Hutan identik dengan situasi yang menyeramkan dan liar. Kesan itu muncul karena kondisi hutan yang tidak terawat. Akibatnya, jarang dikunjungi manusia, sehingga menjadi habitat binatang liar. Tidak hanya itu, tanaman juga tumbuh subur tak terawat menjadikan orang ogah berkunjung.
Hal ini bertahap dihilangkan oleh Pengelola Wisata Hutan Jati Raya (WHJR), Desa Liprak Kidul. Mereka menyulap hutan jati di Dusun Alas, menjadi wisata alternatif yang mampu menjadi magnet bagi pengunjung. "Wisata ini lahan Perhutani. Kami sudah meminta izin untuk mengelola menjadi wisata. Dan hal tersebut mendapat respons baik," ujar pengelola WHJR sekaligus Direktur BUMDes Desa Liprak Kidul, Hamid.
Wisata ini memiliki konsep edukasi wisata. Memberikan wawasan terkait fungsi hutan jati. Sekaligus mengetahui pohon jati yang selama ini hanya diketahui berupa kayu untuk bahan baku mebel dan bangunan. “Luas lahan yang mendapatkan izin untuk dikelola seluas 5 hektare. Namun, saat ini yang dimanfaatkan masih belum separonya. Pengunjung bisa melihat langsung pohon jati di alam. Mengetahui wujud asli pohon yang selama ini banyak dipakai untuk mebel. Tentunya ini dapat menambah pengetahuan pengunjung," katanya.
Tidak hanya menawarkan edukasi wisata. Pengelola juga mencoba membaca peluang dengan memberikan fasilitas, berupa cafe outdoor yang beratapkan rindangnya daun jati. Suasana ngopi di tengah hutan menjadi ciri khas tersendiri yang mampu menarik banyak pengunjung. Situasi sekitar yang begitu tenang didukung udara yang sejuk, mampu membuat pengunjung terbuai. Tak mengherankan jika pengunjung dapat menghabiskan waktu berjam-jam dan bercangkir-cangkir kopi.
Untuk meningkatkan jumlah kunjungan, pengelola juga menambahkan beberapa fasilitas pendukung lainnya. Seperti gazebo yang bisa dimanfaatkan untuk bersantai, muala, kamar mandi, serta beberapa fasilitas bermain anak yang bisa dimanfaatkan saat pengunjung membawa anak-anaknya.
Luasnya lahan hutan jati yang bersih dan nyaman, menjadi tempat bermain anak. Anak-anak yang berkunjung dapat dengan leluasa berlarian kesana kemari. "Pengunjung yang datang tidak hanya pemuda. Ada juga yang berwisata sambil bersantai bersama keluarga. Jadi untuk menambah kenyamanan kami lengkapi secara bertahap fasilitasnya," ujar Hamid.
Dongkrak Ekonomi, WHJR Gandeng Warga Lokal
Wisata yang baru dirintis rupanya mendapatkan respons yang cukup baik dari warga. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya jumlah kunjungan ke WHJR. Demi memberikan pelayanan yang prima, pengelola menggandeng warga sekitar untuk turut serta menggerakkannya.
“Ada sekitar 13 orang yang sekarang tercatat aktif sebagai pengelola. Mereka sudah memiliki tugas masing-masing,” ujar Kepala Desa Liprak Kidul, Muhammad Ali.
Peranan pemuda dan warga sangat penting dalam menjalankan wisata yang baru dirintis. Termasuk dalam mendongkrak perekonomian mereka. Dari segi keamanan, masyarakat yang terlibat dalam pengelolaan, otomatis akan turut menjaga keamanan tempat wisata. Seperti, pengawasan tempat parkir dan di areal wisata.
Dari segi kemajuan unit usaha mikro yang dikelola masyarakat desa, wisata dapat dijadikan lapak untuk menawarkan produk yang telah dibuat. Mulai dari makanan dan minuman khas, hingga pernak-pernik atau kerajinan tangan yang dibuat untuk dipasarkan.
“Majunya wisata menjadi tonggak kemakmuran. Kami upayakan selalu berada dalam satu visi misi agar potensi yang telah dikelola bisa semakin berkembang," katanya.
Adanya tempat wisata ini juga mendapatkan dukungan dari Camat Banyuanyar, Imam Syafi'i. Pasalnya, manfaatnya sudah bisa dirasakan oleh warga. “WHJR diresmikan awal Maret lalu. Perizinan sudah beres. Tentunya untuk perkembangan lebih lanjut akan kami dukung, apalagi menyangkut masyarakat luas,” ujarnya. (ar/rud) Editor : Jawanto Arifin