RIZAL FAHMI SYATORI, Gempol, Radar Bromo
Sudah ratusan kendang dibuat Bedjo Santoso. Dia lupa berapa jumlah pastinya. Namun, perkiraannya sekitar 150 kendang.
Lelaki 53 tahun, warga Dusun Karang Nongko, Desa Jeruk Purut, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, itu sudah lama membuat kendang. Sejak 2004, artinya sudah 17 tahun.
“Kalau ditotal sekitar 150 kendang telah saya buat selama ini. Mulai dari ukuran kecil, sedang, hingga besar,” ujar bapak dua anak ini.
Kendang buatannya pun tidak hanya dikenal di Pasuruan dan Jawa. Namun, terjual sampai ke Bengkulu dan Lampung.
Bedjo sendiri sebenarnya ‘terpaksa’ membuat kendang. Dia sebenarnya seorang pemain kendang di seni pertunjukan. Bertahun-tahun Bedjo menjadi penabuh kendang reog, ludruk, jaranan, dan sejumlah seni pertunjukan lain.
Tak heran, dia pun mempunyai banyak kendang. Karena kendang-kendang miliknya sering dipakai, ada kalanya sejumlah kendang rusak. Atau tidak lagi merdu suaranya.
Kalau sudah begitu, Bedjo biasanya menyervis kendang-kendang miliknya ke tukang servis kendang. Namun, saat itu tidak mudah mencari tukang servis kendang.
Bedjo pun akhirnya mencoba untuk memperbaiki kendang-kendang miliknya yang rusak. Berbekal nekat dan semangat, ternyata usahanya berhasil.
Sejak saat itu, dia tidak lagi mencari tukang servis kendang. Semua kendang miliknya yang rusak diperbaikinya sendiri.
Setelah merasa cukup bisa memperbaiki kendang, Bedjo mulai berangan-angan membuat kendang sendiri. Maka pada tahun 2004, dia pun kembali mencoba peruntungan. Belajar otodidak membuat kendang, sampai akhirnya berhasil.
“Awalnya coba-coba membuat kendang dengan belajar otodidak. Lama kelamaan bisa. Akhirnya saya putuskan memproduksi kendang sendiri di rumah,” katanya.
Bedjo pun memproduksi kendang beragam bentuk. Mulai kendang Jawa Timuran, Jawa Tengahan. Bahkan, juga kendang untuk pencak silat, reog, dan lain sebagainya.
Bahan yang biasa dipakai yaitu kayu nangka. Kadang-kadang, dia juga menggunakan kayu mangga kopyor dan slobin.
“Paling bagus untuk membuat kendang itu pakai kayu nangka. Kalau tidak ada, alternatif lain yaitu kayu mangga kopyor dan slobin,” lanjutnya.
Satu kendang bisa diselesaikannya dalam waktu tiga hari atau lebih. Cukup lama. Sebab, membuat kendang hanya dilakukannya saat ada waktu luang. Sepulang kerja di sebuah pabrik tekstil di Desa Kepulungan, Kecamatan Gempol. Atau saat libur kerja.
Kendang yang dibuat pun memiliki ciri khas tersendiri. Di antaranya, pelitur warna cokelat tua. Kecuali pemesan minta warna lain, maka Bedjo pun akan memilih warna sesuai pesanan.
Kekhasan yang lain, janglet kendang memakai bahan kulit. Lalu, bagian yang dipukul pada ujungnya juga memakai kulit. Bukan berbahan mika.
Saat ini, kendang produksinya banyak dipakai oleh sejumlah grup seni pertunjukan. Mulai grup reog, pencak silat, campursari, wayang kulit. Termasuk beberapa sanggar.
Bahkan, Bedjo tidak hanya dikenal sebagai pembuat kendang. Namun, juga tukang servis kendang. Karena itu, dia mempunyai banyak pelanggan. Tidak hanya mereka yang ingin membeli kendang. Namun, juga banyak yang datang untuk memperbaiki kendang.
Bedjo pun tidak pernah menolak, meski kini dia lebih dikenal sebagai pembuat kendang. Pengalamannya akan sulitnya mencari tukang servis kendang, membuat Bedjo tidak hanya fokus memproduksi kendang. Dia juga tetap menerima permintaan servis kendang.
Satu buah kendang harganya beragam. Mulai Rp 900 ribu sampai Rp 3 juta. Tergantung jenis, ukuran, dan bahan yang diminta.
Bedjo pun berkeinginan untuk terus membuat kendang. Sebab, kendang sudah menyatu dengan hatinya dan melewati berbagai masa. Mulai penabuh kendang seni pertunjukan, tukang servis, hingga pembuat kendang.
“Ini juga hobi bagi saya. Selain tentu saja bisa menghasilkan uang,” katanya. (hn) Editor : Jawanto Arifin