Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Pendapa Surga Surgi Lebih Berwarna dari Kreasi Lukisan Warga Binaan

Jawanto Arifin • Rabu, 26 Mei 2021 | 00:00 WIB
WARGA BINAAN: Eddy saat melukis mural di pendapa Surga Surgi. Nampak Wali Kota Pasuruan Siafullah Yusuf melihat dia melukis. (Foto: M Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)
WARGA BINAAN: Eddy saat melukis mural di pendapa Surga Surgi. Nampak Wali Kota Pasuruan Siafullah Yusuf melihat dia melukis. (Foto: M Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)
Eddy Tato pernah punya usaha jasa lukis bak truk. Sebelum akhirnya terjerat kasus narkotika. Di pertengahan masa pidana yang dijalani sekarang, dia berkesempatan melukis mural di ruangan Pendapa Surga-Surgi, rumah dinas Wali Kota Pasuruan.

--------------

AIR mukanya cukup tegang. Sorot matanya yang tajam mengikuti semburan cat dari spray gun yang diayunkan tangan kanannya ke sana kemari. Seolah ingin memastikan lukisan muralnya sempurna, tak sedikit pun celah terlewat dari semburan cat itu.

Saat itu, Eddy Tato –sapaannya– tengah menuntaskan lukisan Masjid Agung Al Anwar Kota Pasuruan. Dalam lukisan muralnya, ia juga memberi keterangan tempat ibadah umat muslim yang berada di pusat Kota Pasuruan itu berdiri pada 1759.

Lukisannya memang sudah jadi. Sudah terlihat jelas bangunan masjid yang terdiri atas dua lantai. Lengkap dengan kubah dan menara. Namun, Eddy masih memainkan spray gun-nya.

Ia ingin memberikan penajaman di beberapa bagian bangunan yang dilukis. Agar terkesan lebih nyata. Misalnya satu sisi kubah diberi bayangan lebih tajam dari sisi yang lain. Kemudian, bagian dalam masjid yang terlihat dari serambi, dibuat dengan bayangan lebih gelap.

Tidak hanya masjid tertua di kota santri yang dia jadikan lukisan mural. Beberapa bangunan ikonik Kota Pasuruan juga ia hadirkan dalam bentuk dua dimensi.

Ada tugu kota yang berada di tengah alun-alun. Kemudian, suasana Pelabuhan Pasuruan pada 1910, pabrik gula, gedung kesenian, dan lainnya. Semua itu ia lukis di dinding ruang tamu Pendapa Surga-Surgi, rumah dinas Wali Kota Pasuruan.

Tidak butuh waktu lama bagi pria kelahiran Sidoarjo itu untuk melukis bangunan-bangunan itu. Meski dia sendiri tak akrab betul dengan bangunan yang dilukis.

Eddy hanya perlu waktu untuk mengamati bangunan yang akan dilukis melalui gambar yang dicetak di kertas. Ia cermati betul tiap sudut bangunan. Selanjutnya, baru dibuat sketsa di dinding.

“Sebelum dicat pakai pensil dulu untuk sketsanya. Supaya lebih mudah membuat gambar sesuai aslinya,” kata pria pemilik nama asli Eddy Siswanto itu.

Tidak ada peralatan lain yang dia pakai untuk membuat sketsa. Kalau pun perlu menggambar dengan presisi yang tajam, dia mengambil penggaris. Selama menggambar sketsa, dia juga sudah punya angan-angan bagian mana saja yang perlu dipertajam, diberi bayangan gelap dan terang. “Setelah sketsanya selesai langsung dicat,” jelasnya.

Cat yang digunakan hanya warna cokelat solid. Namun, karena memakai spray gun, Eddy harus benar-benar jeli dalam memberikan semburan warna.

“Jadi hanya main di penajaman. Ada yang dibuat gelap, ada yang dibuat terang. Biar terlihat nyata,” ungkapnya.

Lukisan yang dihasilkan juga cukup nyentrik. Kesan vintage begitu kuat.

