbah Tombro dan Kebut. Hatinya tergerak setelah melihat ketidakberesan yang terjadi. Setidaknya, seperti itu penilaiannya.
Saat itu, warga yang ingin ziarah ke makam Mbah Tombro di Banyubiru dimintai uang. Padahal, mereka berniat baik.
Hatinya menolak melihat hal itu. Orang yang berniat ziarah seharusnya digratiskan.
"Saya melihatnya tidak enak. Itu salah menurut saya. Kalau niatnya baik ya tidak usah bayar. Karena mereka bersembah kepada penjaga Banyubiru. Bukan ke yang jaga," katanya.
Ia kemudian menemukan buku sejarah tentang Banyubiru. Buku itu awalnya tidak terawat. Olehnya, bahkan sempat hendak dijual. Tetapi, ada kejadian aneh yang lantas membuat ayah dua anak itu urung menjual buku itu.
“Saat menemukannya, buku itu maunya saya jual ke loakan. Bahkan, saya sudah sampai di tempat loak. Begitu masuk ke tempat loakan, lha kok saya masuk ke rumah saya sendiri. Padahal, nyata, yang saya lihat awalnya tempat loak. Kenapa bisa di rumah sendiri," tandasnya.
Setelah kejadian itu, Bandi tidak bisa tidur. Bahkan, ia merasa ada yang membisiki dengan bahasa Jawa "Ojo Sembrono" yang artinya jangan sembarangan.
Dia lantas berpikir. Apakah dua kejadian itu terjadi karena buku yang ditemukannya?
"Masa gara-gara buku? Saya berpikir begitu. Terus saya ambil buku itu dan saya buka," katanya.
Saat dibuka, beberapa lembar kertas jatuh. Kertas yang jatuh itu dia ambil dan diletakkan di depannya.
Saat itu, kata Bandi, dia sedang di depan rumah. Sambil memeluk buku itu, ia hendak tidur. Dan ternyata ia terlelap sampai pagi.
Sejak saat itu, dia urung menjual buku itu. Dia lantas mempelajari buku tersebut. Kini, Bandi pun hafal di luar kepala isi buku itu.
"Kalau ditanya asal usul Banyubiru, saya jawab sesuai yang saya baca. Di luar itu saya tidak berani," jelasnya.
Bandi pun kini dikenal sebagai juru kunci Banyubiru. Bahkan, beberapa wartawan televisi mewawancarainya perihal sejarah Banyubiru. Ia pun menceritakan apa yang ia ketahui. Tidak ditambahi ataupun dikurangi.
Setelah wawancara itu, ia didatangi seorang warga yang mengaku ahli waris dari salah satu yang babat alat Banyubiru.
"Ada yang mengaku. Kemudian saya tanya ahli warisnya siapa. Katanya Mbah Kebut. Wah, kalau Mbah Kebut bukan di sini, tapi ada di sebelah rumah saya," jelasnya.
Makam Mbah Kebut memang berada di dekat rumah Bandi. Dia pun merawat dan membersihkan makam itu sampai sekarang.
Sementara warga yang mengaku ahli waris Mbah Kebut itu, sampai kini masih berhubungan dengannya. "Masih terus nyambung. Jadi mereka terus berkomunikasi dengan saya," tandasnya.
Bandi bahkan pernah ditawari naik haji. Sejak menjadi juru kunci hingga sekarang, sudah tiga kali dia ditawari naik haji. Tapi, Bandi tidak mau naik haji sendirian.
“Saya pinginnya naik haji bareng istri. Kalau istri tidak diajak, ya saya tidak bisa,” tuturnya.
Bahkan, ada orang yang sudah mendaftarkannya naik haji. Namun, akhirnya batal karena Bandi menyaratkan berangkat haji bersama istrinya.
“Waktu itu sudah didaftarkan. Saya bilang, ya saya terima. Tapi, karena tidak bersama istri, akhirnya pemberiannya itu saya kembalikan. Saya bilang saat itu, tolong ini sodaqohkan ke masjid atas nama saya dan sampean," ungkapnya.
Di usianya yang sudah 56 tahun, pensiun bagi Bandi tinggal menunggu waktu saja. Namun, dia bertekad akan terus menjadi juru kunci Banyubiru, andai tidak ada yang mau meneruskan dirinya menjadi juru kunci. (hn) Editor : Jawanto Arifin