---------------------
BERITA duka itu tidak hanya menyebar cepat di Pasuruan. Namun, juga di kantong-kantong santri dan ulama di Indonesia. Bahkan, melalui sebaran informasi yang masif, sampai keluar negeri dengan cepat.
Termasuk sampai ke Mesir, tempat Muh. Kurdi Arifin menimba ilmu. Ketua Harakah Mahasiswa Alumni Santri Sidogiri (Hmass) Mesir itupun langsung menumpahkah duka citanya, begitu mendengar kabar tersebut.
Hadrotus Syaikh Maulana KH. A. Nawawi bin Abdul Jalil wafat. Itu kabar yang diterimanya.
Lalu, kabar ini juga dikuatkan dari unggahan sosmed Katib Majelis Keluarga, d. Nawawy Sya'doellah. Melalui sosmed dia menuliskan,”Innalillahi wa innailaihi rajiun. Telah wafat KH A. Nawawi Abd. Djalil, Pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri. Hari Ahad, 2 Dzul Qo'dah, (13/06/2021) sekitar 16.40 Wib.”
Kurdi menyebut, beberapa hari yang lalu Kiai Nawawi sempat dirawat di rumah sakit di Malang. Selanjutnya, Sabtu malam (12/6) dipindah ke RSUD Bangil, lantaran kondisinya agak membaik.
“Namun takdir Allah siapa yang bisa mengira? Beliau harus pergi tiada kembali, beristirahat ke pangkuan ilahi,” jelas Kurdi seperti yang ditulis lewat pesan WhatsApp.
Menurutnya, Kiai Nawawi terkenal alim dan sangat law profile. Beliau merupakan penulis kitab Tauhid “Al-Ma’man mina adh-Dhalalah”.
“Beliau menjadi rujukan bagi para ulama lainnya di bidang Akidah Ahlusunah wal Jamaah. Sosok yang istikamah mengampu pengajian kitab Ihya’ulumiddin karya dari Al Alamah Imam Ghozali ini juga mengabdikan diri di Nahdhatul Ulama sebagai Majelis Ahlu Halli wal Aqdi (Ahwa),” katanya.
Diceritakan Kurdi, Kiai Nawawi terpilih menjadi Khodimul Ma’had Pondok Pesantren Sidogiri, atas musyawarah Majelis Keluarga Pondok Pesantren Sidogiri. Ia menggantikan Kakaknya, Hadrotus Syaikh Kiai Abdul Alim bin Abdul Jalil yang wafat pada 28 Dzul Qo’ah 1426 H, bertepatan dengan 9 Januari 2005.
Kiai Nawawi lahir dari pasangan KH. Abdul Jalil bin Fadil dan Nyai Hanifah Nawawy. Kiai Abdul Jalil adalah cicit Sayid Abu Bakar Syatha ad-Dimyathi, pengarang Ianatut Tholibin.
Sementara Nyai Hanifah adalah putra pertama KH. Nawawy Bin Nurhasan bin Nuerkhotim dari istri keduanya; Nyai Nadzifah. Kiai Nawawi sepuh (kakek Kiai Nawawi, red) adalah ulama besar yang juga salah satu pendiri organisasi terbesar, Nahdlatul Ulama (NU).
Dari jalur ayah, nasab Kiai Nawawi bersambung dengan Sunan Ampel. Karena Kiai Abdul Djalil, ayahnya adalah putra Kiai Fadlil bin Sulaiman bin Ahsan bin Sayid Zainal Abidin (Bujuk Cendana/R. Senopati Pranujoyo, Kwanyar Bangkalan) bin Sayid Muhammad Khotib bin Sayid Muhammad Qosim (Sunan Drajat) bin Raden Rahmat (Sunan Ampel). Ibu Kiai Abd Djalil adalah Nyai Syaikhah binti Syarifah Lulu’ binti Sayid Abu Bakar asy-Syatha ad-Dimyathi.
“Kiai Nawawi juga dikenal sebagai pengasuh Pesantren Sidogiri yang sangat dekat dengan para santrinya. Dia kerap mengontrol sendiri kamar-kamar santri di malam hari. Dia menginginkan para santri beribadah dan memuthala’ah (mempelajari) pelajaran di malam hari,” katanya.
Pesantren Sidogiri sendiri didirikan pada 1745 M oleh Sayyid Sulaiman bin Abdurrahman Basyaiban yang wafat pada 1766 M). Sayyid Sulaiman tidak lain keturunan keempat Syekh Syarif Hidayatullah yang biasa dikenal dengan Sunan Gunung Jati.
Kesan mendalam juga dirasakan wartawan Jawa Pos Radar Bromo Fandi Armanto saat bertemu dengan Kiai Nawawi. Saat itu, Fandi meliput Muktamar NU ke 33 di Jombang pada 2015. Dua kiai besar dari Pasuruan menjadi Majelis Ahwa. Keduanya adalah KH A. Nawawi Abdul Djalil dan Almarhum Mas Subadar.
Ketika Muktamar, dia mendapat tugas mewawancarai dua ulama besar dari Pasuruan tersebut. Namun, sulit sekali bertemu keduanya.
Apalagi, dia tidak bisa menggunakan bahasa kromo Inggil. Bahasa yang kerap digunakan santri bila bertemu dengan ulama besar seperti beliau berdua. Hingga kemudian, dia berkesempatan bertemu Kiai Nawawi di pendapa Bupati Jombang.
“Saat itu saya sempat berpikir, karena sama-sama berasal dari Pasuruan, kemungkinan bisa memiliki kesempatan lebih besar untuk wawancara. Dan mungkin saja, hanya saya waktu itu yang menunggu untuk wawancara,” katanya.
https://radarbromo.jawapos.com/pasuruan/13/06/2021/kiai-nawawi-sidogiri-wafat-alumni-dilarang-datang-ke-ponpes/
Namun, anggapan itu salah besar. Begitu Kiai Nawawi keluar, puluhan wartawan bahkan yang levelnya nasional sudah menunggunya. Begitu bertemu, semua awak jurnalis itu langsung mendekat sembari mencium tangan Kiai Nawawi. Bahkan ada yang minta didoakan oleh Kiai Nawawi.
“Alhamdulillah, saat itu ternyata beliau masih ingat saya lo. Saya memang pernah ke Pondok Pesantren Sidogiri untuk wawancara beliau sebelumya. Jadi, waktu itu saya bisa wawancara, meski materi yang didapat hanya secuil,” tuturnya.
Itupun berpacu dengan waktu, karena saat itu Kiai Nawawi sudah ditunggu banyak ulama dan pengurus Nahdlatul Ulama lain.
“Saya melihat betapa beliau ulama besar kharismatik. Saat Muktamar digelar, banyak pejabat lokal hingga nasional yang menantinya. Menunggu beliau hanya sekedar untuk mencium tangannya,” katanya. (ube/hn) Editor : Jawanto Arifin