“Untuk lukisan di ruangan ini saya selesaikan dalam waktu dua hari,” beber pria 45 tahun itu.

Tentunya, Eddy tak sendirian. Dia dibantu tiga orang temannya yang juga warga binaan. Namun untuk lukisan, Eddy sendiri yang menggarapnya.

Sebelum berurusan dengan hukum karena kasus narkotika, Eddy memang memiliki keahlian di bidang seni. Dia pernah menjual jasanya melukis bak truk. Dalam sehari, dia bahkan mampu melukis 17 bak truk sekaligus. Omzetnya juga lumayan. Mencapai puluhan juta rupiah.

“Sejak kecil memang senang menggambar,” kata dia. Selama menjadi warga binaan di Lapas IIB Pasuruan, Eddy juga yang mengubah suasana penjara itu menjadi lebih manis. Lukisannya menghiasi hampir seluruh sudut Lapas. Mulai dari tembok pagar, lorong jalan, hingga aula. Termasuk kaligrafi di masjid lapas.

“Karena sudah terbiasa, jadi tangan ini rasanya gatel kalau nggak melukis,” kelakarnya.

Dia beruntung, keahliannya melukis diberi ruang lebar oleh pihak lapas. Dia pernah melukis potret Wali Kota Pasuruan Saifullah Yusuf dalam bentuk sketsa.

Dan kini dia diminta melukis mural di Pendapa Surga Surgi, rumah dinas Wali Kota Pasuruan. Pendapa yang diresmikan pada 7 Februari 2018 itu pun jadi terasa lebih hidup.

“Kemarin itu kan hanya lukisan sketsa. Sebenarnya memang ingin diminta melukis secara langsung. Ternyata hari ini keinginan itu kesampaian. Saya diundang langsung untuk melukis pedapa. Ini membanggakan bagi saya yang hanya seorang warga binaan,” katanya.

Wali Kota Pasuruan Saifullah Yusuf mengaku sengaja meminta Eddy untuk menuangkan kreasinya di rumah dinas. Sebagai bentuk apresiasi kepada warga binaan. Gus Ipul ingin menunjukkan bahwa orang-orang yang terjerat kasus hukum tak bisa dipandang sebelah mata.

“Mereka juga punya bakat, keahlian, dan potensi yang mungkin tidak semua orang memiliki. Makanya saya ajak Mas Eddy berkarya di sini untuk menginspirasi orang lain. Harapan saya, dia bisa mengembangkan bakatnya setelah selesai menjalani masa pidana nanti,” beber Gus Ipul, panggilannya.

Gus Ipul juga yang meminta Eddy melukis bangunan-bangunan ikonik di kota dari masa ke masa. Karena Pasuruan memang tergolong kota tua. Pernah dikenal sebagai pusat perdagangan dan jasa.

“Yang itu bisa dibuktikan dengan peninggalan-peninggalan yang hingga sekarang masih tampak. Dalam lukisan ini kita bisa tahu gambaran Kota Pasuruan di tahun 1700, 1800, hingga 1900,” beber Gus Ipul.

Dia berharap, sosok Eddy Tato bisa menginspirasi anak-anak muda Kota Pasuruan untuk terus berkreasi. Secara terbuka, dia juga mengajak seluruh anak muda kota untuk menuangkan kreasinya dalam bentuk yang positif. Misalnya dengan membuat mural di sudut kota yang berisi pesan-pesan kebaikan.

Selama ini, tidak sedikit tembok-tembok di tepi jalan kota yang dicorat-coret tanpa makna. Bahkan, cenderung berisi cacian. Aksi vandalisme ini yang justru merusak keindahan kota. Mengganggu pemandangan.

“Kami ingin mengajak anak-anak muda untuk meramaikan kota dengan pesan-pesan yang inspiratif dan mengajak kebaikan. Jadi apa yang ada di sekitar kita bisa dimanfaatkan untuk memiliki nilai tambah,” tegasnya. (tom/hn/fun) Editor : Jawanto Arifin
#pendapa surga surgi #pendapa kota pasuruan