Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Jika Hafalan Najwa Fauziah Sedikit, Maka Uang Jajan Ikut Berkurang

Jawanto Arifin • Kamis, 22 April 2021 | 23:00 WIB
WISUDA: Najwa Fauziah bersama ayah dan ibunya saat wisuda tahfiz 30 juz di Ponpes Putri Hidayatul Mubtadiat Al Qur
WISUDA: Najwa Fauziah bersama ayah dan ibunya saat wisuda tahfiz 30 juz di Ponpes Putri Hidayatul Mubtadiat Al Qur
Enam tahun adalah usia Najwa Fauziah saat mulai menghafal Alquran. Dia begiti termotivasi KH Mas Yudi dan dan HJ Umi Hafsah, yang merupakan kakek dan neneknya.

----------------------

LINGKUNGAN yang kental dengan agama inilah membuat Najwa Fauziah, 14, mulai menghafalkan Alquran saat masih kecil. "Lancar membaca Alqurannya sejak umur 4-5 tahun. Mulai menghafal sejak umur 6 tahun," ujar Ning sifaul Millah, ibunda Najwa Fauziah.

KH Mas Yudi dan dan HJ Umi Hafsah, adalah perintis pondok pesantren Daarut tauhid Desa tanjungsari, Kecamatan Krejengan. "Motivasinya dari kakek dan nenek yang juga hafal Alquran. Bahkan, semasa almarhum kakeknya masih hidup pernah menyetor hafalan terhadap kakeknya. Lantaran lingkungan mungkin ya, makanya minat untuk menghafal Alquran ada," ujar istri dari Gus Agus Fauzy, ayah Najwa Fauziah.

Dari usianya 6 tahun hafalan Alquran terus ditingkatkan oleh anak pertama dari Ning syifaul Millah ini. Hingga pada umur 11 tahun kurang lebih sudah menghafal 7 juz dalam Alquran.

"Ddari kecil itu memang sudah sering setor hafalan, kadang ke saya. Kalau masih ada almarhum kakeknya, ya ke kakeknya. Saat masih kecil setoran dilakukan dengan sistem one day ayah, jadi setiap harinya satu ayat," ujar ujarnya sembari melirik Najwa Fauziah yang berada di sampingnya. Dia tersenyum bangga melihat anaknya.

Lantaran memiliki semangat yang tinggi dalam menghafal Alquran, pastilah ada rasa bosan, jenuh, yang dapat menurunkan semangat. Ibunda Najwa Fauziah memiliki beberapa trik dalam menjaga ritme semangat anaknya untuk terus menghafalkan Alquran.

"Ini masuk dalam metode untuk menghafalkan agar anak bisa terus semangat. Jadi, setiap setoran pada waktu itu, saya ganti dengan uang jajan tiap harinya. Sehingga apabila setorannya berkurang, maka uang jajannya pun berkurang,"ujarnya.

Photo
Photo
MASIH BELASAN TAHUN: Najwa Fauziah bersama sang ibunda. (Foto: Dok. Pribadi)

Metode-metode tersebut dirasa perlu untuk membangun kecintaan kepada Alquran. Sehingga saat ini, apa yang dilakukannya dengan apa yang diberikan-nya terhadap anaknya sudah terbayar lebih besar.

Selain itu menurut ibunda Najwa ini, anaknya memiliki sesuatu yang unik Di mana saat melangsungkan hafalan dapat dilakukan di mana saja.

"Misal saat makan hafalan bisa dilakukan, saat diajak ngobrol atau berbincang, dia juga bisa menghafalkan. Malah, saat dia sendirian menghafalkan, Najwa ini ini lebih sering melamun, sehingga sulit untuk menghafalkan," ujarnya.

Pada tahun 2017 Najwa mulai masuk ke pondok pesantren yang ada di Lirboyo. Yakni pondok pesantren putri Hidayatul mubtadiat Al quraniyah (P3HMQ) Lirboyo Kediri.

"Saat mondok dari sanalah hafalan yang dilakukan diulang lagi dari pertama. Nah pada 2019, hafalannya sudah tuntas keseluruhan. Hingga pada 2020 wisuda pun dilakukan,"ujarnya.

Dengan sedikit berkaca-kaca, Sifaul Millah sangat berterima kasih terhadap anaknya. Sebab orangtuanya atau kakek Najwa, berkeinginan memiliki cucu yang menjadi seorang tahfiz. Di samping itu mendukung anaknya menjadi seorang hafizah menurutnya langkah yang tepat.

"Karena putra pertama saya ini adalah wanita, sehingga menjadi profesi lainnya bisa saat berumah tangga. Ibu bisa menjadi chef, akuntan dan sebagainya. Bahkan profesi lainnya juga bisa dilakukan oleh 1 orang, yaitu ibu," ujarnya.

Najwa Fauziah saat masih di pondok dirinya sangat senang menghafalkan Alquran di musala. Selain itu di lantai 4 Ia juga sering melakukan hafalan. Saat dirinya sedang jenuh dan tidak semangat dalam menghafal, ayah dan ibundanya menjadi alasan untuk terus menyelesaikan hafalan.

"Ingat sama Abah dan Umi, jadi semangat lagi. Saya sangat ingin membahagiakan orang tua," ujar perempuan yang saat ini duduk di bangku kelas 1 madrasah Aliyah Daarut Tauhid tersebut.

Perempuan yang hobi membaca ini, memiliki keinginan untuk nantinya menjadi hafizah pendakwah sekaligus enterpreneur. Terlihat dari ulama yang di figurnya yaitu ustad Yusuf Mansur beserta anaknya. (agus faiz musleh/fun) Editor : Jawanto Arifin
#hafiz probolinggo #penghafal quran