-----------
GUNDUKAN tanah liat memadati rumah bagian depan dan samping milik Muhammad di RT 6/RW 3, Desa Alaskandang, Kecamatan Besuk. Tanah liat itulah yang menjadi bahan baku utama kerajinan gerabah.
Kerajinan gerabah yang digelutinya adalah usaha turun-temurun. “Usaha ini mulai dari kakek-nenek saya. Tapi, saya mulai menekuni tahun 2002. Saya dibantu oleh istri dalam proses produksi gerabah. Utamanya pada cowek (cobek, Red),” ujar suami dari Siti Kholila, 35, tersebut.
Dengan tangan berlumuran tanah liat, Muhammad memutar vas bunga yang hendak dibuatnya di meja. Di tahun 2002, pemasaran masih dilakukan dengan cara menjajakan keluar Besuk. Bahkan dia juga pernah memasarkan kerajinan berupa cobek sampai ke Besuki, Situbondo.
“Paling sering ke daerah barat, misal ke Mayangan dan desa lainnya daerah barat Probolinggo,” ujarnya sembari meletakkan hasil kerajinannya untuk dikeringkan.
Saat itu dia hanya bisa memproduksi sekitar 30 cobek tiap harinya. Harga yang dibanderol tiap cobek hanya Rp 3 ribu. Saat menjajakan cobek, hasil yang didapatkan tidak pasti tiap harinya. “Kadang Rp 50 ribu tiap hari, kadang kurang. Itu masih belum dihitung bensin motor dan lainnya,” ujarnya mengenang.
Hingga tahun 2016, dia mendapatkan pelatihan melalui pemerintah desa setempat. Dari sanalah kerajinan gerabahnya mulai berkembang.
“Sejak diberi pelatihan dan langsung diterapkan. Usaha kerajinan milik saya mulai dilirik. Para konsumen mulai berdatangan, tidak hanya dari dalam, luar daerah pun banyak yang memesan hasil kerajinan gerabah ke sini,” ujarnya.
Menurutnya, pelatihan yang diberikan membuahkan hasil. Sebab, usai pelatihan, produksi gerabah yang dilakukan di tempatnya tidak hanya pada cobek saja. Namun, seperti vas bunga, guci, bak mandi, kursi, dan aksesori lainnya juga mulai dilakulan.
“Awal produksi pada jenis gerabah lain, misal seperti celengan dan sebagainya, langsung banyak diminati. Dari sanalah usaha saya berkembang,” ujarnya.
Pelatihan demi pelatihan mulai diikutinya. Bukan hanya skala lokal. Tapi sampai luar daerah seperti Malang dan Jogjakarta. Agar kualitas kerajinan gerabahnya semakin baik, dia juga melakukan studi banding ke Bali.
Ia menuturkan, saat ini usahanya tidak lagi kebingungan konsumen. Sebelumnya jika ia tiap hari harus menjajakan hasil kerajinan, maka setelah memproduksi jenis lain,kini konsumenlah yang datang ke tempatnya untuk memesan.
“Dari Jember, Lamongan, Madura, Pasuruan, Banyuwangi, dan Malang sudah banyak yang datang. Biasanya pesanan ada pada gentong es cendol dan guci. Selain itu, vas bunga dan celengan banyak juga diminati,” ujarnya.
Untuk harga yang dibanderol tiap jenis gerabah berbeda-beda. Tergantung tingkat kesulitan dan masa waktu pekerjaan. Mulai dari harga puluhan ribu hingga jutaan.
“Untuk guci, mengikuti ukuran dan tingkat kesulitan harganya ada yang Rp 750 ribu sampai Rp 2,5 juta,” ujarnya.
Dia menuturkan, usaha kerajinan gerabah ini menjadi ladang pendapatan utama dalam menafkahi keluarganya. Dari hasil usaha kerajinan ini, ia berhasil menyekolahkan anak-anak dan menafkahi istrinya.
“Alhamdulillah anak semuanya sekolah. Ya, hasil dari gerabah ini. Dari usaha kerajinan ini saya dapat memondokkan dan menyekolahkan anaknya,” ujar pria yang memiliki 4 anak tersebut.
Saat ini ia tergabung dalam kelompok perajin gerabah Gerbek (Gerabah Cowek) Desa Alaskandang, Besuk. Menurutnya, adanya kelompok ini juga menjadi salah satu upaya dalam pengembangan usaha gerabah lainnya yang ada di sekitar desanya. Jika dia mendapat pesanan yang tidak mampu diselesaikan oleh keanggotaan, maka pesanannya juga akan diberikan kepada keanggotaan lainnya.
“Jadi saling mendukung satu sama lain,” ujar pria lulusan SDN Alaskandang tersebut. Dari hasil usahanya tersebut, ia saat ini memiliki puluhan pekerja yang setiap harinya memproduksi gerabah.
Bahkan, kini usahanya sering dikunjungi pelaku UMKM, siswa, hingga mahasiswa dari dalam daerah maupun luar daerah. “Puluhan sekolah dari Kabupaten Probolinggo sudah sering sekali datang ke sini untuk mendapatkan edukasi pembuatan gerabah yang baik dan benar. Beberapa waktu lalu murid dari Kabupaten Sumenep yang datang untuk mengetahui proses pembuatannya. Ya kami sambut dengan senang hati dan diberi penjelasan serta praktik. Datang ke sini siap-siap saja untuk kotor-kotoran di sini,” ujarnya. (fun) Editor : Jawanto Arifin